Mengapa Zakat penghasilan Wajib Dikeluarkan

Para ulama berasumsi bahwa semua pendapatan yang didapat melewati penghasilan tertentu mesti dikenai zakat, khususnya bila sudah menjangkau nisab. Pada ketika Muktamar Internasional Pertama mengenai zakat di Kuwait (29 Rajab 1404 H bertepatan dengan tanggal 30 April 1984 M) sudah sepakat mengenai wajibnya zakat penghasilan bilamana telah capai nisab, meskipun pesertanya bertolak belakang pendapat dalam teknik mengeluarkannya.

Hal itu didasarkan pada peraturan Al-quran yang mempunyai sifat umum yang mengharuskan semua harta guna dikeluarkan zakatnya. Landasan hukum keharusan zakat penghasilan ialah firman Allah dalam surat at Taubah ayat 103, al Baqarah 267 dan firman Allah dalam surat Adz dzaariyat ayat 19 : Artinya: “Dan pada harta-harta mereka terdapat hak guna orang kurang mampu yang meminta dan orang kurang mampu yang tidak mendapat bagian.”

Terlepas dari peraturan yang mengharuskan setiap penghasilan yang sudah menjangkau nisabnya untuk membayar zakat, anda sebagai umat muslim jelas memahami bahwa zakat bermanfaat untuk mensucikan harta, jadi tidak terdapat salahnya andai mengeluarkannya dari harta yang dimiliki

 

Kapan Pendapatan Kita Sudah Mencapai Nishab?

Dalam peraturan diatas ditetapkan wajib untuk setiap penghasilan membayar zakat andai sudah menjangkau nisabnya. Lalu kapankah penghasilan kita sudah menjangkau nisab? Nisab zakat penghasilan tersebut setara dengan 520 kilogram beras. Jadi bila harga beras contohnya Rp10.000 per kilogram, maka nisab zakat penghasilan merupakan:

520 X 10.000 = Rp 5.200.000 per bulan.

Jika pendapatan Anda telah dapat nisab itu maka zakat penghasilan yang dikeluarkan adalah2,5% dari total penghasilan seseorang yang sudah menjangkau nisabnya.

Bagaimana Cara Menghitung Zakat penghasilan?

Berdasarkan keterangan dari ulama Yusuf Qardhawi, perhitungan zakat penghasilan dapat dibedakan melewati dua teknik yaitu:

 

  1. Secara langsung

Metode ini, zakat dihitung 2,5% dari pendapatan kotor secara langsung, setelah pendapatan diterima. Misalnya seseorang memiliki penghasilan Rp 6.000.000 masing-masing bulan, maka zakat yang wajib ditunaikan adalah:

2.5% X Rp6.000.000 = Rp150.000 per bulan atau Rp1.800.000 pertahun.

Cara penghitungan zakat ini sesuai untuk semua karyawan yang masih single, sebab tidak mempunyai tanggungan atau tanggungannya kecil.

 

  1. Setelah Memenuhi Kebutuhan Pokok

Untuk cara yang kedua pendapatan dicukur terlebih dahulu dengan keperluan pokok, baru lantas dizakatkan. Jadi bila gaji seseorang Rp6.000.000 dengan pengeluaran Rp2.000.000, maka yang diharuskan membayar zakat penghasilan ialah Rp4.000.000, yaitu:

2.5% X Rp4.000.000 = Rp100.000 per bulan atau Rp1.200.000/pertahun

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *