Nasionalisme dan Bangga Berbangsa Indonesia

Indonesia dari Balik Jendelaku, Abdul Cholik, Akhmad Muhaimin Azzet 1Judul Buku : Indonesia dari Balik Jendelaku
Penulis : Abdul Cholik
Penerbit : Sixmidad, Bogor
Tebal : 154 hlm.
ISBN : 978-602-97964-9-0

Setiap membaca berita atau melihat televisi ada pejabat yang terbukti melakukan tindak korupsi, sungguh saya prihatin. “Ini pejabat dibayar oleh negara setiap bulan, bahkan ada jaminan uang pensiun segala, kok ya tega-teganya melakukan korupsi. Sungguh kebangetan dan sama sekali tak punya jiwa nasionalisme,” demikian geregetan saya.

Setiap ada berita bahwa para wakil rakyat yang sering disebut sebagai “anggota dewan yang terhormat” itu melakukan studi banding ke luar negeri, atau betapa sebagian di antara mereka “seakan” bangga dengan barang-barang yang dimilikinya produk luar negeri, saya selalu membatin, “Ini orang dipilih sebagai wakil rakyat kok begitu ya, mestinya ia bangga sebagai bangsa Indonesia. Tidak ramai-ramai studi banding ke luar negeri untuk hal-hal yang mestinya bisa digali dan dipikirkan di dalam negeri.”

Dua hal di atas hanya sekadar contoh kasus bahwa nasionalisme dan bangga menjadi bangsa Indonesia tampaknya memudar dari hati sebagian saudara-saudara kita. Jangan sampai hal ini merembet dan menjadi penyakit sebagian besar masyarakat. Bila hal ini terjadi, keinginan bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar dan membanggakan tampaknya hanya utopis belaka.

Semoga hal yang memprihatinkan itu tidak terjadi. Masih banyak di antara kita yang mempunyai jiwa nasionalisme dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Betapa persoalan nasionalisme dan bangga berbangsa Indonesia ini juga saya temukan dalam sebuah buku karya Pakde Cholik, demikian sapaan akrab penulis sekaligus Komandan BlogCamp Group ini.

Pakde Cholik mengawali pembahasan dalam bukunya ini dengan betapa kemerdekaan adalah rahmat Allah Swt. Sungguh kita harus bersyukur atas kemerdekaan ini dengan terus-menerus berkarya dan berbuat kebaikan. Pakde Cholik selanjutnya menegaskan bahwa bangsa penjajah harusnya malu, bukan kini malah anak cucunya mengajari ihwal HAM (Hak Asasi Manusia) kepada kita.

Indonesia dari Balik Jendelaku, Abdul Cholik, Akhmad Muhaimin Azzet 2

“Indonesia Bukan Bangsa Tempe,” demikian teriak Pakde Cholik mengutip gending ciptaan Ki Nartosabdho, Lesung Jumengglung. “Jika ada musuh bersama, kami akan serentak bangkit dan siap menghadapinya. So jangan ganggu kami kapan pun, di mana pun, dan dengan cara apa pun.” Sungguh, betapa jiwa perjuangan dan bangga berbangsa Indonesia tampak jelas di sini.

Ihwal mencintai produk bangsa sendiri, Pakde Cholik secara khusus membahasnya dalam bab “Perlu Keteladanan Pemimpin untuk Mencintai Produk Indonesia.” Dalam bab ini, Pakde menegaskan, “Saya lebih baik mempunyai baju produk Indonesia yang harganya murah dalam jumlah banyak daripada selembar baju mahal produksi luar negeri.”

Inilah sebuah buku yang perlu dibaca oleh kita semua para anak bangsa. Saya telah membacanya dan saya merasakan betapa semangat kian menyala untuk semakin berbuat banyak kebaikan. Karena di dalam buku ini juga banyak tertuang pandangan Pakde Cholik tentang banyak hal persoalan kehidupan kita sehari-hari. Termasuk bagi para blogger, di bagian ketiga buku ini Pakde Cholik membeber banyak rahasia suksesnya sebagai seorang blogger.

Demikian review buku ini saya tulis dan semoga bermanfaat bagi kita bersama. Bagi sahabat yang ingin membeli buku bermutu ini (atau buku-buku Pakde lainnya yang ciamik), silakan klik link berikut. Terima kasih.

Salam hangat dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

This entry was posted in Menulis and tagged , , . Bookmark the permalink.

26 Responses to Nasionalisme dan Bangga Berbangsa Indonesia

  1. imamboll says:

    kesadaran nasionalisme memang sudah mulai muprul alias menghilang sedikit demi sedikit

    sepertinya perlu diberlakukan lagi pendidikan nasionalisme di tingkat sma, atau kalau perlu wajib militer seperti di korea 😀

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mas Imam, banyak pihak mulai mengkhawatirkan hal ini. Sehari yang lalu diskusi dengan tema ini juga digelar di Jakarta. Semoga ini menjadi kesadaran bersama sehingga ada gerakan perbaikan yang lebih baik.

  2. Pakde Cholik says:

    Matur nuwun resensinya
    Buku ini memang layak dibeli dan dibaca oleh setiap anak bangsa.
    Salam hangat dari Surabaya

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sama-sama, Pakde, saya juga matur nuwun sanget mendapatkan buku ini sebagai tali kasih dari Pakde. Semoga semakin banyak yang membaca dan mendapatkan manfaatnya. Aamiin…

      Salam hangat dari Jogja.

  3. Titik Asa says:

    Review singkat namun menimbulkan kepenasaran. Baiklah saya cari dulu buku ini.
    Salut kpd Pakde Cholik atas karyanya ini.

    Salam,

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terima kasih banyak, Pak Titik Asa. Saya juga salut dengan Pakde Cholik. Semangatnya itu lho… 🙂

  4. Anton says:

    Nasionalisme saat ini sepertinya sudah luntur oleh materialisme dan KKN-isme, para pemimpin sibuk menggunakan segala cara untuk melanggengkan kekuasaanya. Rasanya susah sekali, mengharapkan negeri ini menjadi lebih baik kalo pemimpinnya seperti itu. Perbaikan negeri harus dimulai dari pemimpinnya, itu contoh yang sangat jelas dari kepemimpinan Kanjeng Nabi dan para sahabat, kira2 begitu ya tadz? #Buku dr pakde memang sangat layak utk dibaca..hehe

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Saya sangat setuju, Mas Anton, para pemimpin mempunyai andil sangat besar dalam hal ini. Semoga kita bisa memilih pemimpin yang baik, mengontrolnya, sdan mengingatkanya secara terus-menerus. Di samping terus-menerus membangun kesadaran yang sama di kehidupan kita sehari-hari.

  5. Lidya says:

    tinggal baca buku ini nih pak 🙂

  6. buku topik berat bukan ya? kalau tidak, pengen juga beli. 😀

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Topik yang dituliskannya memang berat ini, Mas Hanif Mahaldi. Tapi, Pakde Cholik menuliskannya dengan cara ringan, santai, tak jarang menggelitik; itulah kelebihan penulis asal Jombang yang sekarang tinggal di Surabaya ini.

  7. dedekusn says:

    Buku yang menarik, ditulis oleh blogger senior yang sipp.
    Semoga nasionalisme tetap tertanam digenerasi2 muda Indonesia. Bukan hanya ketika PSSI main, tapi disegala hal. Nasionalisme positif tentunya.
    Salam sukses 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mas Dedekusn, buku ini memang menarik karena ditulis oleh blogger senior yang joss. Semoga nasionalisme membakar semangat kita bersama. Salam sukses juga ya, Mas 🙂

  8. Mugniar says:

    Yang mau beli ayo …. di KBN juga nanti keknya Pakdhe bawa

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Hehe…, ayo… ayo…, yang pada beli…
      Makasih banyak ya, Mbak Mugniar.

  9. keke naima says:

    semoga rasa nasionalisme kita semakin besar stlh baca buku ini, ya

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mbak, semoga demikian.
      Dan saya telah merasakannya!

  10. Mechta says:

    siip… mantab resensinya, mas… semoga karya Pakde ini menginspirasi kita semua untuk lebih cinta bangsa 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terima kasih banyak ya, Mbak Mechta, telah singgah kemari Siippp. Semoga kita semakin cinta dan bangga berbangsa Indonesia. Salam hangat dari Jogja.

  11. orang-orang jaman dahulu memang memiliki sikap nasionalisme yang begitu tinggi sekali,.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Semoga demikian juga dengan orang-orang zaman sekarang ya, Mas Sulthonul Mubarok.

  12. yang penting jadi manusia yang baik dan bermanfaat bagi semua orang. kalo ngomongin bangsa ini, kita lakuin sebisa kita. gak harus jadi DPR atau orang besar untuk memperbaiki bangsa ini. makin jadi orang besar seringkali malah terjebak sistem korupsi di kalangan pemerintah.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Saya setuju, Sob, pada posisi kita masing-masing mari selalu saja berbuat yang terbaik, berkarya, dan semoga sukses selalu.

  13. Kang Andre says:

    Ass Wr Wb

    Pertemuan kedua dengan Ustadz lewat blog ini, yang pertama malah di darat. Setelah menelusuri blog, pantas saja Pak Dhe manggil Ustadz…

    Maaf Kang, saya nggak pamitan kepada teman-teman, karena malam itu juga saya langsung pulang ke Madura, jadi nggak ikut ke Tembi yang pastinya seru.

    Insyaallah kalau ke Yogya lagi, pingin dolan ke rumah Ustadz.
    Wassalam

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Jumpa darat dulu baru ketemu di dunia maya ya, Kang Andre. Oh, malam itu juga langung balik ke Madura ya, Kang, padahal di Tembi lebih nyaman kalo istilah saya. Peserta di tempatkan di homestay masing-masing, bisa mandi lalu leyeh-leyeh menghilangkan lelah dari Joglo Abang yang gerah.

      Semoga suatu saat bisa berjumpa kembali ya, Kang Andre. Makasih banyak singgahnya kemari.

      Wassalam.