Menawarkan Naskah ke Penerbit Buku

Sebagian besar penulis, pasti menginginkan punya buku sendiri yang diterbitkan. Demikian pula dengan para blogger. Untuk mewujudkan hal ini, cara menawarkan naskah ke penerbit buku ada 2 macam , yakni menawarkan naskah ke penerbit mayor atau diterbitkan sendiri (indie).

Bila diterbitkan oleh penerbit mayor, tentu penulis sama sekali tidak perlu mengeluarkan biaya (malah dapat uang). Sedangkan jika diterbitkan sendiri atau melalui penerbit indie, tentu penulis harus merogoh koceknya untuk biaya penerbitan bukunya. Keduanya tentu ada untung dan ruginya.

Dalam postingan kali ini, saya akan membahas cara yang pertama, yakni menawarkan naskah ke penerbit mayor. Menurut yang pernah saya alami, ada dua model kerja sama yang ditawarkan oleh penerbit kepada penulis. Yakni, royalti dan beli putus.

1. Royalti
Dalam sistem royalti ini, biasanya penulis akan mendapatkan keuntungan 10 % dari setiap buku yang laku. Ada juga penerbit yang memberikan lebih dari sepuluh persen atau bahkan kurang. Cara inilah yang saya sarankan kepada setiap penulis. Sebab, hak naskah tetap ada penulis, sampai kapan pun. Dan, semakin banyak bukunya laku, maka penulis juga ikut menikmati hasil dari penjualannya.

Sebagai contoh buku saya yang berjudul 7 Cara Agar Rezeki Semakin Bertambah dan Barakah. Buku tersebut telah mengalami cetak ulang yang ke empat; dan di cover depan buku tersebut telah ada tambahan Best Seller. Alhamdulillah…., tentu saya juga ikut bersyukur, lebih senang lagi buku tersebut memakai sistem royalti.

buku mas azzet cetak ulang, 7 cara agar rezeki semakin bertambah dan barakah

Alhamdulillah…, buku ini telah cetak ulang yang ke empat.

2. Beli Putus
Biasanya penerbit menawarkan harga per halaman naskah. Penulis dapat melakukan nego dalam hal ini. Sebagaimana namanya, yakni beli putus, maka hak naskah ada penerbit. Jadi, jika suatu saat buku tersebut laris di pasaran dan mengalami cetak ulang sekian kali, penulis juga tidak punya hak lagi atas hasil penjualannya.

Keuntungan dari cara beli putus ini adalah penulis mendapatkan uang di muka. Penulis juga tidak berpikiran lagi apakah bukunya laku atau tidak; apakah laporan yang dibuat oleh penerbit bisa dipercaya atau tidak, dst.

Memang, dalam melakukan kerja sama dengan penerbit hal yang dibutuhkan adalah saling percara bila memakai cara royalti. Oleh karena itu, penulis harus pandai memilih penerbit yang amanah. Bila keburu butuh uang, atau tidak ingin berpikir macam-macam setelah bukunya diterbitkan terkait penerbitnya bisa dipercaya atau tidak dalam laporan penjualan, maka jual naskah dengan cara beli putus yang diambil oleh penulis.

Demikian. Semoga artikel cara menawarkan naskah ke penerbit bukuΒ ini bermanfaat. Dan, mari kita terus bersemangat menulis. Lebih dari itu, menulis dengan niat berbagi dan menebar kebaikan adalah spirit yang harus kita jaga.

Salam kreatif,
Akhmad Muhaimin Azzet

This entry was posted in Menulis and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

54 Responses to Menawarkan Naskah ke Penerbit Buku

  1. Pakde Cholik says:

    Selamat ya mas, bukunya laris.
    Saya belum pede kirim buku ke penerbit mayor.
    Juga tak rela jika dibeli putus, kasihan gitzuuu he he he

    Sedang pikir2 gimana baiknya
    Salam hangat dari Surabaya

    ———
    Alhamdulillah…, makasih banyak nggih, Pakde. Naskah Pakde sesungguhnya bagus kok, ciyus πŸ™‚ Kalo dibeli putus, kagak ya Pakde, hehe….

    Salam hangat juga dari Jogja.

    • Pakde Cholik says:

      Jangan jual putus lah mas, proyek perdana kan jadi pancikan dan juga sejarah he he he he

      ———
      Benar sekali, Pakde, eman kalo jual putus, hehehe….

  2. HM Zwan says:

    sangat bermanfaat sekali pak…
    saya jg kpikiran untuk membukukan karya flash fiction saya,pinginnya sih namannya jg penulis amatiran hehehe….
    semoga kayak pak azzet aminnnn

    **saya baru tahu kl pak azzet udah nerbitin dan nulis bnyak buku,uwahhhh salut deh zwan πŸ˜€

    ———
    Alhamdulillah…
    Iya, Mbak, segera saja disusun untuk menjadi buku. Saya sesungguhnya juga masih belajar kok. Semoga lancar ya… Aamiin….

  3. wanspeak says:

    Wah, Alhamdulillah ya, Pak…
    bisa bikin buku sendiri…..
    kalo saya pernah bikin buku tapi sistem Print On Demand lewat nulisbuku.com.
    dan gak laku karena kurang promosi, hehehe

    ———
    Alhamdulillah ya, Mas, dan bila sudah pernah di nulibuku.com, maka perlu ditindaklanjuti dg buku yg berikutnya Mas…

  4. yuniarinukti says:

    Pak, sewaktu ngirim naskah berapa lama nunggu buku itu terbit?

    ———
    Tidak mesti, Mbak, ada yang cepat, yakni dua atau tiga bulan setelah tanda tangan MoU sudah terbit; ada juga yang setahun lebih baru terbit. Supaya tidak terasa lama nunggunya, maka segera nulis naskah berikutnya.

    • Pakde Cholik says:

      Daku juga mau nulis naskah yang lain mas

      ———
      Nah, benar sekali, Pakde, jadi nunggu naskah sebelumnya yang msh dalam proses jadi ndak terasa lama, hehe….

  5. Noorma says:

    Sangat bermanfaat infonya..
    Bikin ijin ISBNnya susah nggak, pak? Brp duuit?

    ———
    Makasih banyak ya, Mbak Noorma.
    Kalo minta ISBN saya belum pernah punya pengalaman, Mbak, sebab semuanya sudah diurus penerbit. Soal biaya, kalo saya pernah dengar, gratis kok Mbak.

  6. keke naima says:

    sy simpen ah infonya.. thx ya mas πŸ™‚

    ———
    Iya, Teh, silakan disimpen πŸ™‚ Makasih banyak ya, telah singgah kemari….

  7. Mtrnwn infona pak…smoga spirit menulis tetap terjaga..

    ———
    Sama-sama, Mas Anton, matur nuwun juga telah singgah kemari. Ohya, betul, semoga spirit menulis tetap terjaga. Aamiin…

  8. Assalamu’alaikum, penulis best seller nih ye! Hehe…
    Impin saya ingin jadi penulis, mungkin novel yang dibumbi dengan dakwah atau kumpulan syair yang mengukir kalam-Nya.
    Salam sukses mas!

    ———
    Wa’alaikumusalam wr.wb. Hehe…, makasih banyak ya, Mas Ichsan Afriadi. Novel islami begitu ya, Mas. Wah, saya juga impian tuh, sampe sekarang ndak kelar2, hehe… Salam sukses juga ya, Mas!

  9. Rinem says:

    wah ternyata kalo royalti hanya 10% dari pembelian ya bang. wah sdikit ternyata

    ———
    Iya, Mas, bahkan ada yang di bawah 10 % lho, meski yang di atasnya juga ada….

  10. milo says:

    Kalo pake sistem kedua kok kesannya menzholimi penulis, ya… Kalo misalnya nanti bukunya jadi best seller dan keuntungannya jauh melebihi nominal yang diberikan pada penulis sewaktu serah terima naskah, rugi di penulisnya dong (>,<")

    Dan di lomba-lomba kadang ada yang sistemnya gitu. Pemenang dapat hadiah sekian tapi tidak dapat royalti. Padahal siapa tahu nantinya bukunya jadi best seller dan royalti yang seharusnya didapatkan lebih besar dari hadiahnya.

    ———
    Itulah, kalo menurut saya memang sebaiknya cara yang pertama, yakni royalti. Lebih adil rasanya di kedua pihak. Meski, ada juga penulis yang memang sengaja milih yang beli putus dengan alasan tertentu, misalnya sedang butuh uang, karena kalo royalti mesti nunggu sekian bulan, atau mungkin alasan lainnya.

    • Pakde Cholik says:

      Penulis donk yang mendzolimi bukunya kalau jual putus ha ha ha…
      Kecuali jika naskahnya sudah mbludak sak arat2…

      ———
      Hahaha…. mbludak sak arat-arat…. Pakde iki isso ae gawe istilah….

  11. Titik Asa says:

    Selamat atas kesuksesan bukunya…
    Salam,

    ———
    Terima kasih banyak ya, Pak.
    Salam juga dari Jogja.

  12. Bint@ says:

    saya kemarin beli putus.. pemula yg belum ngerti ttg pasar enaknya beli putus. toh ada surat perjanjian setelah berapa waktu (5tahun di SPP saya) hak kembali kepada penulis.

    ———
    Ohya, saya malah baru tahu kalau beli putus hak naskah bisa kembali ke penulis setelah jangka waktu tertentu (5 tahun). Kalo demikian, menurut saya kok namanya ini bukan beli putus, karena hak naskah ternyata nggak “putus”, tapi kembali ke penulis. Boleh juga neh sistem.

  13. Dani says:

    Wah baru thu saya kalo beli putus oleh penerbit itu dihargai per halaman Pak. Kalo penulis baru mungkin aga susah ya Pak negonya..

    ———
    Setahu saya kalo beli putus memang dihargai per halaman, Mas Dani, meski ada juga sih yang per judul naskah sekian juta. Kalo soal nego tidak masalah kok buat penulis baru, yang penting kan komunikasinya saja. Sebab, meski penulis baru, masih punya daya tawar kok, bila penerbit yang satu tak mau, masih banyak penerbit yang lainnya yang bisa kita tawari naskah.

  14. ibrahim sukman says:

    Mohon petunjuknya kang, saya sedang menyiapkan sebentuk novel. kira2 penerbit mana yang lebih akomodatif utk penulis pemula. salam:)

    ———
    Setahu saya, sekarang ini di banyak penerbit sudah mulai tidak membedakan antara penulis pemula dan penulis senior. Sebab, tidak sedikit buku yang meledak di pasaran justru ditulis oleh penulis yang sebelumnya belum pernah menerbitkan buku sama sekali. Maka, silakan memilih penerbit yang Mas suka.

  15. Selamat ya Kang, bukunya sudah dua kali penerbitan. Semoga pengalaman ini dapat menjadi motifasi untuk rekan-rekan yang membutuhkannya.

    Sukses selalu
    Salam Wisata

    ———
    Terima kasih banyak ya, semoga kita saling menyemangati dalam berkarya yaa…

    Salam sukses juga.

  16. Guru Muda says:

    Sudah selayaknya Ust. Azzet menjadi penulis best seller. Banyak karya yang sudah ditelurkan… Sukses ya pak..

    ———
    Terima kasih banyak ya, Mas Guru, mohon doanya selalu. Semoga sukses juga untuk panjenengan ya….

  17. selamat kawan atas rumah barunya yang super ini,
    dan bukunya ternyata laris manis di pasaran,
    semoga artikel ini bisa membantu sebagai info untuk para calon-calon penulis lainnya…salam sukses selalu kawan,
    salam hangat dari Makassar -Indonesia πŸ™‚

    ———
    Terima kasih banyak ya, Pak. Juga atas doanya. Semoga Pak Hariyanto juga senantiasa mendapatkan kesuksesan, juga kebahagiaan tentunya. Aamiin… Salam hangat dari Jogja, Indonesia.

  18. mesti belajar dari guru…., mesti di share nih πŸ™‚

    ———
    Yuk…, sama-sama belajar ya, Mas, hehehe….
    Makasih lho, Mas Budi, telah singgah kemari.

  19. Orin says:

    Ah senangnya buku pak ustadz udah jadi bestseller *kagum*, selamat ya Pak. InsyaALLAH suatu saat saya bisa mengikuti jejak pak ustadz πŸ™‚

    ———
    Alhamdulillah…., makasih banyak ya, Mbak Orin. Sungguh, saya juga berdoa untuk kesuksesan Mbak Orin. Allaahumma aamiin….

  20. Halim says:

    Selamat atas kesuksesan bukunya, Pak… Jadi terinspirasi juga dan tambah paham apa itu sistem royalti dan beli putus. πŸ™‚

    ———
    Makasih banyak ya, Mas Halim. Semoga kita semakin semangat dalam berkarya ya….

  21. Fauzul Andim says:

    Selamat ya ustadz atas buku2nya yang laris manis

    Semoga saya bisa mengikuti jejak panjenengan

    Kalu boleh, setelah naskah saya jadi sekitar akhir januari apa boleh minta tolong ustad untuk membacanya/mengeditnya hehehhehe

    ———
    Alhamdulillah…, makasih banyak ya, Mas. Sebenarnya bukan mengikuti jejak kok, Mas, tapi mari kita melangkah bersama. Soal membaca/mengedit tentu menyenangkan, tapi mari kita lihat nanti waktunya ya, Mas.

  22. el-basyier says:

    Selamat ya, Pak! Ingin sekali jadinya sy ikut menulis. Ingin juga tulisan sy lalu bisa diterbitkan oleh salah satu penerbit. Bener-bener iri sy Pak Ust.

    ———
    Alhamdulillah…., makasih banyak ya, Mas. Yuk, mari kita sama-sama terus bersemangat menulis; karena sesungguhnya saya juga masih belajar dan belajar kok, Mas.

  23. mawardi_rz says:

    selamat blognya mas kyai…. belajar nulis utk diterbitkan…

    ———
    Makasih banyak ya, Pak Dosen, iya nih…. mari kita sama-sama belajar menulis ya….

  24. jiah says:

    kapan yah aq kontak” penerbit??? πŸ˜€

    ———
    Segera saja, Mbak, bila naskahnya sudah selesai.

  25. cumakatakata says:

    wah, kl yang ini saya nyimak aja dulu ya Pak Ustadz…

    ———
    Nyimak sambil nyiapkan naskah ya, Mas. Kumpulan tulisan dari blog juga oke.

    • Cumakatakata says:

      Hehehe…
      semoga saja pak ustadz..
      apalagi ada sepupu saya yang tulisannya sudah dibukukan, jadi semakin tertantang.

      ———
      Siipppp…
      Allaahumma aamiin.

  26. Awan says:

    Infonya menarik Mas, Makasih Mas πŸ™‚

    Smg suatu saat bisa mengikuti jejak Mas Azzet…. Aamiin πŸ™‚

    ———
    Terima kasih banyak ya, Mas Imawan Anshari.
    Yuk, mari sama-sama kita belajar menulis, hehe… πŸ™‚

  27. Ilham says:

    wah keren. info baru bagi saya. selamat atas bukunya. moga2 saya bisa ikutan giveaway-nya juga nih mumpung masih ada waktu. wassalam.

    ———
    Makasih banyak ya, Mas Ilham. Iya neh, saya tunggu ikutan giveawaynya ya….

  28. abi_gilang says:

    Informasi yang sangat bagus nih ari Pak Ustadz untuk para blogger yang mau menulis buku dan diterbitkan kepada khalayak ramai. Terima kasih Pak Ustadz.

    ———
    Sama-sama, Kang, saya juga makasih banyak atas kunjungannya. Ikutan GA yang saya adakan ya….

  29. Mas, biasanya 1 buku itu dihargai berapa ya dalam menawarkan buku kepada penerbit.
    saya butuh bantuan mas. saya mempunyai buku arsitektur yang sangat rinci dari 3d eksterior dan interiornya dan juga gambar kerja nya juga.
    Perkiraan Mas ini, buku saya dihargai berapa ya?
    Karena dalam waktu dekat ini, saya ingin mengajukan buku saya.
    Maklum pemula takut kemahalan dan kemurahan dalam nego.

    Terima Kasih.

    • Haduh ada yang kelupaan.
      Oiya biasanya , buku yang kita ajukan itu dibawa rapat dulu tidak sih.
      takutnya buku kita di tinggal terus di terbitkan secara sembunyi sembunyi. Kita gigit jari deh.

      ———
      Bila tidak dalam keadaan terpaksa, sebaiknya buku tidak diterbitkan dengan model dijual putus, Mas, tapi secara royalti. Kalau royalti biasanya penulis mendapatkan 10 % dari penjualan buku yang laku di pasaran. Namun, bila terpaksa, harga jual putus itu beragam, ada yang per halaman 18ribu, 20ribu, dst., bahkan yg paling murah, setahu saya ada yang per halaman 11ribu. Kalau bisa Mas tawarkan dulu ke penerbit-penerbit besar yang telah menerbitkan model naskah yang setema yang kita tahu alamatnya dari banyak buku di toko2 buku.

      Ohya, soal naskah yang kita tawarkan dibawa rapat ga sih? Bila itu penerbit besar, tentu naskah yang masuk dipertimbangkan di redaksi. Mengenai “diam-diam diterbitkan sendiri”, setahu saya kalau itu penerbit besar, kayaknya nggak deh, Mas, mereka juga tidak mau membanting sendiri reputasinya dengan hal seperti itu.

  30. Badiuzzaman says:

    Assalamualaikum..
    Berdakwah melalui tulisan…
    Semangat ustadzhh..

    ———
    Wa’alaikumusalam wr.wb.
    Berdakwah dengan cara yang kita bisa ya, Mas.
    Yuk, semangat selalu.

  31. Pingback: Langkah Mudah Menerbitkan Buku | Akhmad Muhaimin Azzet

  32. Mechta says:

    semakin membuka mata… *dan semakin membuat kepengeeen* hehe… doakan semoga tak hanya berhenti pada keinginan saja ya mas…

  33. redi hardianto says:

    saya pengen nulis novel tp masih rencana.. trims buat pencerahannya.. sangat bermanfaat…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Semoga segera terlaksana ya, Mas Redi Hardianto. Makasih juga telah singgah kemari yaaa.

  34. dias s says:

    assalamualaikum, mas bisa pandu cara buat buku? saya orangnya suka bercerita, saya sering dapet ide buat dituangkan dalam bentuk tulisan, tapi karena gak ditulis jd lupa gitu aja. pengen apa yg saya pikirkan dan khayalan khayalan saya bisa jd buku.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Nah, suka bercerita itu sudah modal yang sangat penting. Tinggal cerita itu dituangkan sedikit demi sedikit dalam bentuk tulisan. Misalnya, dibagi per bab atau judul. Bila ceritanya panjang bisa jadi novel. Bila ceritanya pendek bisa jadi kumcer atau kumpulan cerpen.

  35. anisa says:

    Ass. Pak mau tanya kalo bpk pertama kali nerbitin buku berapa biayanya kira2. Hehe trimakasih

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Selama ini saya nerbitin buku tidak pakai biaya, Mbak Anisa. Jadi, yang membiayai semuanya adalah penerbit yang menerbitkan buku tersebut. Saya hanya menyerahkan naskah, selanjutnya mendapatkan royalti.

  36. Rohim says:

    Assalamu’alaikum Pak, saya mau tanya, kalau untuk lomba cerpen yang kemudian naskah pemenang cerpen dibukukan dan dibeli putus cerpennya untuk nanti dijual dalam bentuk buku fisik dan ebook, memang standar honornya berapa ya Pak? Terima kasih

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Mengenai harga berapa buku apabila dijual putus ke penerbit tentu berbeda-beda antara penerbit satu dengan penerbit lain, juga antara buku satu dengan buku yang lain (karena ketebalan dsb). Nah, dari nego harga itulah nanti hasilnya akan dibagi dengan para penulis yang ada dalam buku antologi cerpen tersebut.

  37. abdul latif says:

    Assalamu’alaikum warahmatullah,
    artikel 2 tahun lebih masih eksis… Selamat
    dan yang bikin saluttt, tiap komen ditanggapi (jarang yg bisa seperti ini), buat saya juga gatel pengen komen :).

    1. Yang nentuin harga jual nanti siapa ya?
    2. Bisa rekomendasi penerbit mana yang cocok untuk pemula dengan tema islami, khawatir dengan m*** kabarnya s*** (belum dimulai sih nulisnya, cuma ide sepintas “sepertinya nulis buku tema ini, asyik dah,” selanjutnya hilang dalam kesibukan rutin).

    Terima Kasih reply-nya.
    Wassalamu’alaikum warahmatullah.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Alhamdulillaah…, makasih banyak yaa πŸ™‚

      1. Yang menentukan harga jual adalah penerbit.
      2. Sekarang penerbit banyak sekali. Maka, kebutuhan akan naskah juga tinggi. Pada saat seperti ini, penerbit tidak begitu menilai apakah penulis ini pemula atau bukan. Yang penting adalah naskahnya. Untuk rekomendasi, coba saja penerbit2 besar yang bukunya ada di toko2 buku yg nerbitin buku islami. Banyak kok penulis yang baru pertama kali menulis dan langsung diterima. Semoga sukses ya, Mas Abdul Latif.

  38. guna says:

    Thangk’s infonya insipiratif

  39. saya bukan lah penulis handal tapi kebetulan saya menekuni pekerjaan aluminium kemudian saya coba tulis diblog cara belajar aluminium kemudian saya dapat ide terus saya tulis menjadi sebuah buku dan saya tawarkan sendiri di blog dan web saya sampai sekarang rencana nya buku tersebut mau saya tawarkan ke penerbit tapi belum tahu langkah nya seperti apa.sebaiknya tetap seperti sekarang atau lebih baik kita jual ke penerbit (sekarang terjual 15 sampai 20 buku perbulan dengan cara saya print sendiri saya kirim ke alamat pembeli via pos dan biaya di tranfers ke rek saya)

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Cara yang panjenengan lakukan itu boleh dikatakan sebagai cara indie, yakni menerbitkan (mencetak atau menfotokopi lalu menjual sendiri). Cara yang seperti ini juga banyak dilakukan oleh teman-teman. Bila panjenengan sudah cocok dengan cara ini tentu saja tidak masalah untuk dilanjutkan terus.

      Namun, bila ingin mencoba pengalaman baru, bisa juga menawarkan ke penerbit. Cara yang paling mudah biasanya saya menawarkan ke penerbit melalui email. Atau, kadang datang langsung ke penerbit agar dapat berkomunikasi dengan lebih gamblang.