Kecerdasan Spiritual: Kecerdasan Tertinggi

Amel dan Nena sedang mengaji, foto Akhmad Muhaimin Azzet

Amel dan Nena (santri TPA Al-Muhtadin) sedang mengaji di rumah @muhaiminazzet

Menurut para ahli, ada banyak kecerdasan yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Thorndike membagi kecerdasan itu ada tiga macam, yakni kecerdasan abstrak (kemampuan dalam memahami simbol matematis dan bahasa), keceradasan konkret (kemampuan dalam memahami objek yang nyata), dan kecerdasan sosial (kemampuan dalam memahami dan mengelola sebuah hubungan sosial).

Charles Handy membagi kecerdasan manusia menjadi tujuh macam, yakni kecerdasan logika (kemampuan dalam menalar dan menghitung), kecerdasan verbal (kemampuan dalam berkomunikasi), kecerdasan praktik (kemampuan dalam mempraktikkan ide yang ada dalam pikiran), kecerdasan musikal (kemampuan dalam merasakan/membuat nada dan irama), kecerdasan intrapersonal (kemampuan dalam memahami diri sendiri), kecerdasan interpersonal (kemampuan dalam memahami dan menjalin hubungan dengan orang lain), dan kecerdasan spasial (kemampuan dalam mengenali ruang atau dimensi).

Howard Gardner setidaknya membagi kecerdasan menjadi delapan macam, yakni kecerdasan linguistik (kemampuan dalam berbahasa), kecerdasan matematis-logis (kemampuan dalam berhitung dan menalar), kecerdasan visual-spasial (kemampuan dalam mengenali ruang), kecerdasan musikal (kemampuan dalam nada dan irama), kecerdasan natural (kemampuan dalam mengenali alam), kecerdasan interpersonal (kemampuan dalam bergaul), kecerdasan intrapersonal (kemampuan dalam mengenali diri), dan kecerdasan kinestetik (kemampuan dalam mengelola gerak tubuh).

Secara garis besar, setidaknya dikenal ada tiga macam jenis kecerdasan. Yakni, pertama, kecerdasan intelektual atau Intelligence Quotient (IQ). Kecerdasan ini adalah kemampuan potensial seseorang untuk mempelajari sesuatu dengan menggunakan alat-alat berpikir. Kecerdasan ini bisa diukur dari sisi kekuatan verbal dan logika seseorang. Secara teknis, kecerdasan intelektual ini pertama kali digagas dan ditemukan oleh Alfred Binet.

Kedua, kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ). Kecerdasan ini setidaknya terdiri dari lima komponen pokok, yakni kesadaran diri, manajemen emosi, motivasi, empati, dan mengatur sebuah hubungan sosial. Kecerdasan emosional ini, secara teknis, pertama kali digagas dan ditemukan oleh Daniel Goleman.

Ketiga, kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ). Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik sebuah kenyataan atau kejadian tertentu. Secara teknis, kecerdasan spiritual yang sangat terkait dengan persoalan makna dan nilai ini pertama kali digagas dan ditemukan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall.

Danah Zohar, dalam bukunya yang berjudul SQ: Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, menilai bahwa kecerdasan spiritual merupakan bentuk kecerdasan tertinggi yang memadukan kedua bentuk kecerdasan sebelumnya, yakni kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Kecerdasan spiritual dinilai sebagai kecerdasan yang tertinggi karena erat kaitannya dengan kesadaran seseorang untuk bisa memaknai segala sesuatu dan merupakan jalan untuk bisa merasakan sebuah kebahagiaan.

Apa yang disampaikan oleh Danah Zohar sebagaimana tersebut sebenarnya tidak berlebihan. Bila ditinjau dari segi kebutuhan manusia, Abraham Maslow juga menggolongkan kebutuhan spiritual sebagai kebutuhan tertinggi dalam kehidupan manusia. Selengkapnya, urutan kebutuhan manusia menurut Maslow adalah (1) kebutuhan fisiologis, meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan, maupun kebutuhan biologis; (2) kebutuhan keamanan, meliputi bebas dari rasa takut dan merasa aman di mana pun berada; (3) kebutuhan rasa memiliki sosial dan kasih sayang, meliputi kebutuhan berkeluarga, persahabatan, dan menjalin interaksi serta berkasih sayang; (4) kebutuhan akan penghargaan, meliputi kebutuhan akan kehormatan, status, harga diri, maupun mendapatkan perhatian dari orang lain; (5) kebutuhan aktualisasi diri, meliputi kebutuhan untuk eksistensi diri dalam kehidupan. Kebutuhan aktualisasi diri ini adalah kebutuhan yang berkaitan erat dengan kejiwaan dan merupakan kebutuhan spiritual seorang manusia.

Meskipun kecerdasan spiritual dinilai sebagai kecerdasan yang paling tinggi, ternyata ia juga dibangun dari dua kecerdasan sebelumnya, yakni kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Menurut penulis, memang ketiga jenis kecerdasan tersebut jangan sampai kita abaikan salah satunya karena kita lebih memilih kecerdasan yang lainnya.

Peran Orangtua

Kecerdasan intelektual anak-anak kita sudah dikembangkan sedemikian rupa dalam lembaga pendidikan formal atau reguler di negeri tercinta ini, maka tugas orangtua hanya tinggal membantu dan mendampingi sang anak ketika belajar di rumah. Selanjutnya, orangtua berupaya untuk mempunyai perhatian yang besar dalam mengembangkan kecerdasan emosional, lebih khusus kecerdasan sosialnya.

Selanjutnya, kecerdasan yang harus mendapatkan perhatian dari orangtua adalah mengembangkan kecerdasan spiritual pada anak-anak kita. Mengingat betapa penting kecerdasan spiritual anak kita untuk dikembangkan karena hal ini berkaitan dengan kemampuan dalam memahami makna hidup dan kebahagiaan.

Sebagian besar orangtua tidak segan bekerja siang dan malam agar kebutuhan anak-anaknya terpenuhi. Tidak sedikit orangtua yang berusaha sekuat tenaga agar anak-anaknya dapat belajar di sekolah yang terbaik; meskipun untuk urusan ini kemungkinan besar membutuhkan biaya yang mahal. Orangtua juga berusaha bagaimana bisa menemani anak-anaknya ketika belajar di rumah. Ketika orangtua tidak mampu terhadap pelajaran tertentu, tak segan pula memanggilkan guru privat untuk anak-anaknya. Itu semua dilakukan orangtua agar anak-anaknya pandai dan mendapatkan nilai yang baik. Inilah bentuk kepedulian orangtua dalam mengembangkan kecerdasan intelektual anak-anaknya.

Tidak hanya pandai, orangtua juga menginginkan agar anak-anaknya dapat mencapai kesuksesan, baik itu dalam karier maupun dalam hidup bermasyarakat. Untuk harapan yang baik dan mulia ini orangtua dapat mengembangkan kecerdasan emosional, atau lebih khusus lagi juga kecerdasan sosial dari anak-anaknya.

Namun, kepandaian dan kesuksesan yang dapat diraih oleh seseorang seakan menjadi tidak berarti bila seseorang dalam hidupnya tak juga bisa merasakan kebahagiaan. Di sinilah sesungguhnya posisi kecerdasan spiritual dinilai sebagai kecerdasan yang paling tinggi bila dibandingkan dengan kecerdasan yang lainnya karena terkait erat dengan kemampuan memaknai segala sesuatu dan kebahagiaan.

Apakah gunanya kepandaian dan kesuksesan apabila seseorang tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam hidupnya? Barangkali pertanyaan demikian yang membuat kita lebih serius dan memperbesar perhatian terhadap pentingnya untuk mengembangkan kecerdasan spiritual pada anak-anak kita. Apalagi, roda zaman terus berputar sehingga persoalan kehidupan di masa mendatang akan semakin kompleks. Tidak ada alasan bagi orangtua untuk tidak memerhatikan masalah kecerdasan spiritual ini. Dengan demikian, semoga anak-anak kita kelak dapat menjadi orang yang dapat menghadapi tantangan kehidupan dengan baik dan dapat meraih kebahagiaan.

Salam keluarga bahagia,
Akhmad Muhaimin Azzet

This entry was posted in Pendidikan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

50 Responses to Kecerdasan Spiritual: Kecerdasan Tertinggi

  1. Lidya says:

    Kecerdasan spiritual disini maksudnya berhubungan dengan keagaaman atau bukan ya pak?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Secara umum kecerdasan spiritual memang erat kaitannya dengan kesadaran seseorang dalam memaknai segala sesuatu hingga ia menemukan jalan untuk bisa merasakan sebuah kebahagiaan. Namun, saya lebih nyaman menggunakan keagamaan sebagai salah satu jalan utama dalam mengembangkan kecerdasan spiritual. Demikian, Mbak Lidya.

      • Lidya says:

        Saya nangkepnya gitu pak kecerdasan spirutual itu tentang agama, tadi saya pikir ada hal lainnya. Agama nomor satu pak kalau menurut saya apalagi untuk anak-anak ya. Terima kasih penjelasannya

        • Akhmad Muhaimin Azzet says:

          Dalam pemaknaan secara umum memang begitu, Mbak Lidya, tapi saya lebih nyaman menggunakan pendekatan keagamaan.

  2. Kecerdasan Spiritual:
    Kecerdasan Tertinggi…
    Setuju…

    Buat apa kita punya kecerdasan otak kalau tidak dibarengi dengan kecerdasan spiritual.

    Jika kita tidak punya kecerdasan spiritual, yang ada kita hanya akan menjadi budak ilmu pengetahuan.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Alangkah tidak bahagianya hidup bila hanya menjadi budak sebagaimana Mas Alifianto sebut tersebut ya, Mas πŸ™‚ Makasih ya, Mas, telah singgah kemari. Salam hangat dari Jogja.

  3. dinie says:

    sepakat! tak ada gunanya uang banyak, tapi tak pandai bersyukur.. kebahagiaan dengan mudahnya menguap πŸ™‚

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Bila hal yang penting dalam hidup adalah kebahagiaan, maka benar banget apa yang ditulis Mbak Dinie tersebut. Sepakat, Mbak. makasih banyak ya….

  4. Setuju Pak, kecerdasan Emosional adalah kecerdasan tertinggi πŸ™‚

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Oke, Sob, kecerdasan spiritual maksudnya. Makasih banyak yaaaa….. πŸ™‚

  5. Pakies says:

    Dengan tidak bermaksud mengecilkan peran sekolah umum, bahwa pengalaman pada anak saya yang pertama menjadi beda ketika SD di sekolah umum, kemudian SMP di sekolah yang memiliki tambahan pendidikan agama, kemudian ketika SMA kembali lagi ke sekolah umum. Dari tiga tahap inilah saya bisa menyimpulkan bahwa lingkungan sekolah yang memiliki kebiasaan dan pendidikan karakter berbasis ruhani ternyata menghasilkan perilaku yang berbeda pada keseharian anak.
    Maka saat ini ketika dia di sekolah umum, peran kami orang tua lebih intensif lagi dalam mendampingi dan mengontrol perkembangan anak saya. Jadi, saya sangat sepakat ketika kecerdasan spiritual kita optimalkan sesuai dengan perkembangan anak, maka kecerdasan lainnya dengan sendirinya akan mengikuti. Ini terbukti pada anak saya yang nomer 2.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Pak Ies, tanpa mengecilkan untuk mengembangkan kecerdasan lainnya, kecerdasan spiritual memang amat penting untuk mendapatkan perhatian yang lebih serius dari setiap orangtua kepada buah hati tercintanya. Makasih banyak ya, Pak.

  6. kebetulan tadI baca buku menyinggung kecerdasan.
    pemahaman saya tangkap; tinggi nya IQ, namun tidak di imbangi kecerdasan spritual, malah bisa menjadi orang tersebut termasuk “gagal”
    karena ia tak mampu membendung atau menguasai diri dari imbas kecerdasan IQ nya.

    begitu ya Pak?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Dengan demikian maka mengembangkan kecerdasan secara seimbang itu penting ya, Mbak. Lebih-lebih jika memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan kecerdasan spiritual.

  7. Ilham says:

    wah setuju sekali. harusnya kita lebih sering menggunakan semua peralatan hati dan pikiran untuk menemukan sendiri makna dibalik segala sesuatu, supaya menemukan kedamaian dan kebenaran.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Yup, menemukan kedamaian dan kebenaran, itulah yang penting dalam hidup ini ya, Mas Ilham.

  8. Anton says:

    Kalo dlm pemahamanku ya pak…kecerdasan spiritual tidak bisa lepas dari kesadaran akan diri dan Tuhan, dan spt-nya ini yg belum mendptkan porsi yg seimbang dlm pendidikan anak. Ortu lbh mengedepankan kecerdasan intelektual dibandingkan kecerdasan spiritual. Contoh yg kecil: ortu terkdng mati2an mengikutsertakan anak les ini itu utk mengejar nilai ujian terbaik dan bangga jika jika anak mendptkan ranking disekolah. Memang wajar sih, cuman menjadi tdk wajar jika ada anak yg tdk shalat (jika muslim ya hehehe,ortu merasa biasa aja…#maturnuwun sudah mengingatkanku pak,pentingnya kecerdasan spiritual…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Pendidikan formal di negeri kita memang lebih menitikberatkan pada pengembangan kecerdasan intelektual, Mas Anton. Oleh karena itu, orangtua semestinya segera menyadari dan memberikan keseimbangan untuk mengembangkan kecerdasan yang lainnya, salah satunya kecerdasan spiritual ini.

  9. Abed Nego says:

    Ternyata kecerdasan bukan dilihat dari kecerdasan dari cara berpikir melainkan juga dari kecerdasan spiritual πŸ™‚

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Mas Abed Nego. Makasih banyak ya, Mas, telah singgah kemari πŸ™‚

  10. Mechta says:

    semestinya memang ada keseimbangan antara beragam kecerdasan itu ya mas… sayangnya memang IQ lebih populer daripada EQ..apalagi SQ…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sangat setuju saya sama Mbak Mechta, semestinya ada keseimbangan dalam mengembangkan kecerdasan anak. Makasih banyak ya, Mbak.

  11. ketika emosional dan intelektual berjalan sendiri-sendiri maka disitulah manusia akan bertrasnformasi menjadi mahluk yang haus duniawi..dan lupa akan dahaga rohani lupa akan Sang Khaliq….salam πŸ™‚

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Dan, lupa semacam ini sungguh berbahaya ya, Pak, terutama bagi kebahagiaan manusia itu sendiri.

  12. Sepertinya kecerdasan spiritual ini adalah fitrah yang diciptakan Allah bagi setiap manusia sejak lahir, kemudian dikembangkan atau dirusak oleh lingkungannya.

    Dari Abu Hurairah; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    Ω…ΩŽΨ§ مِنْ Ω…ΩŽΩˆΩ’Ω„ΩΩˆΨ―Ω Ψ₯ΩΩ„ΩŽΩ‘Ψ§ ΩŠΩΩˆΩ„ΩŽΨ―Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ Ψ§Ω„Ω’ΩΩΨ·Ω’Ψ±ΩŽΨ©Ω ΩΩŽΨ£ΩŽΨ¨ΩŽΩˆΩŽΨ§Ω‡Ω ΩŠΩΩ‡ΩŽΩˆΩΩ‘Ψ―ΩŽΨ§Ω†ΩΩ‡Ω ΩˆΩŽΩŠΩΩ†ΩŽΨ΅ΩΩ‘Ψ±ΩŽΨ§Ω†ΩΩ‡Ω Ψ£ΩŽΩˆΩ’ ΩŠΩΩ…ΩŽΨ¬ΩΩ‘Ψ³ΩŽΨ§Ω†ΩΩ‡Ω
    Tiada seorangpun yang lahir kecuali dalam keadaan fitrah, lalu ibu bapaknya menjadikan dia Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi. [Sahih Bukhari]

    Wallahu a’lam!

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Dengan demikian, mari kita bangun lingkungan yang baik bagi anak-anak kita ya, Mas, sehingga mereka dapat berkembang sesuai dengan fitrahnya. Makasih banyak ya, Mas.

  13. komen saya blm nongol?

    kemarin saya rasa sudah memberikan komentar di artikel ini

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Mas Isnan Nugrah Lastiko, komentarnya saya cari di spam juga tidak ada tuh, Mas?! Tapi, makasih banyak ya, Mas, telah singgah kembali.

  14. Heri Purnomo says:

    sepakat ustadz, kecerdasan spiritual itu sangat penting agak kehidupan manusia mencapai kebahagiaan hakiki.

    namun paradigma berpikir tentang makna sukses seringkali di tengah-2 kehidupan saat ini banyak dipengaruhi oleh cara pandang tentang makna sukses, yaitu sukses secara finansial atau pun sukses yg bisa dilihat secara fisik lainnya. Sehingga ketika obsesinya tentang sukses itu terpenuhi, ternyata kebahagiaan tak serta merta mengikutinya, ada sisi lain yang pincang dan tertinggal, yaitu kebutuhan batin yang kering dari kebahagiaan yg sebenarnya.

    Mungkin memang peran orang tua sangat vital ya ustadz, untuk dapat mendorong ataupun memotivasi anaknya agar melatih kecerdasan spiritual ini.

    terima kasih uraianya yang lengkap, Ustadz.
    salam

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Mas Heri Purnomo, betapa kecerdasan spiritual itu penting terkait dengan kebahagiaan manusia. Oleh karena itu, orangtua mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan kecerdasan spiritual pada putra-putri tercintanya. Makasih banyak ya, Mas πŸ™‚

  15. r10 says:

    manusia memiliki akal agar digunakan untuk berpikir, jadi gunakan pikiran untuk bersyukur jangan malah ingkar dan menantang

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sobat r10, nah… itu dia, jangan malah ingkar dan menantang ya…

  16. noorma says:

    waahh… bekal nih untuk nanti mendidik Noofa.. πŸ™‚
    makasih, Pak..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mbak Noorma, semoga bermanfaat bagi kita bersama ya. Salam untuk Noofa πŸ™‚

  17. rina says:

    setuju pak, kecerdasan spiritual yang paling utama, terima kasih dapet ilmu lagi saat berkunjung kesini

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sama-sama, Mbak Rina, makasih juga telah singgah kemari ya… πŸ™‚

  18. whiz says:

    Mengingatkan kembali dengan skripsi saya Pengaruh SQ terhadap Kinerja Karyawan…. πŸ™‚

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Waah…, skripsi mantap itu, Sob! Makasih banyak ya telah singgah ke blog sederhana ini πŸ™‚

  19. setuju, kecerdasan spiritual harus menjadi yang tertinggi πŸ™‚

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mbak Myra, bener banget, karena kecerdasan spiritual ini penting sekali. Thanks ya… πŸ™‚

  20. Fani says:

    Wah.. tulisan ini benar-benar mencerahkan mas … terima kasih ..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Makasih banyak ya, Mas Fani, semoga bermanfaat bagi kita bersama.

  21. MF Abdullah says:

    Semoga kita menjadi hamba-hamba yang memiliki kecerdasan tertinggi ini, amin…

    Salam..
    MF-Abdullah (Belum berkeluarga….) hehehe πŸ˜€

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Semoga demikian ya, Mas MF-Abdullah, dan semoga pula segera berkeluarga, aamiin…. πŸ™‚

  22. zona razuli says:

    kecerdasan spiritual adalah yang paling utama untuk mengurangi kegiatan korupsi di negeri ini hehe

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Nah… itu dia, tentu demikian. Makasih banyak ya….

  23. jannah jinani says:

    syukran informasinya
    jika boleh bertanya
    seberapakah besarkah keberhasilan yang dapat ditempuh oleh orang yang memiliki kecerdasan spiritual??
    afwan

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terkait dengan pentingnya makna dan kebahagiaan dalam hidup, tentu besar sekali. Makasih banyak ya, Mbak.

  24. Pulau Tidung says:

    Karna tidak cerdas spiritual, jadinya tidak bahagia ya Pak.