Budaya Masyarakat Modern dan Kecerdasan Spiritual

salah satu sudut maskam, foto akhmad muhaimin azzetSaat ini kita hidup di sebuah zaman modern yang kebudayaan masyarakat sangat dipengaruhi oleh humanisme Barat. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, budaya Barat yang memenangkan humanisme ternyata memiliki kecerdasan spiritual kolektif yang rendah. Manusianya berada dalam budaya yang apabila dinilai dari kecerdasan spiritual sungguh memprihatinkan. Hal ini ditandai oleh materialisme dan egoisme diri yang pada akhirnya membuat hidup menjadi kehilangan makna.

Humanisme memang dipandang sebagai sebuah gagasan yang positif oleh kebanyakan orang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, humanisme diartikan sebagai (1) aliran yg bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yg lebih baik; (2) paham yang menganggap manusia sebagai objek studi terpenting; (3) aliran zaman Renaissance yg menjadikan sastra klasik (dalam bahasa Latin dan Yunani) sebagai dasar seluruh peradaban manusia; (4) kemanusiaan.

Namun, menurut Harun Yahya, makna filosofis dari humanisme jauh lebih signifikan untuk diperhatikan. Yakni, humanisme adalah cara berpikir bahwa mengemukakan konsep perikemanusiaan sebagai fokus dan satu-satunya tujuan. Dengan kata lain, humanisme mengajak manusia berpaling dari Tuhan yang menciptakan mereka, dan hanya mementingkan keberadaan dan identitas mereka sendiri. Harun Yahya menambahkan, kamus umum mendefinisikan humanisme sebagai “sebuah sistem pemikiran yang berdasarkan pada berbagai nilai, karakteristik, dan tindak tanduk yang dipercaya terbaik bagi manusia, bukannya pada otoritas supernatural mana pun.

Di sinilah pentingnya bagi kita untuk tidak perlu mengikuti kebudayaan modern yang berkiblat pada humanisme Barat; yang menjauhkan manusia dari spiritualitas. Sebab, kita sangat menyadari bahwa ada yang sangat penting dalam kemanusiaan kita, yakni tidak bisa terlepas dari kekuatan di luar diri kita, yakni kebesaran Tuhan. Hal ini semakin dikuatkan oleh beberapa penelitian mutakhir oleh para ahli di bidang neurologi (ilmu tentang saraf), ternyata kecerdasan spiritual mempunyai tempat di dalam otak. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa ada bagian dari otak manusia yang mampu mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, mengenal, atau berhubungan dengan Tuhan.

Lahir dalam Keadaan Fitrah

Menanggapi hasil penelitian di bidang neurologi tersebut, penulis lantas teringat dengan sabda Nabi Muhammad Saw. yang menyampaikan bahwa setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Di antara para ulama mengartikan fitrah tersebut sebagai kecenderungan untuk bertauhid. Jadi, berdasarkan hadits Nabi Saw. mengenai fitrah ini, dapat dipahami bahwa memang sudah dari sono-nya dalam diri manusia didesain oleh Tuhan untuk mengenal-Nya. Fitrah untuk mengenal Tuhan ini tidak bisa diingkari. Namun, jika manusia mengingkari, berarti ia telah memilih jalan yang menjauh dari fitrahnya yang berbanding lurus dengan menjauhkan diri dari kebahagiaan.

Ya, berbanding lurus dengan menjauhkan diri dari kebahagiaan. Mengenai hal ini, kita dapat menyaksikan betapa masyarakat modern yang terjebak dengan materialisme mulai kehilangan spiritualitas. Bila sudah begini, maka persoalan kejiwaan seperti cemas, kebingungan, kehilangan orientasi, hidup terasa hampa, stres, insomnia, bahkan putus asa begitu mudah terjadi. Padahal, kita juga mengetahui bahwa apabila persoalan kejiwaan sebagaimana tersebut terjadi, biasanya segera berdampak pada serentetan penyakit seperti hipertensi, jantung, atau bahkan stroke.

Di samping menanggalkan spiritualitas secara umum, sehingga menimbulkan persoalan kejiwaan dan serentetan penyakit dari kelas ringan hingga berat, manusia modern juga tidak sedikit yang meninggalkan Tuhannya. Dalam pengakuannya memang masih mengakui sebagai pemeluk agama tertentu, namun dalam kehidupannya sehari-hari ternyata sama sekali tidak pernah melaksanakan ajaran agamanya; atau melaksanakan ajaran agamanya, namun hanya jarang-jarang saja. Meninggalkan Tuhan juga dalam bentuk yang halus, yakni tetap melaksanakan ketaatan, namun tanpa dibarengi dengan kesadaran. Lisannya tampak menyebut nama Tuhan, namun hatinya sama sekali tidak mengingat-Nya karena sibuk memikirkan harta dan benda atau hal-hal lain yang bersifat materialisme semata.

Roda zaman terus berputar, waktu juga terus merambat menjadikan bumi ini semakin tua, sementara kita tidak bisa memprediksi apakah budaya masyarakat modern kian membaik atau malah semakin menjauhkan manusia dari kecerdasan spiritualnya. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban yang mulia bagi kita selaku orangtua untuk terus-menerus mendampingi dan memberikan bimbingan kepada anak-anak kita agar mempunyai kecerdasan spiritual yang baik.

Demikianlah. Semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi kita bersama.

Salam Pendidikan Keluarga,
Akhmad Muhaimin Azzet

This entry was posted in Pendidikan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

20 Responses to Budaya Masyarakat Modern dan Kecerdasan Spiritual

  1. artikel2 pakdhe selalu menarik untuk dibaca, ^_^

  2. Anton says:

    Sependapat pak…Bagaimanapun, sudah selayaknya pendidikan yg mengembangkan kecerdasan spiritual menjadi dasar bagi kecerdasan-kecerdasan lainnya…maturnuwun sharingnya nggih pak ustadz…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Matur nuwun juga nggih, Mas Anton. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi kita bersama.

  3. saya sangat suka “Meninggalkan Tuhan juga dalam bentuk yang halus, yakni tetap melaksanakan ketaatan, namun tanpa dibarengi dengan kesadaran.” sungguh, sangat mengingatkan..

    mudahan Allah beri kemudahan, dalam mendampingi anak-anak agar mempunyai kecerdasan spritual yang tinggi. karena hanya itulah bisa membahagiakan mereka sepenuhnya.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terima kasih banyak ya, Mbak. Semoga ini semua menjadi semangat bagi kita bersama untuk berusaha agar semakin lebih baik lagi. Semoga pula doa kita dikabulkan oleh Allah Ta’ala.

  4. Lidya says:

    kecerdasan spiritual yang paling utama ya pak

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terkait dengan kemampuan memaknai kehidupan sekaligus membangun rasa bahagia, iya Mbak.

  5. rina says:

    makasih sharingnya ya pak, jadi ilmu yang bermanfaat buat saya…..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sama-sama, Mbak Rina, saya juga terima kasih banyak atas kunjungannya.

  6. Kang Jum says:

    Yang kayak ginian kadang jarang saya temui di blog lain Pak Dhe

  7. Aulia says:

    filterisasi juga menjadi bagian bagi masyarakat modern dlm menerima pengaruh budaya, dan kita juga tidak mau spiritual itu tertinggalkan jika hanya mengikuti tren budaya saja.

    salam sehat utk ustad 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Saya setuju itu, Mas. Makasih banyak ya. Salam juga untuk panjenengan bersama keluarga tercinta.

  8. hanif arief says:

    maturnuwun ust, mohon izin copas

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Silakan, Mas Hanif Arief, dengan mencantumkan link atau sumbernya ya.

  9. M. Syafi'i says:

    jadi teringat film2 barat sering saya menemukan pertanyaan “kamu percaya pada Tuhan?” hmmmmmmm seolah percaya pada Tuhan bisa dipilih semaunya..

    Ya muqokillibal qulub, stabit qulubana ala dinik…