Hoax Vaksin & Imunisasi

Hoax Vaksin & Imunisasi, foto Akhmad Muhaimin AzzetDulu pernah beredar informasi tentang keburukan vaksin & imunisasi. Sehingga, tidak sedikit yang membaca informasi itu percaya dan melindungi anak-anaknya jangan sampai tersentuh olehnya.

Akhir-akhir ini beredar informasi bahwa berita tentang keburukan vaksin & imunisasi itu meskipun disampaikan oleh sumber yang layak dipercaya, namun ditulis berdasarkan data yang sumber awalnya adalah hoax. Lalu, tidak sedikit pula yang membaca informasi bantahan ini percaya dan akhirnya tidak ragu lagi bahwa vaksin dan imunisasi itu baik dan bermanfaat.

Pertanyaannya: manakah yang benar? Informasi pertama atau kedua? Atau malah keduanya hoax?

Di sinilah saya jadi teringat apa yang pernah disampaikan para orangtua zaman dahulu dan sering disampaikan ulang oleh Cak Nun, yakni “ojo gumunan“. Jangan mudah terpukau oleh adanya informasi baru sebelum kita menelisik sumber dan kebenarannya. Sungguh, ini penting terutama di era internet ini, di mana informasi berseliweran dengan cepat dan tak jarang seseorang men-share begitu saja tanpa mempertimbangkan benar-tidaknya, bahkan tak jarang tanpa membacanya terlebih dahulu.

Di sinilah sesungguhnya kita mesti belajar pada semangat para ulama ahli hadits dalam agama yang lurus ini, betapa beliau-beliau begitu serius meneliti matan dan sanad sebuah hadits. Tidak hanya meneliti dari satu tempat dan satu sumber informasi, bahkan tak jarang berguru kepada ulama di kota dan negara lain.

Semangat untuk menggali sebuah kebenaran. Sungguh, inilah yang harus kita teladani dari para ulama kita.

Salam,
Akhmad Muhaimin Azzet

This entry was posted in Zaman Akhir and tagged , , . Bookmark the permalink.

23 Responses to Hoax Vaksin & Imunisasi

  1. Yang berat bagi kebanyak orang untuk mentiteni hingga dasarnya ya Kang ? jadi yang ada ikut-ikutan….

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Pak Indra Kusuma Sejati. Ini memang tidak mudah. Tapi, bila seseorang menilai sesuatu itu penting maka ada upaya untuk (setidaknya) mencari informasi yang seimbang.

  2. kecepatan dan bertaburnya informasi kerap membuat orang begitu mudah membagi informasi begitu saja tanpa kroscek ya Mas. Yang berbahaya bila menyangkut kesehatan dan pemahaman atau keyakinan.
    Anak saya yang pertama ikut imunisasi, sedangkan yang kedua tidak. Semoga pilihan kami benar.
    Mari menggali untuk menemukan sebuah kebenaran!

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Mas Belalang, bila menyangkut kesehatan atau pemahaman bahkan keyakinan, ini semestinya tidak begitu saja merujuk pada informasi yang kita belum jelas kebenarannya. Oke, mari menelusuri kebenaran.

  3. dani says:

    Saya juga bingung Pak Ustadz baca tentang imunisasi dan hal-hal yang berhubungan ini, mau ditelusuri lebih jauh lagi gak nyampe sepertinya ilmu saya. 🙁

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sesungguhnya saya juga bukan ahlinya, Mas Dani. Oleh karena itu, mari kita kumpulkan informasi, setidaknya mendapatkan berita berimbang, sehingga kita akhirnya cenderung kepada yang mana.

  4. Lidya says:

    kalau orang awam seperti say aini bagaimana cara mencari kebenarannya ya pak?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Dalam ihwal vaksin dan imunisasi ini sungguh saya juga termasuk orang awam, Mbak Lidya. Lalu bagaimana, setidaknya mari kita cari informasi yang berimbang, Mbak, untuk kemudian kita mohon agar diberi bimbingan oleh Allah Swt. untuk memilih dan atau bersikap yang tidak merugikan.

  5. jika tidak berasal dari Al Qur’an dan Hadist maka harus diteliti kebenarannya

  6. Ave Ry says:

    Sampai sekarang saya pun masih dibingungkan dengan info tentang vaksin pak. Disatu sisi, saya berpikir “Sebelum ditemukan vaksin imunisasi manusia aman2 saja, apalagi masyarakat di zaman kenabian, sehat semua.” Tapi lantas ada yang bilang, sekarang kan zamannya berbeda. Hmm, andaikan kita mempunyai patokan siapa yang bisa diikuti

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Di sinilah sesungguhnya kita perlu terus untuk mencari kebenaran, Mbak Ave Ry. Bila belum menemukan, setidaknya kita menahan diri dari mengatakan sesuatu yang kita sendiri belum memahaminya. Semoga ke depan kita menemukan kebenarannya.

  7. kania says:

    Alhamdulillah anak pertama lengkap imunisasi wajibnya. Anak kedua, saya termakan info imunisasi haram jadi ga lengkap imunisasinya 🙁 nyesel deh

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Tidak mudah memang ya, Mbak Kania, ketika mendapatkan informasi yang “seakan-akan” itu sudah benar. Pelajaran pentingnya adalah mari kita senang dalam mencari informasi pembanding, sehingga tidak hanya satu sumber. Lebih baik lagi bila mendapatkan informasi yang berimbang.

  8. susindra says:

    Harus lebih teliti jika menshare sesuatu. Jika tidak benar bisa jadi fitnah, mencelakakan orang, dan terburuk…. Menjadi jariyah keburuian. Kita mendapat soda tiap Ada yg melakukannya.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Nah, inilah sesungguhnya di antara pesan penting dari tulisan singkat yang saya buat ini, Mbak Susindra.

  9. Titik Asa says:

    Ini bahasannya pendek tapi mengundang perbincangan yg panjang Mas.
    Saya pernah baca buku berjudul Deadly Mist tulisan Jerry D. Gray. Buku itu mengungkapkan berbagai virus yg sengaja disebarkan untuk merusak kesehatan manusia. Saya lupa apakah vaksin dan imunisasi masuk kedalam kategori yg dibahas itu. Sepertinya saya mesti membaca ulang buku itu.

    Salam,

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wah, buku Deadly Mist tulisan Jerry D. Gray itu kao bisa ditemukan, Pak. Syukur nanti bisa berbagi kepada teman-teman blogger mengenai isinya di blog Pak Titik Asa.

  10. mandor says:

    Imunisasi adalah hasil olah pikir ilmiah yang sangat panjang. Informasi keburukan imunisasi pun harusnya disampaikan dengan cara ilmiah juga. Kalau hanya sekedar penelitian dari harvard, nganu, ina inu, tanpa tahu kejelasannya, harus disangsikan kebenarannya.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Nah, mestinya cara berpikirnya juga berimbang demikian ya, Mandor. Saya setuju itu. Jadi, dalam masyarakat yang terdidik, mestinya sudah tidak ada lagi yang mengambil kesimpulan dari “katanya” yang belum jelas sumbernya.

  11. Mugniar says:

    Yang memberitahu bahwa ada yang hoax …. itu harus kita selidiki juga, hoax atau bukan ya Mas Azzet. Dan ilmu untuk menyelidiki yang seperti ini tidak mudah juga, kita sebenarnya tidak punya.

    Kalau pengalaman saya sendiri, bungsu saya tidak diimunisasi. Hanya sekali saja, waktu baru lahir: BCG. Itu pun dengan anehnya, sehabis imunisasi, vaksinnya meleleh keluar dari bekas suntikannya berupa cairan kekuningan.

    Alhamdulillah kesehatannya baik2 saja, kami hanya memberikan hal2 lain utk ketahanan fisiknya 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Mbak Mugniar, tidak mudah memang untuk menyelidiki informasi itu hoax atau tidak. Akan tetapi, setidaknya kita bisa mencermati informasi yang dibawanya, syukur jika kita mendapatkan informasi yang berimbang, sebagai bahan untuk menyimpulkan.

      Terima kasih banyak ya, Mbak, telah singgah kemari.

  12. sutopo says:

    wah mkasih mas informasinya..
    sangat bermanfaat dan bisa menambah wawasan saya khususnya dalam ilmu kesehatan
    salam
    sutopo blogger jogja