Kecerdasan Spiritual Tidak Berhubungan dengan Agama?

Akhmad Muhaimin Azzet mengaji bersama AjiSeseorang dinilai mempunyai kecerdasan spiritual apabila ia mampu memberikan makna dalam kehidupan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa spiritual berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani atau batin). Jadi, siapa pun dia, pemeluk agama yang taat atau bahkan seorang ateis, kalau mampu memberikan makna dalam kehidupannya, sehingga jiwanya mengalami kebahagiaan, berarti telah mempunyai kecerdasan spiritual.

Kecerdasan spiritual tidak berhubungan dengan agama, melainkan berhubungan erat dengan kejiwaan seseorang, demikian disimpulkan oleh banyak ahli psikologi dalam bidang ini. Jadi, tidak benar jika kecerdasan spiritual diartikan sebagai orang yang rajin melakukan ibadah, aktif datang ke sebuah pengajian, atau segala hal yang menyangkut agama.

Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat para ahli tersebut. Ya, memang benar bahwa orang yang tidak mempermasalahkan Tuhan, namun bisa berbuat baik kepada orang banyak, sehingga jiwanya mengalami kebahagiaan, adalah termasuk ciri orang yang mempunyai kecerdasan spiritual. Sebaliknya, orang yang rajin beribadah dan taat kepada Tuhan, namun ia tidak bisa menemukan makna dalam kehidupannya, sehingga tidak bisa merasakan kebahagiaan, adalah termasuk ciri orang yang tidak mempunyai kecerdasan spiritual.

Namun, meskipun saya setuju dengan contoh yang disebutkan di atas, bukan berarti saya setuju sepenuhnya jika kecerdasan spiritual dikatakan sama sekali tidak berhubungan dengan agama. Menurut saya, berhubungan secara langsung memang tidak, karena kecerdasan spiritual terkait erat dengan kejiwaan seseorang, namun harus diakui pula bahwa agama sangat erat hunbungannya dengan kejiwaan seseorang.

Dalam kehidupan manusia pada umumnya, ada sesuatu yang mendasar terkait dengan kejiwaannya, yakni keyakinan atau agama. Bila ia mengingkari agama, minimal dalam hati kecilnya tetap memercayai tentang sesuatu yang inti di dalam agama, yakni percaya adanya kekuatan di luar dirinya yang disebut sebagai Tuhan. Mendapati kenyataan yang seperti ini, menurut saya, dengan agama maka seseorang akan lebih mudah dalam mengembangkan kecerdasan spiritual.

Menemukan makna hidup memang bisa diperoleh dengan banyak jalan di luar agama. Kebahagiaan jiwa juga bisa ditemukan tidak harus melalui agama. Namun, menemukan makna hidup dan kebahagiaan jelas-jelas dapat ditempuh dan diperoleh dari sebuah agama. Itulah kenapa saya termasuk orang yang berani berkesimpulan bahwa orang-orang yang beragama dengan baik adalah orang-orang yang lebih mudah dalam menemukan makna hidup dan kebahagiaan. Sungguh, orang-orang yang demikian adalah orang-orang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang baik.

Contoh berikut semoga semakin menegaskan bahwa kecerdasan spiritual lebih mudah diperoleh bagi orang yang beragama. Kita mengetahui bahwa menolong atau memberikan sesuatu kepada orang lain dapat membuat seseorang merasa hidupnya bermakna hingga ia mengalami kebahagiaan. Namun, bila menolong atau memberikan sesuatu kepada orang lain itu didasari oleh perintah dari ajaran agamanya, bahwa ia menolong atau memberikan sesuatu kepada orang lain itu karena Tuhannya, maka seseorang akan mengalami tambahan semangat di luar motivasi asli yang ada di dalam hatinya, sehingga ia lebih merasa tanpa beban dan lebih merasa bersemangat dalam melakukan kebaikan tersebut.

Di dalam agama Islam, misalnya, bukankah kita juga mengetahui bagaimana jika seorang Muslim telah terbakar spiritnya oleh ajaran berjihad. Jangankan harta dan benda, bahkan nyawa pun akan diberikan dengan semangat perjuangan untuk membela agama Allah jika agama Islam yang dipeluknya diserang oleh orang kafir. Inilah sebuah kecerdasan spiritual yang luar biasa karena disandarkan kepada keyakinan yang melekat di dalam jiwanya, yakni sebuah agama.

Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak-anak

Agar anak-anak kita mempunyai kecerdasan spiritual yang baik, marilah kita bimbing anak-anak kita untuk menjadi pemeluk agama yang baik pula. Pemeluk agama yang baik tidak hanya melakukan ketaatan kepada Tuhan, memperbanyak amal ibadah, namun juga mengiringi kesalehannya dengan ajaran dan pemahaman agama secara baik pula. Inilah cara yang sangat penting agar setiap perilaku seseorang dalam beragama berangkat dari sebuah kesadaran yang berada dalam jiwanya.

Anak-anak sangat perlu dikenalkan kepada agama semenjak usianya masih dini. Meskipun ketika masih kecil anak-anak belum bisa untuk memahami agama dengan baik, namun pembiasaan ini sangat penting agar jiwa anak-anak dekat dengan Tuhannya. Memang ada sebagian orangtua yang berpendapat bahwa anak kecil tidak perlu diajak beragama dahulu, dalam arti tidak perlu diajak beribadah sebagaimana orang dewasa, di samping karena ia belum berkewajiban juga karena memang belum mengerti. Namun, menurut saya, pembiasaan sejak dini itu sangat penting sekali. Seiring dengan bertambah usianya, maka pengertian dan pemahaman agama kita berikan sedikit demi sedikit kepada anak-anak kita.

Pembaca yang budiman, memberikan pemahaman terhadap ajaran agama dengan baik, sehingga perilaku seseorang dalam beragama berbanding lurus dengan kesadaran yang ada dalam jiwanya, adalah langkah penting agar orang-orang yang beragama sejalan dengan ajaran agamanya. Selama ini, kita sering sedih ketika melihat orang yang tampak taat dalam beribadah, namun mau melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama, misalnya korupsi.

Orang yang tampak taat dalam melakukan ajaran agama, namun perilakunya di sisi lain bertentangan dengan ajaran agama yang dipeluknya adalah orang-orang yang tidak mempunyai kesadaran dan pemahaman yang baik dalam beragama. Orang yang demikian, yang beragama hanya lisannya saja yang digunakan untuk mengakui diri sebagai orang yang beragama, membaca kitab suci, dan menyebut nama Tuhan; yang beragama hanya anggota tubuhnya saja yang dipakai untuk beribadah; tanpa melibatkan hati, jiwa, atau batinnya yang beragama.

Orang yang beragama, menurut saya, semestinya melibatkan dua hal yang penting dalam dirinya, yakni lahir dan batin. Melakukan ajaran agama, baik itu mengakuinya secara lisan maupun melakukan beribadah dengan perbuatan, barangkali sudah dikatakan benar secara syariat. Akan tetapi, bila ditinjau dari sisi hakikat, hal ini belum sempurna bila tidak dibarengi dengan kesadaran batinnya. Itulah kenapa di dalam Islam, menurut Nabi Muhammad Saw., meniatkan diri dalam beribadah merupakan persoalan pertama dan penting yang harus dilakukan oleh seseorang. Sebab, niat adalah upaya pertama bagi seseorang untuk membangun kesadaran di dalam batinnya bahwa ia akan melaksanakan ajaran agama atau beribadah. Mulai dari niat inilah sesungguhnya kecerdasan spiritual mulai dibangun oleh seseorang ketika akan melaksanakan ajaran agama.

Inilah tantangan bagi kita, sebagai orangtua, untuk bisa terus memberikan bimbingan dan pembiasaan baik dalam beragama bagi anak-anak kita. Di samping bermanfaat dalam mengembangkan kecerdasan spiritual anak-anak kita, juga dengan beragama semoga kita bersama keluarga dapat memperoleh keselamatan, kebahagiaan, dan kasih sayang dari Tuhan, tidak hanya untuk kehidupan di dunia, tetapi juga demi kehidupan yang abadi di akhirat kelak.

Demikian tulisan sederhana ini semoga bermanfaat bagi kita bersama.

Salam keluarga bahagia,
Akhmad Muhaimin Azzet

This entry was posted in Pendidikan and tagged , , . Bookmark the permalink.

61 Responses to Kecerdasan Spiritual Tidak Berhubungan dengan Agama?

  1. nh18 says:

    Saya bukan ahlinya …
    namun demikian … menurut pendapat dan logika saya …
    Agama turut andil dalam membentuk kecerdasan spiritual manusia.
    Pembentukan akhlak sejak kecil (yang saya rasa terutama didapatkan dari pelajaran Agama)(atau petuah berlandaskan agama dari orang tuanya) saya rasa turut serta memupuk kecerdasan spiritual ini …

    Salam saya

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Saya setuju banget dengan Om nh18. Betapa penting kecerdasan spiritual ini, lebih-lebih yang terkait erat dengan agama, untuk anak-anak kita. Terima kasih banyak nggih, Om.

  2. Pakies says:

    Saya pernah mendengar dari seorang Ustadz, kurang lebih begini; banyak orang bersusah payah mencerdaskan anaknya dengan berbagai kursus dan pelatihan agar anaknya cerdas dan berprestasi dan mereka melupakan kebutuhan rohaninya. Padahal, menurut Pak Ustadz seharusnya dibalik, bahwa terlebih dahulu anak harus cerdas secara spiritual dengan mendekatkan diri kepada Pembuat kecerdasan dan pemahaman. Semakin dekat dengan Alloh Ta’ala maka Insya Alloh akan dimudahkan dalam memahami ilmu pengetahuan apapun.
    Jadi ini sejalan dengan pemikiran Pak Azzet bahwa semua harus dibangun dari keshalihan diri terlebih dahulu.

    • Anton says:

      setuju banget dengan panjenengan pak Ies, juga dengan Ustadz Azzet…pondasi paling dasar utk anak menurutku ya harus cerdas scr spiritual dulu, baru yg lainnya ngikut… Tidak perlu risau kalo anak yg msh di TK belum bisa membaca huruf latin, tp harus risau kalo anak belum bisa membaca dan memahami huruf Hijaiyah, sbg dasar utk membaca Al Qur’an…

      • Akhmad Muhaimin Azzet says:

        Naah…, itu Pak Ies dan Mas Anton, sungguh saya setuju sekali. Betapa keshalihan itu penting sekali. Segalanya akan lebih mudah bila keshalihah yang bersumber dari keyakinan dan pemahaman agama yang baik yang menjadi inspirasi dan penggeraknya.

        Terima kasih banyak yaaa… telah singgah dan urun rembuknya.

    • hana says:

      setuju dengan kang pakis klo saya sih 🙂

  3. bagaimanapun kecerdasan spritual itu masih memiliki keterkaitan dangan agama ya pak ustadz.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya Ajo, menurut saya juga demikian. Sebab, pemaknaan erat kaitannya dengan jiwa atau dalam pemahaman agama tidak bisa dilepaskan dari wilayah ruhani.

  4. Mugniar says:

    Mas Azzet, saya pernah baca buku Kecerdasan Spiritual yang ditulis psikolog Danah Zohar dan Ian Marshall. DI dalamnya ada penelitian yang menunujukkan bahwa setiap orang punya kecenderungan pencarian ke arah spiritual. Tentang apakah itu nanti ia menemukan agama yang benar atau tidak, itu lain persoalan. Jadi ada sinyal dari sebuah bagian di otak yang keluar jika kepada ybs diberikan materi yang menyentuh perihal ketuhanan. Jadi pengertian spiritual di sini dan yang mas Azzet baca, memang dalam tataran umum. Karena memang semua orang punya kesadaran utk itu.

    Utk orang Islam, mengenai kecerdasan spiritual seharusnya mengaitkan pelajaran agama kita. Begitu seharusnya.

    Sy juga pernah membaca bahwa ada sebuah daerah di Eropa sana yang penduduknya hidup tenang dan damai. Semua rumah tak terkunci tapi tak pernah ada yang kecurian, tak ada tindak kejahatan di antara penduduk yang hidup sederhana itu. Mereka tak beragama Islam. Satu komentar yang saya baca di tulisan itu bahwa: mereka tak beragama Islam tapi mereka lebih islami dari orang Islam sendiri. Jadi boleh dibilang mereka punya kecerdasan spiritual yang bagus. Sy lupa di mana saya baca tapi itu tulisan dari seseorang yang biasa berdakwah di TV di awal tahun 2000-an.

    Jadi memang secara umum pengertian itu benar bahwa kecerdasan spiritual tak berkaitan dengan agama. Sementara untuk kita yang Islam, kita harus mengaitkan pendidikan spiritual dengan agama kita.

    Ini pendapat saya saja mas, mungkin bisa salah atau benar 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mbak Mugniar, artikel tersebut saya tulis setelah membaca tulisan Danah Zohar dan Ian Marshall. Saya setuju itu, meski tidak sepenuhnya, hehe… Dan, setelah membaca komentar Mbak Mugniar, naah… seperti itulah yang saya sependapat. Sungguh terima kasih banyak ya, Mbak 🙂

      • Mugniar says:

        Sama2 mas …
        Kalau mengaitkannya dengan mereka yang muallaf (ada yang dari belahan dunia mana yang awalnya tidak kenal Islam), pada akhirnya mereka dipertemukan dengan Islam dengan cara yang tak terduga, menunjukkan bahwa hidayah itu dakan datang kalau ybs memang benar2 mencarinya ya mas Azzet.

        Kalo mereka sudah merasa puas dengan pengalaman batinnya sebelum bertemu Islam maka di situlah mereka. Tapi mereka2 yang terus mencari .. subhanallah .. mereka bertemu Islam dengan cara tak terduga. Barusan ada berita pembuat film Fitna yang di Inggris itu yang dulu benci sama Islam, sekarang sudah menjadi muallaf .. subhanallah. Jadi pencarian spiritual – kecedasan spiritualnya berkembang lagi menuju yang lebih khusus: ISLAM.

        Kalo buat orang ISLAM sih sebenarnya apa2 harus sesuai konteks Islam ya mas Azzet. Mau itu kecerdasan emosional juga. Atau dalam bermuamalah juga … jadi kita sebenarnya tidak boleh terpisah dari Islam.
        Maaf komen kepanjangan hehehe

        • Akhmad Muhaimin Azzet says:

          Iya, Mbak, pencarian akan bertemu pada sumber kebenaran. Mengenai pembuat film itu, saya juga sudah mendengarnya pas masa haji kemarin.

          Yup, saya setuju, bagi orang Islam, semua-muanya memang tidak bisa dilepaskan dari Islam. Inilah cara beragama yang kaffah.

          Hehehe…, komentar panjang itu tidak salah kok, Mbak, jadi tak perlu minta maaf. Justru saya senang sekali mendapatkan tambahan ilmu.

  5. vizon says:

    Pemahaman yang sempit tentang agama, akan melahirkan paradigma yang membedakan antara kehidupan sosial dan agama. Ada semacam anggapan bahwa agama hanyalah masalah ritual atau ibadah semata. Padahal sesungguhnya, bukan demikian.

    Saya sangat setuju dengan yang Mas Azzet katakan, bahwa kecerdasan spiritual itu sangat berkaitan erat dengan pemahaman dan penghayatan akan agama. Dari kedua hal tersebut, seseorang akan mampu menjalankan kehidupan sosialnya berdasarkan petunjuk dari agamanya dengan baik..

    Tulisan yang sangat mencerahkan sekali Mas..
    Syukran

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terima kasih banyak, Uda Vizon. Dengan demikian orang yang mengaku beragama tidak melepaskan diri dari keshalihan sosialnya di samping taat beribadah di hadapan-Nya. Sebab, keduanya sama sekali tidak dapat dipisahkan. Harus nyambung. Hilang satu sisi maka tidak bernilai sisi yang lainnya. Maka, pemisahan paradigma sosial dan agama sesungguhnya aneh.

  6. Masih tetap percaya bahwa kecerdasan spiritual adalah hasil akhir dari kecerdasan beragama.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sama Mas Budi Nurhikmat, saya juga sangat percaya akan hal itu.

  7. perbedaan arti spiritual bagi ahli dan yg mengenal agama di indonesia memang sulit disatukan. Artinya memang padanan kata serapan spiritual adalah dari bahasa inggris. Jika dilihat pada mereka yg tinggal di luar indonesia spiritual dekat dengan kejiwaan dan membantu diri mereka sendiri serta sesama tanpa terkait agama. Banyak kata serapan salah arti yg sering kita gunakan, sehingga perbedaan pendapat cenderung meruncing.

    bagi saya sendiri, mengenal agama berarti cerdas spiritual. Jika hanya mampu menolong diri sendiri dan orang lain itu kecerdasan emosional. Dalam psikolog IQ dan EQ adalah tingkat yang masih dasar dalam hidup bermasyarakat. Karena tanpa SQ (spiritual question), IQ dan EQ cenderung bertabrakan. Semestinya anak diajarkan dulu mengenal siapa Tuhannya, apa makna agamanya, baru IQ dan EQnya bisa berjalan beriringan.

    sekedar berpendapat pak. hehehe.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terima kasih banyak ya, Mas Hanif Mahaldi, sungguh ini menurut saya buka sekadar berpendapat, tapi benar-benar berpendapat. Saya setuju itu, itulah barangkali salah satu pangkal masalahnya. Pemaknaan atas terminologi tersebut. Akan tetapi, terlepas dari hal tersebut, apa yang panjenengan di alenia kedua, sungguh saya sepakat. Sekali lagi, makasih banyak ya, Mas 🙂

      • wah, saya terharu dengan apresiasinya pak, iya, saya berpendapat begitu soalnya pernah berdebat dengan teman yg paham agama dan yg hanya berlandaskan logika. Walau akhirnya saya yg lebih merasa tumpul ilmu akhirnya (masih terus belajar tentang hidup).

        • Akhmad Muhaimin Azzet says:

          Sama-sama, Mas Hanif Mahaldi, agama memang bisa didekati dengan logika (addinu huwal aqlu). Tapi, persoalan agama tidak hanya persoalan logika. Ada keyakinan di dalamnya, sekaligus kesadaran yang mestinya menggerakkan.

  8. Saya juga tidak setuju bila kecerdasan spiritual tidak berhubungan dengan agama, bahkan hal ini merupakan pengejawantahan ilmu agama yang dapat diterapkan dalam kehidupan sosial dengan berani bersikap dan melakukan sesuatu hal yang lebih berguna, ynag bukan hanya mampu menghafal bahasa Tuhan tanpa mampu menerapkan lebih jauh dalam kehidupan. Kurang lebihnya seperti itu Pak. Mantap deh….. dengan kegiatan yang di lingkungannya.

    Salam

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Pak Indra Kusuma Sejati. Pemahaman bahwa agama bisa menjadi spirit bagi pemaknaan hidup menuju kebahagiaan inilah yang penting. Sehingga, kecerdasan spiritual memang erat kaitannya dengan agama. Sungguh terima kasih banyak ya, Pak, telah singgah ke blog sederhana ini.

  9. Muna Sungkar says:

    Agama sudah pasti membentuk kecerdasan spiritualitas.. Setuju. Kl kecintaan kepada d Allah sdh terbentuk dlm diri anak insyaallah kecerdasan lainnya mengikuti. Alhamdulillah skr sdh mulai byk ortu yg mengedepankan ajaran agama, termasuk sya. Gara2 anak sya sekolah di TK IT sya jd dpt tambahan ilmu baru… Sng deh bisa sama2 blj.
    Btw artikel yg keren pak ustadz 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Bila sudah demikian pemahamannya, maka agama adalah sumber dari berbagai kecerdasan yang ada ya, Mbak Muna Sungkar, apalagi kecerdasan spiritual. Saya setuju itu, Mbak. Makasih banyak ya 🙂 Salam hangat persaudaraan dari Jogja Istimewa.

  10. memang sepertinya dunia ini menjadi kebablasan..saat pengetahuan dicoba untuk dipisahkan dengan agama, sehingga kecerdasan spiritual pun dianggap tak ada hubungan dengan agama, bila demikian berarti kecerdasan spiritual dianggap tak ada campur tangan Tuhan dalam hal tersebut, karena agama berasal dari ajaran Tuhan yang dibawah oleh nabi-nabi pilihan-NYA….., bila memang kecerdasan spiritual tak berhubungan dengan agama (Tuhan), lalu darimana kah asal usul kecerdasan spiritual itu…kalo bukan dari Sang Khaliq….
    btw-jangan lupa ikutan GA ku ya… di http://hariyantowijoyo.blogspot.com/2013/10/masuk-neraka-siapa-takut.html salam 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Pertanyaan Pak Hariyanto ini sesungguhnya skakmat bagi upaya pemisahan antara ilmu pengetahuan dengan agama. Dalam konteks pemahaman Jawa ada istilah “sangkan paraning dumadi”. Ohya, soal ikut GA yang penting itu, semoga ini bisa segera diupayakan, Pak.

  11. aq gag tau banyak tentang kecerdasan spiritual…. tapi kalo mengenalkan agama sejak dini itu memang penting banget… tapi sayang sekarang banyak remaja yang memiliki pengertian agama yang kurang….

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Saya setuju sama Mas Sulthonul Mubarok, betapa mengenalkan agama sejak dini itu penting sekali. Semoga kesadaran ini dimiliki sekaligus dilakukan oleh para orangtua ya, Mas.

  12. kakaakin says:

    Memang terkadang ada perbedaan dalam menetapkan batasan2 definisi mengenai suatu istilah, karena sangat bergantung dengan substansinya. Saat kita berbicara mengenai definisi spiritual, mungkin harus aplikatif dengan istilah/frasa lain yang menggunakan istilah spiritual ini. Sedangkan istilah itu, dari yang berkembang di masyarakat kita selama ini, (hampir) tidak menyentuh ranah agama. Contohnya saja “Guru spiritual”, yang ternyata bukanlah seorang ustadz atau pemuka agama lainnya.

    Demikian pendapat saya, Pak 🙂
    *hadooh, muter2 aja pendapat saya. Haha…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Begitu ya, Mbak Kakaakin. Apalagi yang disebut guru spiritual belum paham segala ihwal yang terkait dengan hakikat spiritual. Nah Lho?! Hehe…. 🙂 Makasih banyak ya, Mbak, telah singgah kemari.

      Salam hangat dari Jogja.

  13. kang haris says:

    Ustadz, kadang saya berpikir bahwa kecerdasan spiritual tidak berhubungan dengan banyaknya ilmu agama. Karena terkadang yang banyak ilmu agamanya keindahan ahlaqnya tak benar-benar tampak dalam keseharian hidupnya. Tapi banyaknya ilmu agama memungkinkan orang untuk memiliki kecerdasan spiritual sangatlah besar 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Saya setuju dengan yang Kang Haris sampaikan bahwa banyaknya ilmu agama memungkinkan orang untuk memiliki kecerdasan spiritual lebih besar. Namun, kesemuanya itu seakan tak berhubungan sama sekali dengan kecerdasan spiritual bila pengetahuan agama seseorang tak dibarengi dengan pemahaman dan kesadaran dalam beragama di kehidupan sehari-harinya.

  14. NgeTekno says:

    saya setuju pak ustadz kalau kecerdasan spiritual ini tidak berhubungan dengan agama akan tetapi dari faktor psikolgis dan kejiwaan seseorang, Akan tetapi ada saja orang belajar di pondok tapi malah kelakuannya tidak menuntut kepada layaknya moral agama.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Nah, inilah yang saya sebut di atas sebagai orang yang mengetahui ilmu agama hanya sebagai pengetahuan semata. Padahal, agama bukan hanya untuk diketahui, tapi mestinya menjadi pemahaman dan kesadaran hidup. Agama semestinya menjadi sinar yang memberikan cahaya bagi setiap langkah pemeluknya.

  15. keke naima says:

    sy jg sependapat dengan Mas Azzet. Agama harusnya jd dasar utk membentuk kecerdasan spiritual

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mbak, terima kasih banyak. Semoga kita bersama keluarga termasuk orang yang mempunyai kecerdasan spiritual yang baik.

  16. Titik Asa says:

    Mas Azzet tercinta,

    Bahasan yg sederhana dan ringkasi namun menohok. Sementara orang banyak bicara ttg kecerdasan, namun unsur kecerdasan lain seperti kecerdasan spiritual ini rasanya paling buntut hadirnya.

    Apapun, semoga kita tidak melupakan, unsur paling dasar dari spiritual itu dibentuk dari agama apapun yg kita anut.
    Pendek lidah saya untuk berkomentar karena keterbatasan pengetahuan saya dlm bidang ini. Semoga juga komentar saya tidak melenceng dari pokok bahasan ini.

    Salam,

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terima kasih banyak, Pak Titik Asa. Iya, memang tidak sedikit sebagian kita, termasuk dunia pendidikan, betapa menjadikan kecerdasan intelektual sebagai tolok ujur keberhasilan. Padahal, masih ada kecerdasan yang lain, termasuk kecerdasan spiritul yang sesungguhnya lebih penting dan mempengaruhi secara utuh keberhasilan seorang manusia.

      • Lebih tepatnya harta dan pangkat sebagai tolak ukur keberhasilan sekolah seseorang.

        Rasulullah SAW sendiri mengatakan cinta keduniawian dapat mengakibatkan penyakit wahn, yang bisa disimpulkan mati nya spiritualitas seseorang.

        Budha gautama pun demikian, untuk mencapai pencerahan sempurna (tingkat kecerdasan spiritual) maka seseorang harus melepaskan keterikatannya kepada cinta duniawi.

        walaupun memiliki harta dan pangkat tidak dilarang, namun cinta harta dan pangkat bisa berakibat fatal terhadap spiritualitas seseorang, bukan begitu mas?

        • Akhmad Muhaimin Azzet says:

          Alhamdulillaah…, terima kasih banyak atas tambahan ilmunya, Mas Haikal Maulana. Iya, benar sekali, Mas. Memiliki harta dan pangkat tidak dilarang, tetapi mencintai kepadanya, apalagi berlebihan, sungguh ini sumber masalah.

  17. wHIZ says:

    Skripsi saya tentang SQ berbanding dengan TIngkat Produktivitas Karyawan…
    Dan hasilnya orang yang memeiliki Spiritual tinggi hidupnya aakan menjdi tenang dan kinerja semakin membaika, mudah nya begitu hhih..

    Thanks Pak Azzet atas tulisanya yang keren ini..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mas, mudahnya begitu. Dan memang demikianlah semestinya. Makasih banyak ya telah singgah kemari.

  18. “Seseorang dinilai mempunyai kecerdasan spiritual apabila ia mampu memberikan makna dalam kehidupan.” Sepakat dengan kaliamat pembuka ini. Saya teringat pendapat Dr. Sultan Abdulhameed dalam bukunya Mutiara Al-Quran yang menyatakan bahwa orang yang hanya sibuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan pribadinya tanpa memedulikan kepentingan orang lain merupakan orang yang belum matang secara spiritual. Secara analogis, orang demikian disamakan dengan anak kecil yang semuanya serba egosentris. Apa-apa untuk dia, dunia dan semesta ada untuk melayani dia. Orang lain tidak penting karena mereka ada hanya untuk menunjang teerpenuhinya kebutuhan dirinya. Begitulah pemikiran anak kecil. Sungguh picik orang semacam itu. Hidup tapi minim manfaat.

    Jika menilik akar katanya, bahasa Indonesia menyerap “spritualitas” dari bahasa Inggris, “spirituality”. Bahasa Inggris mengartikan ‘spiritual’ sebagai hal-hal yang berkaitan dengan jiwa manusia, bukan ragawi atau yang fisik. Bahasa Inggris ternyata meminjam kata itu dari bahasa Perancis kuno, “spirituel” yang juga diadopsi dari bahasa Latin “spiritus”. Spiritus berarti ‘napas, atau jiwa’ yang berasal dari spirare dengan makna ‘bernapas.’

    Dari asal muasal kata ini saya percaya bahwa spiritualitas memang tidak bisa dipisahkan dari manusia ibarat napas yang senantiasa menemani kita sehari-hari. Bernapas pun membutuhkan pasokan udara yang bersih dan berkualitas. Maka spiritualitas pun harus dibangun di atas sendi-sendi yang kokoh bernama agama. Menarik sekali contoh masyarakat yang disebutkan Mbak Mugniar di atas, dan hal ini adalah sebuah tamparan keras bagi kita agar menampilkan perilaku Islami tidak hanya pengakuan belaka. Sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah. Karena banyak kasus korupsi ternyata pelakunya justru orang2 yang sangat paham tentang agama. Melihat kasus-kasus tersebut saya berpendapat bahwa mereka mengalami problem serius tentang keyakinan dan kesadaran seperti sayang Mas Azzet sebutkan di atas. Mereka gagal membangun kesadaran agar selalu terkoneksi dengan Tuhan. Mereka berhasil menyerap pemahaman yang baik namun tidak mampu mengisi pikirannya dengan keyakinan kepada Allah.

    Ini sekaligus mungkin bisa menjawab keraguan Kang Haris. Bahwa betapa tidak sedikit orang2 yang berilmu agama namun perilakunya justru tidak mencerminkan agamanya. Mereka mengalami krisis keyakinan dan kesadaran. Pemahaman mereka berhenti sebagai pemahaman, dan tidak mampu menginspirasi untuk berbuat baik karena tidak terlalu menjanjikan.

    Oleh karena itu, yang bisa kita lakukan adalah berusaha menanamkan pemahaman kepada anak-anak bahwa ada Dzat yang berada di balik semua fenomena dan nomena di dunia, yang mengawasi semua ihwal keduniawian, yg melampaui apa saja bahkan hal-hal yang tak mampu kita jangkau dalam nalar yang terbatas. Dialah Allah sebagai sumber energi dan cinta kasih. Namun memberi pemahaman saja tak cukup karena menurut pengalaman saya ternyata yang lebih berat adalah menampilkan contoh dan kontinu melakukannya.

    Terima kasih dan mohon maaf bila komentar demikian panjang, Mas 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Alhamdulillaah…, malam ini saya mendapatkan tambahan ilmu yang penting dari Mas Belalang Cerewet. Tidak hanya saya sesungguhnya, Mas Belalang juga menjawab/mengomentari beberapa sahabat yang turut hadir dalam diskusi di ruang komentar ini. Sungguh, saya tak perlu menambahi, apalagi sekadar mengomentari. Apa yang disampaikan Mas Belalang Cerewet sangat bermanfaat bagi kita bersama, khususnya saya yang menulis di postingan ini. Maka, terima kasih banyak ya, Kangmas 🙂

  19. Ferdy Lpu says:

    agama juga turut andil dalam meningkatkan kecerdasan spiritual begitupun juga dengan orang disekitar

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Naaah…, itu, Mas Ferdy, sungguh saya sepakat sekali. Makasih banyak yaaa…

  20. Elsa says:

    saya tertarik dengan komentar mbak mugniar yang sempat bercerita bahwa di eropa sana, kehidupannya bisa dinilai lebih islami padahal mereka sama sekali gak kenal islam. mobil ditinggalin pinggir jalan berikut kuncinya, gak akan hilang keesokan harinya. pintu rumah tidak pernah terkunci dan lain sebagainya…
    teman saya yang tinggal di jepang juga pernah bercerita yang sama. begitu juga dengan teman saya satunya yang stay di eropa.

    kebutuhan akan spiritualitas itu kan sudah fitrah nya manusia. beda soal ketika apakah si manusia itu akhirnya bisa menemukan tuhan atau agama yang benar atau tidak.

    kita sih wajib bersyukur ya sudah terlahir islam dan semoga matinya nanti juga islam. jadi kecerdasan spiritialitasnya pasti erat kaitannya dengan islam, akhlak. cuman bagaimana menjalankan tanggung jawab keislaman ini yang cerdas apa nggak gitu, hehehhee

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mbak Elsa, nilai-nilai islami bisa diterapkan oleh siapa saja, meskipun tidak/belum beragama Islam. Dan hasilnya memang luar biasa bagus dalam kehidupan sosial. Namun, kesadaran berislam, yang bersumber dari keimanan, termasuk pengaruh dahsyatnya bagi kehidupan ruhani, tentu hanya dapat dirasakan oleh orang yang mengimani. Makasih banyak ya, Mbak Elsa, telah singgah kemari.

      Salam Jombang dari Jogja.

  21. umielaine says:

    kalau ini facebook sudah saya share tulisannya dan like komen2nya. tulisan yang baik selalu mengundang komentar yang baik. maturnuwun pak/bu sharingnya.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Makasih banyak ya, Mbak Umielaine. Sungguh. Dan salam hormat dari Jogja.

  22. Lusi says:

    Terima kasih sudah membagi pemikirannya. Pemikiran yang bernas dan mencerahkan. 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Makasih juga untuk Mbak Lusi yang telah singgah kemari. Semoga bermanfaat bagi kita bersama ya, Mbak.

  23. jumarniati says:

    wahh baru baca ini artikelnya sungguh menarikk…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terima kasih…, semoga bermanfaat bagi kita bersama.

  24. yayan says:

    para ahli psikologi kebanyakan memang bukan beragama Islam sehingga wajar mereka berpendapat seperti itu. Menurut saya Agama itu ada ritual dan formalitas (cangkang) ada substansi dan isi hakiki (spritual), yg dilihat oleh para ahli psikologi tsb mungkin cangkangnya saja. Kalaulah memang seperti ini ada benarnya. Coba perhatikan surat Al Ma’un dlm Al qur’an Allah mengecam keras kpd orang2 yg mengerjakan shalat hanya dg cangkang, tdk memberi efek makna hidup (spritual). Perhatikan pula masyarakat kita kalau berdo’a istighosah, menurut saya itu tdk ada maknanya maka do’anya kurang diterima disisi Allah buktinya kemelut dan musibah kpd bangsa ini tak ada hentinya perhatikan pula dzikir2 di Televisi tangisan meraka adalah cangkang, tangisan latah krn tangisan spritual ada pd waktu malam dg kesendirian maka tangisannya kurang berakna. Islam adalah cangkang isinya iman (QS: Alhujurat 14).

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Alhamdulillaah…, terima kasih banyak ya, Mas Yayan, atas tambahan ilmunya ini. Benar sekali, sebagaimana tubuh kita ada zhahir dan ada batin. Keduanya mesti terlibat dalam agama ini. Zhahir bergerak sesuai syariat, sedang batin bergerak dalam kesadaran kepada-Nya. Sekali lagi, matur nuwun.

  25. Kalau menurut saya kecerdasan spiritual berhubungan dengan sudut pandang atau cara berpikir mengenai adanya kekuatan yang Maha Dahsyat, sehingga ia mampu bertindak dengan didasari keyakinan tersebut. 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mas Jefry Dewangga, saya juga setuju dengan yang demikian 🙂 Makasih banyak yaaa.

  26. Ezza Wiryateja says:

    Seseorang dg penampilan dan perkataan agamis blm tentu berbanding lurus dengan ahlaknya. Ini disebabkan oleh adanya kegagalan pemahaman atau kurang cerdasnya yg bersangkutan akan pemahaman agamanya. Mohon maaf jika pemikiran says salah ..