Tempat Tinggal yang Membahagiakan Seusai Nikah

pengajian manten, nikah, akhmad muhaimin azzet, amazzet

Peringatan untuk para juru foto: nunggu ekspresi yang bagus doong, hehe…

Bila dua cinta telah dipertautkan dalam sebuah akad nikah yang suci, berarti kini menjadi halal segala yang sebelumnya diharamkan. Dua jiwa itu kini bersatu dan telah sah menjadi suami dan istri. Maka, merajut hari-hari indah selanjutnya, keduanya dipersilakan mempertemukan getaran-getaran cinta, mereguk madunya, dan saling memberikan belaian kasih dan sayang dalam taman rumah tangga yang penuh dengan pesona. Dan, inilah yang perlu saya tekankan duhai pembaca tercinta, yang dilakukan oleh suami dan istri itu, yang betapa penuh kebahagiaan itu, semuanya mendapatkan pahala di sisi Allah Swt. Subhanallah!

Sungguh, betapa bahagianya menikah itu. Betapa nikmatnya membangun rumah tangga itu. Maka, jauh hari sebelum menikah biasanya orang sudah memikirkan perihal bila sudah menikah akan tinggal di mana. Hal ini perlu dipikirkan dan didiskusikan agar suami dan istri sama-sama sesuai dengan keinginannya masing-masing, sehingga dapat menikmati kebahagiaan setelah menikah itu.

Biasanya ada tiga pilihan dalam hal memilih tinggal di mana setelah menikah ini. Pilihan pertama adalah tinggal di rumah sendiri. Dalam arti, pasangan suami dan istri yang baru saja menikah sudah mempunyai rumah sendiri, entah dengan jalan membeli rumah yang sudah jadi atau membangun sendiri. Namun, pilihan pertama ini sepertinya tidak banyak terjadi. Sebab, kebanyakan orang yang baru menikah, secara ekonomi masih perlu membangun dari awal. Dan, apabila hal ini memang sudah terjadi pada diri Anda, sangat perlu Anda untuk benar-benar bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya ini.

Pilihan yang kedua adalah ikut tinggal bersama orang tua. Ikut tinggal bersama orang tua ini bisa jadi tinggal bersama orang tua suami atau boleh juga tinggal bersama orang tua istri. Ikut tinggal bersama orang tua ini sudah barang tentu ada enak dan tidak enaknya. Enaknya, seorang suami dan istri bisa sama-sama belajar dalam membangun rumah tangga kepada orang tuanya. Tidak enaknya, sudah barang tentu pasangan suami dan istri yang baru saja menikah tidak bisa bebas mengatur rumah tangganya sendiri secara sepenuhnya. Masing-masing orang sudah barang tentu pula mempunyai pertimbangan sendiri dalam memutuskan untuk tinggal di mana setelah menikah ini.

Pilihan yang ketiga adalah tinggal di rumah sewa atau rumah kontrakan. Pilihan tinggal di rumah kontrakan ini biasanya lebih dikarenakan desakan keinginan untuk belajar mandiri sepenuhnya dalam berkeluarga. Dan, dalam mencari rumah sewa atau kontrakan, biasanya juga disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing. Ada yang memilih untuk tinggal atau kontrak rumah yang bagus dan otomatis biayanya mahal. Namun, tidak sedikit pula yang tinggal di rumah kontrakan yang sederhana.

Demikian pula dengan saya. Seusai akad nikah yang berlangsung dengan khidmat. Bahkan, ada tetes air mata yang bagaikan mutiara membasah di pipi istri tercinta. Dan, seusai resepsi pernikahan yang berlangsung secara sederhana. Dilaksanakan di masjid tercinta. Hanya ada khatmil Qur’an bil ghaib (ini kado terindah dari para sahabat penghafal al-Qur’an), pengajian, dan iringan rebana dengan lantunan shalawat semata (maksudnya tanpa ada pesta sebagaimana lazimnya). Dan, seusai beberapa hari tinggal di rumah mertua, kini “Selamat datang duhai istri tercinta, di rumah kontrakan yang hari demi hari akan kita bangun dengan keindahan!”

Berkaitan dengan tempat tinggal, persoalan sesungguhnya, menurut saya, bukan pada rumah kontrakan atau tidak (ikut orang tua atau rumah sendiri). Tetapi, lebih pada bahwa setiap orang yang sudah membangun rumah tangga, sudah barang tentu membutuhkan tempat tinggal yang membahagiakan. Sebuah tempat tinggal yang bisa ditempati pasangan suami dan istri, kelak juga anak-anaknya, sebagai tempat yang terasa damai dan menenteramkan. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. mengibaratkan sebagai, “Rumahku adalah surgaku.”

Maka, tinggal di mana pun, yang paling penting adalah bagaimana membuat rumah yang kita tempati menjadi barakah. Menyejukkan bagi setiap penghuninya. Membuat betah. Dan, ada suasana yang membuat penghuninya untuk senantiasa rindu beribadah. Maka, jangan pernah berkecil hati bagi Anda yang belum mempunyai rumah sendiri, yang masih ikut tinggal bersama orang tua, atau yang masih tinggal di rumah kontrakan. Sekali lagi, yang penting adalah bagaimana membuat rumah yang kita tinggali sebagai tempat yang membahagiakan.

Salam keluarga bahagia,
Akhmad Muhaimin Azzet

This entry was posted in Menikah and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

150 Responses to Tempat Tinggal yang Membahagiakan Seusai Nikah

  1. Jadi Ingat waktu di PIM (Pondok Mertua Indah) Pak, he,,, he,,, he,,,

    Salam

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Istilahnya saja sudah PIM ya, Pak Indra Kusuma Sejati: Pondok Mertua Indah. Jadi, di mana pun tinggal yang penting bagaimana membangun kebahagiaan keluarga ya, Pak 🙂

      Salam juga.

  2. cheila says:

    Waaa…..aq jadi pengen segera menikah nih ustad..hahahaha…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Semoga segera terkabulkan ya, Mbak Cheile… 🙂
      Aamiin ya Kariim…

  3. HM Zwan says:

    rumah di batam kosong pak gr2 suami pindah kerja di Siak,jadi skrg ngeskos hehe….bener banget pak,gpp di kos2n yg penting senang,bahagia dan berkah 😀

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Nah, itu kuncinya ya, Mbak HM Zwan, yang penting senang, bahagia, dan berkah 😀 Salam dari arek nJombang untuk suami ya, Mbak.

  4. nh18 says:

    Setuju Pak Uztadh …
    tinggal dimanapun … yang penting … Menyejukkan bagi setiap penghuninya

    Bukan saja lahiriah … tetapi juga bathiniah

    Salam saya Uztadh

    (13/2 : 1)
    (blog pertama yang saya kunjungi dan komentari hari ini) 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Menyejukkan bagi setiap penghuninya. Yup, inilah sesungguhnya dinamakan tempat tinggal ya, Om.
      Salam hangat juga dari Jogja.

      (sungguh makasih banyak ya, Om, dikunjungi pertama neh 🙂

  5. dani says:

    maturnuwun sanget Pak… Adeeem bacanya. Ngingetin saya untuk banyak-banyak bersyukur.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mas Dani, kalo tak banyak bersyukur, rasanya rugi sendiri yach 🙂

  6. Anton says:

    Awal menikah, nebeng di PIM. Pertimbangannya tinggal di PIM karena saran dan keinginan dari mertua, agar ga usah ngontrak. Anggaran utk ngontrak mendingan ditabung buat membangun rumah. Alhamdlh di tahun ketiga tadz… Allah memudahkan kami shg bisa menempati rumah sendiri…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Nah, itu pertimbangan yang juga bagus sekali ya, Mas Anton. Alhamdulillaah, saya turut bersyukur dan bahagia ya, Mas, semoga semakin penuh keberkahan keluarga Mas Anton.

  7. aku juga pengen mendapat calon yang memiliki visi dan misi sama dan juga bisa saling support dengan berbagai aspek keluarga hehehe..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Penting sekali itu, Mas Muhammad Khoirudin. Semoga terkabul. Allaahumma aamiin…

  8. Lidya says:

    tinggal dimanapun yang penting sama-sama suami kalau saya 🙂 Allhamdulilah sejak nikah langsung mandiri pak walapun tinggal dirumah yang sederhana

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Pokoknya tinggal bersama suami ya, Mbak Lidya 🙂
      Alhamdulillaah, saya ikut berbahagia mendengarnya, Mbak, semoga senantiasa penuh dengan berkah dari-Nya.

  9. mechta says:

    Dimanapun tempat tinggalnya, yang penting suasana islami yang diciptakan bersama, ya Pak.. 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Alhamdulillaah, dengan suasana islami maka terciptalah “Rumahku adalah Surgaku” ya, Mbak Mechta. Aamiin…

  10. Idah Ceris says:

    Kalau udah jdi isteri, tinggal manut sama suami ntar mau tinggal dimana ya, Pak. Yang penting nyaman lahir bathin. 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Ikut suami deh pokoknya, yg penting nyaman lahir dan batin 🙂 Iya, Mbak Idah, aamiin ya Kariim…

  11. membacanya jadi rindu ingin segera menikah pak, 🙂 semoga bisa terlaksana, sebuah cita2 semua orang yg begitu besar, menikah dan punya rumah sendiri. 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sebuah kerindua yang semoga menjadi doa yang segera terkabulkan ya, Mas Hanif Mahaldi. Menikah dan membangun keluarga yang bahagia. Aamiin…

  12. ferdi lpu says:

    Setuju pak.. Tinggal dimanapun yang penting kita bahagia …

  13. kakaakin says:

    Tinggal di mana saja boleh, asalkan bahagia ya, Pak 😀
    Tetapi tak jarang orang tua meminta anak mereka masih tinggal bersama mereka. Seperti cerita teman saya, beberapa bulan di rumah orang tuanya, lalu beberapa bulan lagi di rumah mertuanya, demikian terus secara bergantian. Akhirnya dia dan suaminya mutusin buat beli rumah sendiri. 😀

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Kebahagiaan itulah kuncinya ya, Kak, di mana pun tinggal.
      Iya, tak jarang orangtua yang menginginkan anak-anaknya tetap tinggal bersama, meski ada juga orangtua yang menghendaki anaknya segera berpisah setelah menikah dengan tujuan agar semakin dewasa menghadapi kehidupan.

      Hehe, tinggal bergantian itu nantinya jadi repot bila keluarga telah mempunyai perabotan sendiri yang banyak jumlahnya ya, Kak 🙂

  14. Pakde Cholik says:

    Setelah menikah saya menempati rumah dinas pinjaman dari Pertamina Balikpapan. Sempit pwol dan airnya menetes sak lidi. Tapi ya dinikmati saja. lalu pendah rumah yang agak besar, besar,besar dan besar he he he
    yang penting bisa bersama isteri
    Salam hangat dari Surabaya

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Pakde, yang penting bisa bersama istri. Dinikmati dengan tetap bersyukur maka kebahagiaan kan bertambah dan bertambah lagi. Alhamdulillaah…

  15. prih says:

    …..Menyejukkan bagi setiap penghuninya, membuat betah….. hakekat tempat tinggal yang membahagiakan. Ikut menikmati sharing menenteramkan ini ya Pak. Salam

  16. kadaang pasangan yg baru nikah ribut2 masalah ky gni ya ustad,
    smoga nnti kalau aku nikah, gak ribut urusan tnggal dmna, 🙂
    yg pntg nyaman dan seneng..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Semoga masalah seperti ini tidak menjadi sumber keributan ya, Mbak Ranii Saputra 🙂 Rumah tangga dibawa happy saja 🙂

  17. Blog Orang says:

    Tinggal dimanapun yang penting kita bahagia, setuju banget itu pak ustad

  18. Mugniar says:

    Setuju mas … bagaimana membuatnya (tempat tinggal) barakah …

  19. Yang pasti ngak tinggal di rumah mertua, tp kalo di beri rumah ama mertua yaa terima aja, itu rejeki hahaha

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Itu namanya joss ya, Mas, betul… diterima saja, lawong rezeki, hehehe….

  20. Raisa says:

    setuju paak. mau tinggal dimana aja, yg penying sih dalemnya membahagiakan ya 😀

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mbak Raisa, inilah intinya, yang penting membahagiakan. Makasih banyak ya, Mbak 🙂

  21. Alvie says:

    Setuju banget Pa Ustadz, dimanapun kita tinggal yang penting kebahagiaan ada bersama kita dan keluarga, lebih-lebih kita bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitar kita (double bahagianya) 😀

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Naaah itu, apalagi bermanfaat bagi orang lain atau lingkungan tempat kita tinggal. Sungguh, semoga kita menjadi manusia yang demikian. Aamiin… Makasih banyak yaaa 🙂

  22. ryan says:

    saya baru menikah selama 8 bulan, sudah punya rumah sendiri yg saya beli dengan kredit, namun setelah menikah karena istri saya adalah anak paling bungsu dan tipikal mertua yg ingin anaknya tidak jauh” darinya maka saya dipaksa untuk tinggal di dekat” area rumah tinggalnya (depok) sedangkan rumah saya di petukangan jakarta selatan. Saya mencoba bersabar untuk mengikuti keinginan ibu mertua,tapi berharap suatu saat nanti dapat tinggal di rumah sendiri, sy kesal dengan sikap egois ibu mertua itu, seharusnya saya dan istri membangun keluarga yg mandiri di rumah sendiri yang sudah saya siapkan sebelum menikah. Saya kesal dan sedih ustad,,,bagaimana lagi yang dapat saya lakukan…

    • ryan says:

      ditambah lagi tipikal istri yang bukan ngikut kemana suaminya mau tinggal 🙁 hiks hiks…dia inginnya kami membeli rumah lagi suatu saat nanti dengan keinginan lokasi bersama yang letaknya netral baik dari ortu saya dan ortunya (kebetulan waktu saya beli rumah sebelum menikah lokasinya sangat dekat dgn ortu saya,walaupun bgitu pdahal ortu saya tidak akan mencampuri urusan rmh tangga walau lokasinya sangat dekat)

      • Akhmad Muhaimin Azzet says:

        Mas Ryan yang baik, izinkan saya mengucapkan selamat dan ikut bersyukur bahwa panjenengan baru menikah 8 bulan tapi sudah mempunyai rumah yang dibeli dengan cara kredit. Sebab, tidak sedikit dari sahabat kita yang meski sudah menikah sekian tahun belum juga mampu membeli rumah meski dengan cara kredit. Sungguh, hal ini perlu disyukuri.

        Kedua, mengenai masalah yang terjadi, semoga Mas bisa mengatasinya dengan komunikasi yang baik dan kesabaran. Di samping itu, menurut saya, perlu ada usaha secara ruhani. Misalnya, setiap ba’da shalat, sebut nama istri dan kedua orangtuanya di hadapan Allah Swt. agar dilembutkan hatinya sehingga apa yang diinginkan panjenengan dapat dirembuk dengan lebih baik. Setelah itu, bacalah surat al-Faatihah. Dengan demikian, semoga Allah Ta’ala banyak memberikan kemudahan ya, Mas. Aaamiin…

  23. JESI says:

    Saya mau bertanya ustd, saya baru akan menikah oktober nanti, saat ini saya bekerja di kota asal saya dengan penghasilan yang cukup besar untuk ukuran perempuan sendiri. yg mana saya baru bekerja 9bulan. dilemanya calon sumai saya bekerja di jakarta, harusnya saya ikut suami setelah menikah namun pertimbangan lainnya masalah karir saya. sebenarnya saya ingin langsung ikut suami namun di sisi lain jika langsung ikut saya belum memiliki tabungan sendiri untuk pindah ke kota baru dan mencari pekerjan baru di jakarta. dan calon suami saya menyerahkan keputusan kepada saya. di satu sisi saya berfikir rejeki yang allah berikan saat ini mungkin karena rencana baik saya yg akan menikah. dan sekarang dengan penghasilan ini saya jadi ragu untuk melepaskan pekerjan saya dan ikut sumai nanti di jakarta. ragu takut nanti saya tidak dapat kerja/kerja tapi gaji tidak seperti yang saya dapat disini. sedangkan perbandingan hidup di jakarta lebih butuh banyak biaya. kami belum punya rumah, kontrakan dan sama-sama merantau di kota jakarta…
    bisakah ustd memberikan masukan dari pandangan islam dan juga tuntutan kebutuhan..
    apa yg seharusnya saya lakukan..??

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Mbak Jesi yang baik. Pertama, bila sudah menikah, sesungguhnya urusan memenuhi kebutuhan rumah tangga menjadi tanggung jawab suami. Kedua, idealnya dalam membangun rumah tangga, apalagi baru menikah, antara suami dan isteri berada dalam satu rumah yang membahagiakan. Dengan pertimbangan dua hal tersebut, kalo menurut saya kok alangkah bahagianya bila bersama-sama membangun rumah tangga bersama suami. Bila di awal-awal rumah tangga ada kurang ini atau itu tentu hal ini wajar saja. Yang penting berdua bersama suami terus bergandeng tangan sekaligus berdoa memohon banyak rezeki yang berkah. Sekali lagi, ini hanya pendapat saya lho, Mbak. Lebih bagusnya lagi Mbak melakukan dua hal:

      (1) Musyawaran dengan calon suami bagaimana baiknya; dipertimbangkan plus minusnya bila tetap tinggal di kota asal dan bila ikut ke Jakarta. (2) Shalat Istikharah memohon petunjuk kepada Allah Swt.

      Demikian, Mbak Jesi, semoga bermanfaat.

  24. Sisca says:

    akhamdulillaah,, sangat menyejukan membaca smuanya,, sukron ustad…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Alhamdulillaah…, terima kasih banyak ya, Mbak Sisca, semoga bermanfaat bagi kita bersama.

  25. rio says:

    Pak ustadz, saya anak tunggal, saya hidup dengan kedua orang tua saya yang Alhamdulillah masih sehat wal afiat, saya sudah mendapatkan calon istri, tetapi ada masalah sebelum menikah, dikarenakan, saya sebagai anak tunggal,dimana istri harus mempunyai perhatian lebih kepada orang tua saya, dikarenakan saya kasihan kepada orang tua saya yang sudah tua,tetapi orang tua calon istri saya,menghendaki kami untuk berumah tangga sendiri.Padahal orang tua saya menginginkan sang istri,setelah menikah untuk tinggal sementara di kediaman orang tua saya paling tidak 2-3 bulan untuk di ajari berbagai macam perihal rumah tangga . Tetapi sang orang tua istri ngotot untuk rumah sendiri atau mandiri.Kira2 langkah apa yang harus saya ambil pak ustadz, mengingat keadaan saya sudah mempunyai rumah sendiri hasil warisan orang tua saya, trimakasih pak

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Mas Rio yang baik, tinggal bersama orangtua, apalagi yang sudah tua tentu adalah hal yang sangat mulia. Sementara keinginan orangtua dari istri agar tinggal di rumah sendiri adalah kebaikan dalam membangun rumah tangga. Di sinilah penting bagi Mas Rio untuk bisa menyampaikan dengan cara yang baik kepada mertua. Bila ada kendala, penting bagi Mas Rio untuk benar-benar memohon kepada Allah Swt. setiap usai shalat fardhu dan tahajjud agar diberi kemudahan melangkah dan memutuskan hal yang terbaik oleh Allah Swt. Sebut nama kedua orangtua Mas Rio, kedua mertua Mas Rio, dan istri Mas Rio di hadapan Allah Swt., lalu bacakan al-Fatihah agar Allah Swt. memberikan petunjuk kepada Mas Rio. Demikian dan semoga bermanfaat.

  26. joko says:

    Assalamuaikum pak Ustad
    saya laki-laki sudah menikah 3 tahun, dan ingin membeli rumah sendiri.
    permasalahannya istri saya belum bisa menerima hidup dikampung, pengenya beli perumahan padahal harganya lebih mahal dan tidak terjangkau, alasanya istri belum siap dengan pergaulan masyarakat kampung.
    bagaimana seharusnya sikap saya sebagai seorang suami pak Ustad?
    apakah boleh memaksakan keputusan kita kepada istri?
    terimakasih pak Ustad

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Beberapa orang yang tinggal di kompleks perumahan kadang berkata, seandainya bisa di kampung ya, enak tentunya karena sosial kemasyarakatan lebih terasa. Namun, ada juga yang justru ingin tinggal di perumahan. Ini memang soal “rasa” dan “pertimbangan” yang berbeda. Oleh karena itu, penting bagi Mas Joko untuk ngobrol adem dengan istri tentang plus-minus tinggal di kampung dan perumahan, diskusi juga tentang kondisi keuangan yang dimiliki. Bila istri belum juga tertarik, setiap habis shalat sebut nama istri di hadapan Alloh Swt. agar dilembutkan hatinya dan mau tinggal di kampung jika itu memang yang terbaik menurut Mas Joko. Jangan main paksa karena ini tidak nyaman ke depan terkait hubungan secara batin dengan Mas Joko. Demikian semoga bermanfaat.

  27. joko says:

    Alhamdulillah…..
    Terimakasih pak Ustad, saya mendapat pencerahan, solusi yang menenangkan hati saya.
    maaf Ustad kalau boleh minta alamat emailnya? tolong kirimkan ke vbofficial84@yahoo.co.id
    kedepanya mungkin saya ingin konsultasi lagi, maturnuwun.

  28. rdk says:

    Dulu aku numpang selama 6 tahun di mertua. Mulai 2012 aku benar” “mandiri”. Mandiri bingits. Asyik coy…..

  29. yuhend says:

    Bagaimana jika suami menghendaki istri tggal brsama di rumah org tuanya (Ibu) dan adik2, krna Ayah suami sdah menggal… tpi istri mrasa kurang nyaman krna beberapa faktor.
    Bagaimna yg hrus dilakukan Pak?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Suami dan istri duduk berdua dengan hati yng tenang. Sama-sama mengungkapkan isi hatinya masing-masing. Saat suami biacara, sang istri mendengarkan sampai selesai; setelah itu ganti sang istri bicara sampai tuntas apa yang diinginkannya sementara sang suami hanya mendengarkan. Lalu, sama-sama dicari jalan keluar bagaimana baiknya.

      Mohon maaf, jawaban saya secara umum saja ya, Sob, karena saya tidak tahu nama “yuhend” ini suami atau istrinya. Tapi, semoga bermanfaat tips tersebut.

  30. Syukron jazila ya Ustad. Saya sangat setuju dengan artikel ini. Sesuai dengan kondisiku saat ini, sepertinya pilihan ke-3 adalah yang paling tepat.

    Salam..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Penginapan Online, dengan memilih yang ketiga semoga semakin kuat upaya untuk terus membangun keluarga secara mandiri.

  31. latifah says:

    Pak ustad Saya seorang istri yang tinggal bersama mertua sedangkan suami saya bekerja diluar pulau(kami tinggal terpisah)… Tetapi masalahnya saya tidak betah tinggal bersama mertua dikarenakan mertua belum memiliki rumah sendiri (tinggal dirumah nenek) jadi didalam rumah itu ada beberapa saudaranya ada 4 kepala keluarga (termasuk saya) jadi saya merasa serba canggung. Untuk memiliki rumah sendiri juga belum ada tabungan sebab unutk keluar dari rumah nenek mertua ini saya juga akan mengajak serta mertua saya agar bisa serumah dengan kami. Saat ini saya sudah benar benar jenuh tinggal disini karena banyak orang. Saya meminta ijin untuk tinggal bersama orang tua saya dan suami mengijinkan tapi saya lihat dia tidak ridha. Selain itu alasan saya untuk tinggal di rumah ortu sendiri saya ingin bekerja agar bisa menambah keuangan suami saya dan cepat terwujud untuk memiliki rumah sendiri… Sebaiknya tindakan yang benar bagaimana ustad agar tidak ada yang tersakiti trimakasih banyak pak….

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Mbak Latifah yang baik, hal yang penting adalah suami telah memberikan izin kepada Mbak Latifah untuk tinggal bersama orangtua. Suami kelihatan tidak ridha, tentu tidak bisa disimpulkan dari tampaknya saja. Terlepas dari itu, Mbak Latifah hendaknya terus-menerus berdoa kepada Allah Swt. setiap usai shalat agar melembutkan hati suami sehingga memahami keinginan Mbak Latifah. Seiring waktu sambil terus berusaha dan berdoa semoga ke depan bisa mempunyai rumah sendiri. Aamiin…

  32. Meisari says:

    Pak ustadz, saya seorang isteri yg tinggal terpisah dengan suami saya. suami sebagai tni di kota A dan saya pns guru di kota B. kebetulan di Kota B saya tinggal serumah dengan orang tua sedangkan ibu mertua jg tinggal se dusun dengan saya. Suami membebaskan saya untuk memilih tinggal dgn ortu atau mertua. Tetapi Ibu mertua saya meminta saya untuk tinggal bersamanya karena ia sendiri (suaminya sudah lama meninggal). Tp saya kurang cocok dengan sifat ibu mertua yg suka membicarakan kejelakan orang lain. sering berkomentar tentang apapun yang tidak sesuai. Di mana sebaiknya saya tinggal, dengan orang tua atau mertua.?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Bila memilih kenyamanan dan sesuainya karakter dan kedekatan, tentu tinggal dengan orangtua sendiri akan lebih menyenangkan. Namun, bila Mbak mempunyai prinsip yang teguh, termasuk di antaranya punya keinginan bisa mengubah ketidakbaikan ibu mertua yang suka membicarakan orang lain, maka tinggal di rumah ibu mertua adalah bagian dari dakwah yang semoga mendapatkan ridha-Nya.

  33. vee says:

    assalamualaikum pak rio

    saya mau menikah insya Allah bulan depan, saya ingin ngontrak tetapi calon suami saya tetep kekeh ingin tinggal dirumah orgtuanya, ini selalu menjadi bahan keributan. padahal orgtuanya sudah memberi kontrakan untuk saya tinggal tetapi calon suami saya tidak mau. sedangkan dia tidak mau juga untuk tinggal dirumah orgtua saya. tolong dibantu pak harus bagaimana saya. terimakasih sebelumnya

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Mbak Vee, mengenai hal ini sebenarnya dapat dimusyawarahkan dengan baik. Terutama nanti bila sudah menikah, di minggu-minggu pertama menjalani hari pernikahan, musyawarah dapat dilakukan dengan lebih intens dan mesra tentunya. Mbak Vee dapat mendengar apa alasan suami dan Mbak Vee dapat mengutarakan mengenai keinginan ini. Seusai shalat penting Mbak Vee mengadukan masalah ini kepada Allah Swt. Semoga Mbak Vee diberi kemudahan. Aamiin…

  34. fahmi says:

    assalamua’laikum wr. wb

    pa ust saya sudah menikah 2 tahun,saya dan istri masih tinggal di rumah orang tua istri saya (metua saya) kami sudah di karunia seorang anak ,saya ber ini siatif untuk ngontrak rumah karena malu sudah lama tinggal dengan mertua dan saya pun ingin mandiri pastinya dan merasa jengkel dan kesal terhadap mertua saya Tetapi Ibu mertua saya meminta saya serta anak istri saya untuk tinggal bersamanya karena
    katanya di rumah terasa sepi dan kebetulan istri saya dua besaudara dan adik nya masih duduk di smp jadi metua saya merasa kesepin gk ada teman katanya. Tp saya kurang cocok dengan sifat ibu mertua yg suka membicarakan kejelakan orang lain. sering berkomentar tentang apapun yang tidak sesuai. bahkan saya pun sering di komentari apa yang saya lakukan selama ini, dan istri sayapun sangat patuh tehadap perintah orangtua nya(mertua saya) di suruh apa pun dia slalu melakukan nya bahkan dia lebih patuh terhadap orangtua nya dari pada saya selaku suami nya,
    sekarang saya bingung pa ust saya harus tinggal Di mana? apa saya haus tinggal besama mertua yang suka berkomentar tehadap saya dan membiakan dia kesepian ?, apa saya harus ngontrak umah supaya bisa mandiri?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Mas Fahmi, membicarakan keburukan orang lain sungguh tidak baik; istri yang patuh ke orangtua tentu ini kebaikan yang perlu disyukuri, mestinya demikian pula istri patuh pada suami; dan tinggal pisah dari orangtua adalah cara agar seseorang dapat membangun rumah tangganya secara mandiri.

      Mengingatkan kelakuan orangtua yang tidak baik adalah kewajiban pula bagi kita. Tentu pula dengan cara yang baik dan tak cukup sekali bila diulang. Bila keberatan Mas Fahmi tinggal bersama mertua karena ini, tentu langkah ini harus dilakukan, di samping memang inilah di antara tugas dakwah.

      Bila ada hal lain pertimbangan ingin pindah atau mengontrak, silakan musyawarahkan baik-baik dengan istri. Bila belum berhasil, jangan lupa SETIAP usai shalat, sebut nama mertua, nama istri, dalam doa kpd Allah Swt. agar diberi kemudahan dalam masalah ini.

      Demikian ya, Mas Fahmi, semoga bermanfaat.

  35. fauziqbal says:

    Wah, kalau saya malah nomaden Pak..kadang di rumah orang tua, kadang di rumah mertua. Hehe. Insya Allah segera membangun rumah, semoga diberi kemampuan 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Tidak masalah, Mas Fauziqbal, berarti semakin banyak belajar kepada kedua orangtua. Semoga ya, Mas. Allaahumma aamiin…

  36. bunga says:

    Tadz mau tanya.. saya pnya pasangan dan memimpikan kelak untuk bisa menikah. Namun, asal kami beda daerah. Orang tua saya senang dg kepribadian pasangan saya ini, namun ortu saya tidak boleh kalo saya dibawa ke kampung halamannya setelah menikah nt. Bagaimana yg harus saya lakukan tadz? Menuruti orang tua dan pisah dg pasangan, atau tetap berjuang dg pasangan dan berusaha membujuk orang tua? Terimakasih

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Bunga yang baik, menghadapi hal ini hendaknya Bunga shalat Istikharah. Seusai shalat mohon petunjuk-Nya. Lakukan hal ini beberapa kali sampai mendapatkan kemantapan hati. Lalu, bismillah untuk menentukan pilihan.

  37. yanto pur says:

    pak saya anak pertama dr 3 bsaudara. sdh mnikah 4thn. tinggal drmh ortu bsama adik ke-2. adk no 3 kuliah. ortu q bharap sy y akan mnempati rmh induk sebgai ank tertua bsama ortu nntinya. namun istri ingin punya rmh sndiri. sbenarnya saya jg ingin merasakn mbangun RT sndiri scara mandiri. walaupun suatu saat mnempati kembali rmh induk ortu. sy bingung apakh mngikuti keinginan ortu atau istri..? matur nuwun..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Mas Yanto Pur yang baik, bila demikian maka menempati rumah induk menemani orangtua adalah kebaikan, sementara tinggal di rumah sendiri bersama istri adalah hal yang baik pula. Menurut saya, penting Mas Yanto untuk shalat Istikharah, mohon petunjuk Allah Swt. bagaimana baiknya. Shalat sunnah ini tidak hanya sekali bila belum mendapatkan kemantapan hati, diulangi lagi besoknya. Begitu ya, Mas, semoga bermanfaat.

  38. bunda raisya says:

    asslmkm ustd,,sy sdh mnkh hmpr 4thn,,skrg tggl drmh ibu suami,,sbnrnya pgn mndri tp suami g mau dgn byk alsan ,,krn dsni msh ad adik dr suami smw serba canggung wlw sdh lm dsni,,ibu sndr pgn qt kontrak atau bkin rmh kcl tp suami responnya sllu datar,,, bgmn ustad sehrsnya (pdhl aq g nglarang suami ngsh uang ke ibunya jstru suka diingetin,bhkan jk pny rjki sy jg suka ksh) tp suami suka ngsh uangnya ngumpet2 dr sy,gmn itu ustd ??mksh

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Bunda Raisya yang baik, setelah menikah memang anak tetap mempunyai kewajiban berbuat baik kepada kedua orangtua. Namun, anak juga ingin mandiri. Sungguh, ini adalah keinginan wajar. Orangtua yang paham mestinya dapat pula menyampaikan hal ini kepada anak-anaknya, silakan apabila ingin belajar mandiri.

      Mengenai memberikan uang, tentunya bagus apabila Bunda Raisya tidak melarangnya. Namun, apabila kadang memberikannya dengan sembunyi-sembunyi, daripada muncul pikiran yang tidak baik, menurut saya sebaiknya husnuzhan saja, mungkin suami melakukan itu punya alasan yang baik tersendiri.

      Mengenai tinggal di rumah secara mandiri, penting Bunda Raisya untuk berkomunikasi secara baik dengan suami. Ini usaha lahiriahnya. Sebelum berbicara, penting juga untuk mendahuluinya dengan usaha recara ruhani, yakni sebut nama suami dalam doa ba’da shalat agar Allah Swt. melembutkan hatinya dan memberinya petunjuk, lalu bacakan surat al-Faatihah.

      Demikian, semoga bermanfaat, wallaahu A’alam.

  39. resa says:

    Assalamu alaikum pa ustd.
    Saya berencana tahun depan menikah, namun saya masih bingung. Saya ingin sebelum menikah, calon suami membeli rumah terlebih dahulu. kebetulan saya anak tunggal dan sampai sekarang kedua ortu saya tinggal bersama dan masih kontrak. Calon suami sempat berbicara bahwa dia ingin membeli rumah sendiri agar tidak tinggal dengan ortu nya ataupun ortu saya. Yang menjadi pertanyaan sebaiknya setelah menikah ortu saya ikut dengan saya atau tidak? Disatu sisi saya kasihan dengan ibu saya karena beliau belum punya rumah dan tulang punggung adalah saya sementara ayah sampai sekarang tidak bekerja, namun di sisi lain saya takut ortu saya terlalu mencampuri karena selama ini mereka selalu menjadi pembuat keputusan setiap langkah saya dan saya takut calon suami nantinya keberatan untuk tinggal bersama mereka, karena di setiap pembicaraan kami, calon suami ingin kami hidup mandiri. Sebaiknya gimana ya pa ustd? Terima kasih

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Mbak Resa yang akan menikah, hal yang dikhawatirkan Mbak tersebut memang masih sebatas dugaan karena memang belum dikomunikasikan dengan calon suami maupun dengan orangtua. Menurut saya, tak perlu bingung terlebih dahulu. Sebelum menikah, banyak-banyaklah mendekatkan diri kepada Allah: memperbaiki shalat, puasa sunnah, plus shalat tahajjud. Lalu berdoa dan memohon yang terbaik kepada-Nya. Semoga yang dikhawatirkan Mbak Resa tidak terjadi. Allaahumma aamiin…

  40. aflin says:

    Assalamualaikum, pak mau tanya. Saya dua bersaudara, kakak saya sudah menikah dan menetap di provinsi lain. Sedangkan saya diminta kakak untuk tinggal bersama orang tua. Menemani mereka. Orang tua saya sendiri pernah bilang kalau bisa nanti kalau sudah menikah punya rumah sendiri supaya bisa membangun rumah tangga secara mandiri. Seiring berjalannya waktu ibu malah menyarankan supaya saya tetap tinggal bersama orang tua, bahkan jika saya memiliki suami nanti disuruh mencari pria yg mau tinggal di rumah ortu saya. Padahal disatu sisi saya juga ingin mandiri seperti orang tua saya tapi disatu sisi saya seperti tidak tega menolak saran ibu. Saya dari dulu adalah gadis penurut ibu. Apa yang di sarankan selalu saya turuti. Akan tetapi untuk kali ini saya ingin memutuskan kebahagiaan mandiri dengan pasangan. Bagaimana ya pak uztad? Bagaimana hakikat Istri harus menuruti suami dulu baru orang tua?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Mbak Aflin yang baik, membangun rumah tangga secara mandiri adalah kebaikan; menemani orangtua di masa tuanya adalah kebaikan juga. Menurut saya, hal ini dapat dibicarakan baik-baik dengan suami suatu saat nanti. Jika memang terpaksa harus tinggal tidak serumah dengan orangtua karena pekerjaan suami, misalnya, tentu orangtua biasanya bisa mengerti. Maka, sebelum itu semua terjadi, penting bagi Mbak Aflin untuk sering berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla memohon jalan hidup yang terbaik. Jika Allah Swt. telah memutuskan takdir-Nya, insya Allah nanti baik bagi orangtua dan baik pula bagi anak. Termasuk nanti jika jalan hidup mesti bersama orangtua, misalnya, insya Allah yang terjadi adalah yg terbaik. Demikian, Mbak, semoga bermanfaat, wallahu a’lam.

  41. pipit says:

    Assalamualaikum pak ustazd, saya baru menikah 10 bulan yang lalu, dulu selepas menikah saya ikut suami tinggal di bogor, disana saya sempat beberapa hari menetap di rumah mertua , namun pada akhirnya kami sepakat untuk mengontrak. Selama 6bulan saya dan suami hidup berdua, saya sadari tinggal bersama dengan suami adalah hal paling indah dan membahagiakan karna semua yang mengatur saya dan suami tidak ada campur tangan orang lain, tp karna kami sedang kesulitan finasial saya berinisiatif untuk mencari kerja di daerah bogor, tp karna status saya sudah menikah , saya banyak di tolak, lalu akhirnya saya meminta pekerjaan kepada ayah saya dan akhirnya saya harus bekerja dan menetap di banten, terkadang saya merasa berdosa karna tidak berada di samping suami saya, apakah saya harus meninggalkan pekerjaan saya ini pak ustadz ? Apa pandangan islam trhadap wanita yang sudah mempunya suami, namun tidak bisa melakukan fungsinya sbg istri ? Mhn pencerahannya pak ustadz. Terima kasih, wassalamualakum

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb., Mbak Pipit.

      Memenuhi kebutuhan rumah tangga atau menafkahi keluarga adalah kewajiban suami. Akan tetapi, bila kebutuhan rumah tangga belum tercukupi dengan baik, kadang istri membantu suami; atau istri bekerja memang agar ilmu yang dipelajarinya di kampus dapat diterapkan di bidangnya. Terpenting dari semua ini adalah musyawarah yang baik antara suami dan istri. Bila suami tidak keberatan istri membantunya bekerja, dan bila istri dapat menjaga diri dengan baik ketika bekerja, tentu hal ini bukan hal yang terlarang. Semoga Allah Swt. memberikan banyak kemudahan ya, Mbak.

      Demikian, semoga bermanfaat, wallahu a’lam.

  42. Meta says:

    Asw ustad, saya mau tanya.
    sejak anak saya lahir, saya pindah ngontrak sendiri, tiap weekend orang tua saya datang, alasannya menengok cucu. Memang cucu pertama, saya maklum. Tp kadang saya pingin juga menghabiskan waktu weekend hanya dgn suami dan anak saya, saya pingin ada waktu sendiri dengan keluarga kecil saya. Apa yg harus saya lakukan? Orang tua senang sekali dgn cucu nya. Saya ga tega klo melarang, saya juga takut dosa krn mungkin melukai hati orang tua. saya mau nya ada kesadaran sendiri.
    Demikian. Terima kasih

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Mbak Meta, menengok cucu, apalagi cucu pertama, tentu kebahagiaan tersendiri bagi orangtua. Mengenai keinginan sesekali agar orangtua tidak menengok sehingga Mbak Meta dapat weekend hanya bersama keluarga kecil saja, sebenarnya tidak masalah dibicarakan dengan suami atau dengan orangtua, asal cara bicaranya lembut dan baik. Insya Allah orangtua bisa mengerti. Jika diam dan tidak menyampaikannya bisa jadi orangtua tidak paham dengan keinginan anak.

      Namun, bila tidak enak hati untuk membicarakannya, Mbak Meta bisa saja membuat rencana untuk weekend ke mana begitu. Jauh hari sudah disampaikan ke orangtua agar minggu depan tidak ke sini dulu nggih, insya Allah minggu depannya sangat ditunggu. Semoga orangtua akan bisa mengerti.

      Demikian, Mbak Meta, semoga bermanfaat.

  43. adjie says:

    pak ustad. saya mau tanya?
    saya baru ditinggal kedua ortu saya meninggal. dan saya 2 bersaudara.. adik saya kerja di jakarta. saya tinggal sendiri dirumah menjaga rumah keluarga. setelah saya menikah. istri saya gk mw tinggal dirumah saya dngan segala alasan. sedangkan saya pengen hidup mandiri dirumah tinggalan ortu saya. tpi istri saya gk mau.. dia tetap pengen saya tinggal dirumahnya. dikarenakan ibunya sendiri. tpi saudara ibu istri saya rumahnya ngumpul saling bersebelahan. jdi mskipun sendiri gk mungkin kesepian. tpi istri saya tetap bersih keras untuk tinggal dirumahnya. sedangkan rumah saya dibiarkan kosong.. saya mohon pencerahanya ustad.. saya binggung… terima kasih

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Mas Adjie, tentu jalan keluarnya adalah musyawarah dengan kepala dingin bersama istri. Namun, bila hal ini tidak menemukan jalan keluar, penting bagi Mas Adjie untuk berdoa atau memohon jalan keluar kepada Allah Swt. setiap habis shalat. Mohon pula agar hati istri Mas Adjie dianugeri kelembutan oleh Allah Swt. Bacakan juga surat al-Faatihah setelah menyebut nama istri di hadapan Allah Swt. Tiada lain hanya memohon kebaikan untuk istri dan Mas Adjie serta keluarga kepada Allah Swt. Lakukan hal ini terus-menerus dan dengan penuh kesabaran. Semoga mendapatkan jalan keluar yang terbaik ya, Mas.

  44. H AanHNas says:

    Di dalam pernikahan, akan banyak hal-hal tentang pasangan yang tidak Anda duga sebelumnya. Ketidaksiapan Anda menerima kekurangan pasangan akan berakibat buruk bagi pernikahan.Saat ikrar pernikahan diucapkan, itu tandanya Anda siap menerima pasangan dalam keadaan apapun.Jika ternyata anda belum bisa karena keterbatasan sebagai manusia, maka lakukanlah hanya karena Allah, dan insyaAllah semua akan lebih terasa melegakan.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Alhamdulillaah…, nasihat yang penting sekali itu, Sob, sungguh terima kasih banyak ya. Jazakumullah ahsanal jaza’.

  45. asnaini says:

    Assalamuallaikum
    Pak ustad saya mau tanya

    Saya udah pacaran hampir 7 tahun.dan saya sudah siap menikah lahir dan batin serta calon saya sudah mapan tapi dia akan menikahi saya jika saya tamat kuliah,tapi saya sudah ingin sekali menikah.

    Bolehkah kami menunda pernikahan kami.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Sudah lama sekali ya menjalin hubungan. Menunda pernikahan tentu boleh saja; yang tidak boleh adalah belum menikah namun melakukan perbuatan yang belum diperbolehkan. Semoga masing-masing dapat menjaga diri sehingga nanti dapat menikah dengan bahagia, lahir dan batin. Allaahumma aamiin…

  46. Saya berharap bisa mendapatkan pilihan no satu

  47. restu aulia says:

    Assalamu’alaikum
    pak ustad saya mau tanya

    saya sudah punya suami dan satu anak,selama 2 tahun lebih saya tinggal bersama mertua saya,tp skarang saya tinggal mengontrak sudah se tahun lebih
    suami saya sudah punya tanah di 3tempat,saya memberikan pendapat kepada suami saya agar menjual salah satu untuk membangun rumah, tp mertua yg laki tinggak mengizinkan,dia menyuruh kami untuk tinggal lg di rumah mertua saya,dan membuat rumah disana.
    tp saya kurang setuju, saya inginnya membuat rumah di tanah yg sudah kami beli sendiri, agar suatu saat tidak ada yg di permasalahkan nantinya,soalnya mertua sy itu agak keras wataknya
    namun suami saya inginnya menuruti apa kata bapaknya saja,
    harus bagaimana ya ustadz?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Mbak Restu Aulia, tentu masalah ini hendaknya bisa dibicarakan dengan tenang bersama suami. Apa keinginan Mbak beserta alasannya, apa keinginan suami beserta alasannya, dapat dimusyawarakan dengan kepala yang dingin. Tidak boleh menang kalah dan emosi di sini.

      Bila hal tersebut mengalami kebuntuan, ikhtiar dapat terus dilakukan, di antaranya dengan benar-benar memohon petunjuk kepada Allah Swt. bagaimana sebaiknya ini. Sebut nama suami dan mertua di hadapan Allah dengan membaca surat al-Faatihah. Demikian setiap usai shalat.

      Semoga menemukan jalan keluar yang baik ya, Mbak.

  48. Tryas Puspita Ruri says:

    Assalamualaikum pak ..
    Saya ingin berkonsultasi masalah saya dengan bapak.

    Begini pak,
    Saya sudah 3 tahun menikah dan sudah memiliki anak.
    Sampe sekarang, saya masih tinggal dirumah orangtua saya.
    Sebenernya suami, orangtua suami juga menyarankan untuk mandiri.
    Saya selalu menolak.
    Karna saya gak tega ninggalin orangtua saya terutama umi saya, bukan masalah saya gak mau mandiri ustad, tapi karna permasalahan pertama yaitu ekonomi orangtua saya ustad. Yang kedua, karna saya satu-satunya anak perempuan, anak terakhir, saya merasa saya yang harus mengurus orangtua saya, terlebih lagi orangtua saya sudah tua ustad.bapak saya sendiripun sudah gak kerja karna memang sudah tua.l, sudah waktunya istirahat. Umi pun melarang saya untuk pergi jauh dari mereka, kalo bisa malah selamanya dirumah orangtua saya. Kalo saya sendiri, memang begitu yang saya mau. Saya bener-bener gak tega ninggalin orangtua saya pak ustad, tolong pencerahannya..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Mbak Puspita Ruri, sungguh mulia dan penting menemai orangtua, apalagi di saat tuanya. Ini adalah wujud bakti anak kepada orangtua. Di sisi lain, istri yang taat kepada suami adalah kemuliaan yang besar sekali pahalanya.

      Maka, yang penting adalah Mbak bisa menyampaikan hal ini kepada suami. Tentu saja, suami juga mempunyai kewajiban berbakti yang sama kepada kedua orangtuanya.

      Antara suami dan istri hendaknya bisa sama-sama berbakti kepada kedua orangtuanya maupun mertuanya.

      Terus-menerus menyampaikan hal ini kepada Allah Swt. setiap usai shalat, termasuk perlu membangun shalat malam. Mohon agar Allah memberikan jalan yang terbaik. Perlu juga menguatkannya dengan puasa sunnah.

      Semoga dengan demikian akan ada jalan yang baik bagi suami dan istri. Allaahumma aamiin…

  49. deni susilowati says:

    Assalamu’alaikum pak.ustadz..

  50. sri says:

    assalamualaikum pak ustadz,,saya sudah menikah selama 7 tahun,dan sudah di karuniai satu anak sekarang sedang menanti kehadiran anak kedua,saya sudah 6 tahun tinggal bersama mertua,dan sekarang ingin mengontrak ingin mandiri,tapi mertua saya melarang,mereka ingin kami tetap tinggal bersama mereka,sedangkan saya sudah tidak betah lagi pak,malah mertua saya bilang klo mereka tidak ikhlas jika kami tetap pindah,padahal dirumah itu ada adik dan kakak ipar saya bersama istri nya,,apa yang harus saya lakukan pak,sedangkan suami saya juga bingung pilih istri atau orang tua,tolong pencerahan nya pak ustadz terimakasih

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Bagi suami, kata pentingnya adalah tetap memilih orangtua dan istri. Jadi, bukan pilih istri atau orangtua. Menurut saya, masalah ini perlu disampaikan dengan tenang kepada orangtua. Tidak berada dalam satu rumah bukan berarti tidak berbakti kepada orangtua. Terpenting lagi, setiap malam mohon kepada Allah Swt. seusai Tahajjud, diperkuat lg dengan doa setiap usai shalat fardhu. Semoga dianugerahi yang terbaik ya, Mbak Sri.

  51. Queenbeby says:

    Pa ustd sy blm menikah tp calon suami sy sudah membelikan rumah untuk nnti kita usai menikah, calon suami sy pun kerja nya jauh di luar pulau jawa, pertanyaan saya adalah apa hukum nya haram untuk saya menempati rumah itu sebelum menikah(tdk ditempati bersama calon suami sy), tmn saya bilang klo blom nikah jngn dlu di tempati atau menginap nnti nya menikah nya bisa batal. Apa benar pa ustd?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sesungguhnya tidak ada alasan (apalagi dalil) yang bisa dijadikan rujukan bahwa kalau sudah menempati rumah calon suami nanti nikahnya menjadi batal. Akan tetapi, ada hal yang penting untuk diperhatikan, yakni aspek mudharatnya. Apabila sudah menempati rumah yang diberikan calon suami, suatu saat calon suami datang ke rumah tersebut, dan ia memang punyai hak untuk memasuki rumah tersebut, sementara panjenengan sudah berada di dalamnya, sungguh ini berbahaya. Berdua-dua dengan dengan yang bukan mahram, termasuk calon suami, apalagi dalam satu rumah. Sungguh, ini berbahaya. Maka, hal ini sangat penting untuk diperhatikan. Demikian, Mbak, semoga bermanfaat.

  52. Nisa says:

    Assalamualaikum pak ustdz saya mau bertanya..,saya anak permpuan ke2 dari 3 bersaudara.saya sudah menikah 5th dan alhamdulillah sdh mempunyai 2 anak.sampai sekarang saya masih ikut dengan orang tua karena memang tinggal ibu sendirian ,ayah sudah meninggal.sebelum menikah suami kerja diluar pulau dan tidak keberatan untuk pindah kerja disini.saya tidak bisa meninggalkan ibu karena kakak lelaki saya dan keluarganya jg adik saya tinggal di luarkota.yang ingin saya tanyakan suami saya mempunyai keingginan untuk belajar hidup mandiri tinggal dirumah dekat tempat kerjanya tetapi ibu saya ajak tidak berkenan ikut.apa yang harus saya lakukan ustdz mohon pencerahannya.terimakasih.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Tinggal bersama ibu yang sudah sendiri tentu banyak kebaikan. Tinggal dekat tempat kerja dan belajar mandiri tentu juga pertimbangan lain. Apabila ibu tidak masalah anaknya belajar mandiri, apabila ibu diajak tidak berkenan ikut, yang penting Mbak Nisa dan suami mempunyai tekad untuk sering menjenguk sang ibu. Syukur bila hari libur bisa menginap di sana. Sering juga menelepon ibu untuk bertanya kesehatan dan sebagainya. Namun, mohon shalat istikharah untuk memutuskan hal penting ini.

      • Nisa says:

        Assalamualaikum..,terimakasih untuk pencerahannya pak usdz. maaf ada yg mau sy tanyakan lg tdk lama stlh itu trny suami sy skg hrs pindah tugasnya di jkrt.slma ini sy LDR krn sy sedang hamil anak ke 3.suami menginginkan sy & ank2 nantinya smua ikut menemani kjkrt.krn blm tahu sampai kpn tugasnya atau akan menetap dsna.mohon bantuan solusinya pak usdz?

        • Akhmad Muhaimin Azzet says:

          Wa’alaikumusalam wr.wb.
          Mbak Nisa, kata kunci yang penting dalam hal ini adalah di mana pun kita tinggal adalah buminya Allah Swt. Terpentingnya adalah hendaknya membangun rumah tangga yang sama-sama taat kepada-Nya, di mana pun tinggal. Jadi, menurut saya tidak masalah, Mbak, yang penting Mbak Nisa dan suami serta anak-anak bahagia.

  53. Gusfiadi says:

    Assalamu’alaikum pak ustad,,
    Saya ma nanya nih…
    Saya tuh udah punya rencana mau nikah,,, kan tujuannya biar sah dan mengikuti sunnah Rosulolloh SAW…
    Nah skarang tu saya suka berkarir gitu ke luar negri untuk kerja,,,
    kalo misalkan udaah nikah nih di Indonesia , udah sah jadi suami istri trus nantinya rencana saya tu mau nyari modal lagi k luar negri buat bikin usaha,, jdi pertanyaan pertama saya
    1. boleh gk tuh saya pergi lagi kerja ke luar negri, sedangkan istri saya masih tinggal dengan orang tuanya(tpi udah dibicarakan dulu dengan sang istri tentang ini misalny)
    2. Lalu untuk pertanyaan kedua, Untuk masalah menafkahi istri disini apakah wajib ato gimana nih pa ustad? Walaupun dia ini kan kerja di indonesia d saat saya kerja juga d luar negri

    Mohon Pencerahannya pa ustad,
    Terima Kasih Banyak…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb., Mas Gusfiadi.

      (1) Setelah menikah lalu kerja di luar negeri tidak apa-apa, apalagi sebelumnya sudah dimusyawarahkan.
      (2) Bagi suami, menafkahi istri itu wajib hukumnya, Mas, meskpun misalnya istri juga mempunyai penghasilan.

      Demikian, Mas, semoga bermanfaat, wallahu a’lam.

  54. effendi says:

    pak ,saya mau tanya..
    lebih utama bangun rumah dekat orang tua saya atau dekat orang tua istri saya ( Mertua ). Soalnya 2-2nya memberikan tanah untuk bangun rumah.
    mohon pencerahannya.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Mas Effendi, keduanya kalau menurut saya sama-sama baik. Bila bingung untuk memilihnya, memohon kepada-Nya tentu langkah yang sangat tepat. Semoga segera mendapatkan petunjuk dan kemantapan hati ya, Mas.

  55. nurul says:

    Assalamualaikum,
    ustad saya mau tanya, jadi sudah sejak lama saya berencana jika sudah menikah saya tidak akan tinggal di rumah orang tua atau pun mertua, saya ingin tinggal di luar daerah asal saya(saya dari sumatera), rencananya sih di daerah jawa atau jakarta, meskipun saya anak perempuan dan sulung, tp ortu saya tidak melarang dan malah mendukung rencana saya. tapi masalahnya di ortu calon suami saya. mertua saya melarang anknya tinggal jauh-jauh dr beliau, kami berdua sudah sering membicarakan masalah ini dan keputusan saya tidak pernah berubah. calon suami saya juga sepertinya tidak mungkin membantah ortunya dan saya juga tidak mau memaksanya. lalu sebaiknya apa yang kami lakukan.?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Tentu keinginan untuk tinggal di luar daerah ada alasannya, demikian pula calon suami. Kedua pertimbangan ini dapat didiskusikan untung dan ruginya. Seiring dengan berjalannya waktu, semoga nanti setelah menikah menemukan solusi yang cocok bagi suami dan istri.

  56. Herul says:

    Assalamu alaikum ustadz….saya baru menikah dan mau ngontrak rumah bareng dengan teman2 yang sebagian belum menikah. Apakah itu tidak masalah ustadz mohon penjelasannya.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Bila menghendaki privasi, tentu mengontrak rumah dihuni bersama dengan teman yang belum menikah, hal ini agak kurang. Lebih baik mengontrak satu kamar tapi dihuni berdua dengan istri. Ini kalau menurut saya lho, Mas Herul, dan bila panjenengan punya pertimbangan lain tentu keputusan terbaik di tangan panjenengan dan istri. Semoga hal terbaik yang terjadi.

  57. no name says:

    Assalamu alaikum pak uztad saya mau tanya calon membeli rumah sebelum menikah, dan saya yang suruh bangun rumah itu sebelum menikah
    Apakah itu di perboleh kan membangun rumah calon sebelum menikah/ ada ikatan?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Dalam hal ini tentu yang dibutuhkan adalah saling kepercayaan. Jadi, hubungannya masih sesama manusia, atau belum suami istri. Bila hal itu dilakukan maka lebih baik pernikahan juga disegerakan. Agar membangun rumah bila statusnya sudah suami istri tentu lebih enak semuanya.

  58. insan Adi Putra says:

    assalamualaikum pak ustad, saya lagi bingung, antara ibu dan istri, ibu saya menginginkan kita tinggal di rumah ibu, karena ibu saya sendiri, bapak sudah meninggal sedangkan istri saya, ingin keluar dari rumah dgn mencari kontrakan dgn alasan tidak betah dan tekanan batin. mohon bimbingannya

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Berbakti kepada ibu tetap menjadi kewajiban anak meski sudah berkeluarga. Berbuat baik kepada istri tentu juga kewajiban suami. Maka, menurut saya segera shalat Istikharah, mohon petunjuk kepada Allah Swt. Setelah salam, membaca istighfar dan shalawat Nabi yang banyak, lalu berdoa memohon petunjuk-Nya. Ini dilakukan beberapa malam sampai menemukan kemantapan hati.

  59. gadis says:

    Assalamualaikum pak ustadz,
    Saya menikah dengan suami sudah 3 thn lebih 2 blan …
    Setelah menikah saya tinggal drmah saya rumah kontrakan tp hak milik saya sendiri dan berdekatan dngan nenek saya,,tetapi mertua saya dr sejak saya menikah ingin saya dan suami tinggal bersamanya karna mertua saya janda dan tinggal brdua saja dengan adik suami saya
    Saya harus bagaimana pak ustadz?sedangkan saya mo hidup brrsama suami saja hidup mandiri dimana saja asal bersama suami dan skrg saya lg hamil.
    Saya takut secara batin tidak bahagia jika tinggal bersama mertua

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Hal ini memang harus dikomunikasikan dengan suami. Keinginan Mbak bagaimana, keinginan suami bagaimana, lalu dicari jalan tengahnya. Misal, Mbak ingin tinggal mandiri saja atau tidak bersama mertua, mungkin solusinya tiap sabtu dan minggu bersama mertua. Atau, akhirnya tinggal bersama mertua, tapi disampaikan dengan baik-baik mohon mertua kalau merokok di teras rumah saja atau ketika di luar rumah. Itu semua memang perlu dimusyawarahkan dengan baik-baik.

  60. gadis says:

    Terima kasih pak ustad mohon bimbingannya karna hal ini selalu menjadi pertanyaan hati saya,dan suami mungkin kata hatinya ingin bersama ibu dan adiknya ..
    Tetapi pertimbangan kedua saya ga kuat dengan asap rokok drmh mertua saya
    Terima pak ustadz

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Hal di atas itu usaha secara lahiriah. Selanjutnya, perlu dibarengi dengan usaha secara batiniah. Yakni, coba rajin puasa senin kamis, bila malam juga tahajjud. Seusai shalat malam, mohon kepada Allah Swt. agar diberi solusi yang terbaik. Semoga kabul ya, Mbak.

      Ohya, sama-sama ya, Mbak. Makasih juga atas kunjungannya ini.

  61. Widya says:

    Assalamualaikum.sya sudah menikah sama 2th,tetap blum jg d karuniakan anak dan msh tinggal sm orang tua.sedangkan adik sya perempuan sudah Menikah bru 2 bln, alhamdulillah sudah positif sedikit Sedih campur bahagia jg,,jd agak terbebani jg dgn pertanyaan2 yg kadang mengusik Hati dan pikiran sya,,sya sdh berusaha sabar,berfikir positif dan yakin keajaiban itu akan datang,sempat berfikir Untuk pindah dan kontrak, alasannya. Untuk menenangkan hati tp untuk menghindari timbulnya Penyakit hati,iri.tetapi dr awal sy menikah orang tua. Menginginkan sy untuk tetap tinggal bersama setelah adik sy tinggal Bersama jg, sy jd makin canggung.apa waktunya tepat untuk sya cari kontrakan dlm situasi sekarng. Mohon pencerahannya ustadz. Wasalam.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Pertama, anak adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah Swt. Ada yang dikasih cepat, ada yang lambat, sungguh ini bagian dari rahasia Allah Swt. Tugas kita adalah berprasangka baik saja kepada-Nya sambil terus berikhtiar dan berdoa.

      Kedua, mengenai pindah, hendaknya dimusyawarahkan dengan suami. Pertimbangan berikut plus dan minusnya ditimbang dengan hati dan pikiran tenang. Terpenting lagi, mohon petunjuk kepada-Nya. Semoga keputusan selanjutnya adalah yg terbaik. Aamiin…

  62. Assalamualaikum ustad ,
    Saya mau tanya nih ,,
    Saya udh 4th menikah , saya tinggal di rumah ortu saya ,
    Sblmnya ga ada apa” n suami jg adem ayem, tp ga tau setahun blakangan ini suami mnta pindah n ngontrak rumah sndiri alasannya ga suka sama saudara” saya yg dekat sini dan gasuka ma ortu saya gatau pikirannya suami saya itu jelek trus ke kluarga saya dia kaya dendam gitu gara” awal” dlu smua kluarga saya ga stuju saya sama dia ustad ,
    Lah masalah saya disini tentang orang tua , saya ga tega ninggalin orang tua ustad karna umi saya sdh sakit”an dan kluar masuk rumah sakit dan perlu ada anak yg nemenin dia buat makan/waktunya minum obat dll perlu ada yg bantu , saya anak perempuan sndiri ustad , ada adik saya anak trakhir yg tnggal brsama umi tp sdh klas 6 sd dan stelah ini harus pergi mondok , abah saya jg mash ada dan mash bisa kerja , tp saya ga tega kalo harus ninggalin kedua orang tua ustad , saudara saya laki” smua , se welas”e anak laki” ga mngkn kaya anak perempuan kan ustad lah saya bingung ,, sdngkan suami ga mau ngerti posisi sayaa ,,, mnta masukannya ustad sblmnya makash ya ustad 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Keberadaan Mbak agar dapat membantu orangtua, terutama ibu memang penting sekali. Akan tetapi, di sisi lain, bagi wanita yang sudah beristri taat kepada suami itu juga penting sekali. Oleh karena itu, ada dua langkah yang menurut saya yang dapat dilakukan. Pertama, bicara kepada suami dengan kepala yg dingin, dari hati ke hati, bagaimana baiknya akan masalah ini.

      Kedua, mohon petunjuk kepada Allah Swt. dengan memperbaiki shalat lima waktu, suka puasa sunnah senin dan kamis, dan shalat tahajjud. Selama melakukan amaliah, setiap usai shalat memperbanyak istighfar dan shalawat Nabi. Seusai itu berdoa kepada Allah Swt. Mohon petunjuk sebagaiknya bagaimana langkah ke depannya. Demikian, Mbak, semoga mendapatkan petunjuk dan kemantapan hati untuk melangkah.

  63. hamba allah says:

    Assalamualaikum ust.. sy dgn pasangan sudah mantap 2bln lg menikah namun terhalang orgtua sy, krna beliau ingin sy ttp tinggal bersamanya drmh dgn alasan tdk mau ditnggal sy smpe kpnpun. Pdhl disamping rmh trdpt rumah kk” sy, sampingan gitu stadz.. Namun disisi lain ibunya pcr sy sngt mmbutuhkan sy, krna beliau(seorg janda) sdh tua&suka sakit”an. Sy pribadi tdk mmpermasalahkan jika sy merawat mertua sy, Namun orgtua sy ttp kekeh tdk mengizinkan menikah bilamana sy tinggal dirumah mertua, Ya allah stadz apa yg harus sy lakukan? Disisi lain sy tidak tega bila orgtua sy smpai sakit memikirkan hal ini, disatu sisi sy sngt mencitai pacar sy, dn mau segera menikah sy pun sngat syg dgn calon mertua sy itu. Sy ikhlas jika memang sy&suamu yg akan merawatnya nnti..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Sesungguhnya kurang pas bila orangtua kekeh dengan kemauannya yg seperti itu. Namun, bagaimanapun kita sebagai anak hendaknya bisa berbakti dan menghormati orangtua dengan sebaik mungkin.

      Oleh karena itu, di samping sedikit demi sedikit perlu bicara dari hati ke hati kepada orangtua. Juga sangat penting untuk memohon bimbingan dari Allah swt.

      Mari perbaiki kualitas shalat lima waktu. Suka puasa sunnah senin dan kamis. Diusahakan istiqamah shalat tahajjud. Dan setiap usia shalat fardhu maupun sunnah, mari memperbanyak istighfar dan shalawat Nabi Saw. Usai itu, mari benar-benar mohon petunjuk dan bimbingan kepada Allah Swt. akan masalah ini.

      Mohon terus lakukan ya, Mbak. Semoga segera menemukan kemantapan hati dan jalan keluar yang terbaik.

  64. mira noviani says:

    Assalamualaikum pak ustad.
    saya mau tanya..
    saya baru menikah bulan desember 2015 , sesudah nikah saya tinggal bersama ortu saya di bandung, dan suami kerja di jakarta dan tinggal bersama kakak ibunya. Soalnya belum mendapatkan kontrakan. Tidak lama saya menikah pertengahan bln februari saya diajak suami pindah ke bekasi, terus saya ikut suami pindah dan awalnya senang. Akan tetapi baru juga pindah saya mulai tidak betah tinggal di bekasi dan suasananya berbeda sekali dengan kota bandung. Dan saya nangis ingin ke bandung, dan suami pun mengijinkan pulang menemui mamah, keponakan2 saya rasanya kangen bgt . Suami saya kerja di fatmawati jkrta sedangkan ngontrak di bekasi jauh bgt pak ust, dan saya ingin sekali suami saya pindah kerja di bandung soalnya ada cabang juga di bdg. Sampai saat ini saya belum merasa betah di kontrakan yg saya tempati sekarang malah sering kali menangis rindu suasana di bdg. Sempat suami mau beli rumah di daerah ciseeng tapi saya ga sreg karena lokasinya jauh bgt dan tdk ada akses angkutan umum masih daerah kampung gitu..memang udaranya sangat sejuk tp kejauhan. Saya ingin sekali pindah ke bandung dan suami masih banyak pertimbangan.dan Alhamdulillah saya lagi hamil 5 minggu . Apa yg harus saya lakukan pa ustad. Terima kasih

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Mbak Mira Noviani,

      Tinggal bersama orangtua dan suami hidup di lain kota karena pekerjaan tentu tidak masalah bila keduanya sama-sama rela. Namun, bila ingin hidup bersama suami, maka hal yang tidak enak, tidak kerasan, tentu harus dihadapi dengan kesabaran. Di sinilah sesungguhnya bangunan rumah tangga itu diperjuangkan. Menjalani hari-hari dalam keluarga tidak selalu berjalan sesuai dengan yg diinginkan, namun bila dihadapi berdua bersama suami dengan penuh rasa cinta maka yang berat pun terasa mudah. Di samping itu, mengisi hari-hari dengan banyak beribadah kan menjadikan hidup lebih indah.

      Demikian kalau menurut saya dan semoga bermanfaat.

  65. Tiyas says:

    Assalamu’alaikum.
    Ustad, bagaimana menurut pandangan islam .
    Saya sudah menikah selama 2 tahun dengan suami saya dan saya selama 2 tahun tinggal di rumah mertua .. Saya masih belum dikaruniai momongan,dan saya tidak bekerja. Suami saya 2 bersaudara dengan kakak.nya perempuan ,kakak ipar saya sudah memiliki rumah sendiri. Begini ustad saya sudah berulang kali berdiskusi dengan suami saya, ayo donk cari kontrakan, kalau ada rezeki , biar bisa hidup mandiri. Karena saya dirumah mertua tidak boleh memasak(yg memasak mertua), kemudian ibu mertua saya suka menggunjing masakan orang, hampir 98 % selalu menjelekkan masakan orang, padahal jika saya makan enak enak ajha, kemudian lagi jika saya bersih2 rumah ibu mertua selalu negatif kpada saya, misalnya kamar mandi saya bersihkan supaya tidak ada kerak yg menempel di lantai jawabannya sudah saya bersihkan itu td(pdahal masih kotor) akhrny saya udahan. Kemudian lagi saya bersihkan menggunakan pembersih lantai jangan terlalu banyak nanti lantainya jadi merotoli.. Bnyak lagi pak ustad, kemudian uang yang ada di almari saya.. Selalu dihitung2 ketika saya tdak berada d rumah. Sya blang sya juga ingin memasakkan makanan untuk kamu suamiku, ingin berbelanja sendiri tapi saya tidak diberi uang belanja, karena uangnya ditabung. Bagaimana ini ustad solusinya?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.b.
      Solusi secara lahirian, misalnya membangun komunikasi dengan baik, dengan suami terutama, setidaknya sudah Mbak Tiyas lakukan. Tentu ini perlu dotingkatkan terus. Namun, perlu juga dibarengi dengan ikhtiar secara spiritual, yakni Mbak Tiyas di samping memperbaiki shalat wajib, juga perlu ditambah puasa sunnah (sebentar lagi Ramadhan, tentu puasa fardhu ini dijaga sebaik mungkin). Bila malam shalat tahajjud lalu membaca istighfar yg banyak, shalawat Nabi yg banyak, lalu berdoa kepada Allah Swt. Semoga menemukan jalan keluar yg terbaik ya, Mbak. Aamiin….

      • Tiyas says:

        Terima kasih ustadz atas sarannya.
        Semoga bisa saya lakukan dan menemukan jalan keluar yang terbaik..

  66. rizqi amelia says:

    Assalamualaikum pak ustadz
    Saya mau tanya??
    Saya Sudah Menikah 2 tahun lebih dan dikaruniai 1 anak, awal menikah saya tinggal gantian kadang dirumah ortu, kadang dirumah mertua, tapi keseringan tinggal dirumah ortu karena waktu itu saya masih bekerja dan lebih dekat dg ortu, tapi kemudian saya hamil, awalnya kita berdua berencana ngontrak agar saya bisa tetap bekerja dan tidak jauh jauh, tapi mertua saya tidak setuju karena mertua saja tinggal berdua saja & saya disuruh berhenti bekerja, saya sebagai istri harus nurut suami dan saya berhenti bekerja, kebetulan juga ayah suami saya juga lagi sakit jadi alasan suami saya kasihan kalau butuh apa2, saya ikuti saja kemauan suami saya
    Tapi sekarang bapak suami saya sudah meninggal, saya pingin sekali ngontrak biar bisa mandiri, tapi suami saya tidak mau dengan alasan, bagaimana saya ngomongnya ya tadz karena kalau saya bilang kadang marah, padahal saya sudah tidak kerasan kepingin bangun rumah tangga sendiri, biar nyaman dan merawat anak saya dengan tenang, tidak ada yang ikut campur
    Mohon sarannya pak ustadz, kadang kalau saya tidak betah pingin cari kontrakan sendiri saja sama anak..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.

      Mbak Rizqi Amelia, dalam hal ini memang dibutuhkan komunikasi yang baik dengan suami. Cobalah membangun komunikasi ketika keadaan santai. Bila hal ini hasilnya tidak menyenangkan, penting untuk memohon kepada Allah Swt. Sukalah puasa sunnah dan shalat malam. Setiap usai shalat berdoa kepada Allah Swt. agar suami dilembutkan hatinya, lalu membaca surat al-Faatihah. Di samping itu, setiap memasak untuk suami dan anak, dalam setiap gerakan, misal membersihkan beras, memotong sayur, memasaknya perbanyak membaca bismillahir rahmanir rahim. Semoga dengan ikhtiar ini komunikasi dengan suami akan dapat dijalin dengan baik. Aamiin…

  67. Ning says:

    Assalamualaikum pak…In shaa Alloh tahun ini saya akan menikah. Dan sekarang sudah di minta oleh calon suami tinggal di rumah dekat dgn mertua(ortu suami) pdhl mertua sudah tinggal bersama dgn kk ipar dan istrinya, dgn alasan kata suami istrinya kk itu katanya tdk baik peragainya,sikap nya keras dll takut ibu mertua tersakiti oleh istrinya kk ipar makanya calon suami saya meminta kita tinggal di samping rmh mertua. (Sudah ada rmh tp tdk ada jarak) dekat sekali dgn rmh mertua dan kk ipar. Yg saya takut kan ketika tinggal di situ bukan ibu mertua tp justru istrinya kk ipar, yg katanya pnya peragai buruk, dan saya di minta tinggal di situ untuk mengawasi ibu mertua. Sedangkan ibu mertua tdk mau di ajak pindah ikut kita klo kita nanti bikiin rmh sendiri di tmpt lain.
    Saya cm takut hidup saya di situ nanti tdk tenang mengingat sifat istrinya kk ipar begitu. Krna yg saya dengar dari pengalaman bnyak teman tinggal dekat dgn kk ipar itu kyk neraka. (Yg bersifat buruk itu bkn kk kandung suami, tp istri dari kk suami saya)
    Terima kasih sebelumnya pak, bolehkah saya menolak untuk ttp tinggal di situ? Sedangkan calon suami ttp minta saya di situ demi ibu..katanya.
    Wa’alaikum salam dan saya ucapkan terima kasih sekiranya mohon dibalas:)

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Pertama, semoga rencananya untuk menikah segera terlaksana dengan baik ya. Kedua, berarti posisi Mbak Ning masih calon istri, atau belum istri yang sah, maka bila ingin menolak untuk tinggal di dekat rumah calon mertua, tentu saja boleh, Mbak. Silakan disampaikan dengan bahasa yang baik. Demikian ya, Mbak, semoga bermanfaat.

  68. bagaimana kalau calon istri kita Anak Bungsu alias anak yang paling kecil, nanti kita ajak pindah kan orang tuanya tinggal sendiri, apa yang harus saya lakukan mbak? terima kasih

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Tentu hal ini mesti dimusyawarahkan dengan calon istri, termasuk bagaimana nanti orangtuanya. Semoga nanti hasil musyawarahnya yang terbaik bagi semuanya.

  69. Dian says:

    Assalamualaikum udtadz, mohon saran. Suami saya adalah anak lelaki satu2nya dalam 4 bersaudara,dan dr ortu suami,tiap anak sudah diberikan “jatah” tanah sebagai warisan untuk anak2 tsb tempati atau miliki. Untuk tanah jatah suami saya ini, mertua baru baru ini sudah melegalkan serifikatnya menjadi nama beliau (mertua). Dan menyuruh kami untuk membangun rumah diatas tanah tersebut. Keluarga saya kurang setuju,karna ragu jikalau suatu hari terdapat masalah antara saya dan suami,saya tidak punya hak apapun atas tanah keluarga (tanah mertua yg blm ada pengakuan “hibah” kepada suami saya diatas kertas). Sedangkan rumah tersebut dibangun dengan penghasilan kami berdua. Bagaimana hukumnya tu uztad?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Dalam membangun rumah tangga, dasar penting yang mesti dibangun adalah saling keikhlasan untuk melakukan sesuatu dan tujuan yang kuat untuk membangun keluarga sampai akhir hayat. Bila ini yang dikedepankan maka kekhawatiran sebagaimana Mbak Dian sampaikan akan hilang. Akan tetapi, bila ingin mendapatkan kepastian hukum, tentu juga tidak ada salahnya hal tersebut dibicarakan dengan suami secara matang di awal. Semoga dengan musyawarah secara baik hasilnya juga akan terbaik. Aamiin…

  70. Ririt says:

    Assalamualaikum Ustadz,
    Saya tinggal berdekatan rumah dengan mertua yang keduanya masih sehat, bugar, dan semangat sekali menjalani hidupnya. Di awal pernikahan suami menuntut saya untuk pergi pagi ke rumah mertua bantuin ibu mertua dan pulangnya malam bersama suami daya. Begitu kami menghabiskan masa setahun pernikahan kami hingga akhirnya saya hamil dan memiliki anak ibu mertua berusaha menunjukkan otoritas nya sebagai tuan dari rumah tangga saya. Mengatur pola pengasuhan anak saya. Mengatai saya dengan kata jorok, sapi, dan bodoh. Dia merasa saya tidak becus merawat rumah kontrakan kami dan dia ingin seperti dia meski sudah berkali-kali suami bilang dia masih belajar karena ini awal pernikahan kami. Dia selalu mengumpat di depan saya bila ada hal yang tidak cocok dengan keinginannya. Dia bahkan menyodorkan payudaranya ke bayi saya padahal saya tidak mengizinkan tapi dia terus memaksa. Dia seakan ingin mengambil anak saya bahkan hingga usia anak saya 4 bulan pun dia masih terus ingin memandikan anak saya dan saya tidak perlu memandikan nya. Ia orang yang merasa berhak terhadap anak saya dan lupa anak saya punya ibu yaitu saya. Saudara suami dan hampir seluruh kerabatnya adalah orang yang suka sekali menghabiskan waktu terlalu lama hanya untuk berkunjung terutama para perempuannya. Di antara mereka saya lah menantu yang berpendidikan paling baik. Waktu berlalu hingga akhirnya suami saya tidak mampu memposisikan dirinya sbg kepala rumah tangga sekaligus anak. Saya menghargai orang tuanya hingga sekalipun saya diperlakukan demikian saya masih bisa tersenyum dan bersikap lembut. Bahkan baik pula terhadap semua kerabatnya yang suka berkomentar tentang kebijakan saya ke anak saya juga rumah tangga kami alias ikut campur. Hingga suatu hari semua ini tidak berhenti. Ketika anak saya berusia 7 bulan saya mengalami depresi dan (sekarang sudah 11 bulan) saya berterus terang dengan ibu mertua dan kami berdebat hebat. Itu pun didampingi oleh suami saya. Sejak saat itu saya trauma dengan arisan keluarga dan undangan duduk2 seperti yang kebanyakan perempuan mereka lakukan. Duduk ngerumpi dari pagi sampai sore. Dan demi pencitraan suami saya selalu mengirim saya dan membiarkan ortunya mengambil alih hak nya untuk membawa saya kemanapun yang mereka suka meski saya tak mau. Saya sudah beribu kali mengatakan saya tidak suka dan letih itu hal yang tidak bermanfaat. Suami ttp tidak paham. Sejak depresi psikolog meminta suami tidak mengirim saya ke arisan dan acara2 tidak penting lainnya hingga seminggu dulu itu hampir 6 kali. Bayangkan. Itu berlangsung sekitar 2 bulan. Tapi ustadz saya tidak tahan. Berkali-kali saya meminta berpisah karena suami yang tidak mengerti kebutuhan psikologis dan mental saya. Hingga detik ini saya memintanya paham meski kunjungan ke ortunya berkurang menjadi sekali seminggu saat ini tapi luka itu masih berbekas dan saya sudah tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Untuk kemalasan dan keharmonisan keluarga kami dan keluarga besar saya minta kami untuk pindah. Saya tahu budaya keluarganya yang mayoritas ibu RT tak bekerja dan senang karena suami mencukupi hidup mereka. Saya pun juga ibu RT tapi saya punya visi misi yg jelas untuk membina keluarga dan mendidik anak-anak saya menjadi orang yang berakhir mulia dan bermental juara. Ortunya selalu ikut campur ada terus yang dikomentari tentang anak saya. Tapi suami saya sampai detik ini tidak mau memahami saya. Apakah saya salah menuntut suami saya untuk pindah? Aa yang harus saya lakukan terhadap suami saya?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Apa yang Mbak Ririt lakukan tentu tidak salah. Sebab, hubungan suami istri dalam rumah tangga mestinya ada komunikasi yang baik dan seimbang. Sampaikan dengan baik dan penuh kesabaran. Di samping itu, setiap usai dzikir setelah shalat, berdoalah kepada Allah Swt. agar diberikan jalan yang terbaik. Mohon ditambahi dengan amalan rutin shalat malam atau Tahajjud. Setelah shalat, bacakan surat al-Faatihah untuk suami. Semoga mendapatkan petunjuk dan kebaikan dari Allah ‘Azza wa Jalla.

  71. elexs says:

    Aku telah keluar dari mertua..namun tidak membawa istri dan anak2.

    Istri tidak mau keluar dr rumah orangtuanya.

    Tekanan batin tinggal di rumah mertua..seakan bukan menikah dgn satu wanita…tapi 6 wanita…ibu nya,saudara2nya perempuan semua 4 orang.

    Tekanan batiiin

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Semoga dikaruniai kemudahan dan kebaikan di selanjutnya nggih. Allaahumma aamiin…

  72. irna syarif says:

    terinspirasi skali untuk tinggal sendiri biar mandiri dan tidak berketergantungan sama ortu

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Semoga Allah Swt. memberikan pertolongan dan kemudahan nggih. Aamiin…

  73. putri says:

    Apakah ada istilah istri menumpang di rumah suami hanya karna sang suami sudah mrmpunyai rumah sendiri sebelum menikah ???

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Bila suami sayang kepada sang istri tercinta, tentu tidak ada istilah demikian.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *