Pacaran yang Islami?

bunga yang indah, foto akhmad muhaimin azzetSudah menemukan calon, usia sudah oke, tapi mengapa tidak bersegera menikah? Banyak alasan yang dapat diajukan, misalnya belum mempunyai pekerjaan yang layak, penghasilan belum seberapa, dan sebagainya. Sehingga, yang terjadi selanjutnya adalah hari-hari dirajut dan diisi dengan berpacaran. Bila ini sudah terjadi, siapakah yang dapat menghindarkan diri dari perbuatan dosa?

Memang ada sebagian orang yang berpendapat bahwa ada pacaran yang islami. Tetapi, izinkan saya bertanya, sesungguhnya berpacaran yang islami itu seperti apa? Mari kita membayangkan, bila dua insan telah saling jatuh cinta, ada kecenderungan kuat untuk selalu ingin bertemu dengan sang pujaan hati. Ada kerinduan yang senantiasa berdebaran di dalam dadanya. Ada gejolak yang siapakah dapat mengingkari.

Bila sudah begini, apa yang mesti terjadi. Seminggu atau dua minggu, dapat bertemu dengan menundukkan pandangan, barangkali. Tetapi, apa yang selanjutnya mesti terjadi, bila suara hati senantiasa bernyanyi agar segera menuntaskan kerinduan ini. Lebih dekat, dan lebih dekat lagi. Sungguh, luar biasa keimanan Anda bila mampu berpacaran tanpa bersinggungan dengan dosa. Subhanallah!

Namun, bagaimanapun juga, menjaga diri dengan bersegera menikah adalah jauh lebih baik. Kesempatan setelah mendapat pasangan hidup dan bila tidak segera menikah, adalah masa-masa yang sangat rawan dalam menjaga kesucian akidah. Lebih baik hati-hati daripada tergelincir dan menjadikan kita lupa diri. Mari kita renungkan bersama firman Allah ‘Azza wa Jalla berikut:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Israa’ [17]: 32).

Semoga kita bersama keluarga, dan juga saudara-saudara kita, dihindarkan oleh Allah dari jalan yang mengarah kepada perbuatan zina. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah untuk memilih mana yang baik dan berani menolak segala hal yang buruk. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua. Allaahumma aamiin.

Salam keluarga bahagia,
Akhmad Muhaimin Azzet

This entry was posted in Menikah and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Pacaran yang Islami?

  1. jayboana says:

    realitanya memang sulit, jgankan sulitnya menentukan mau nikah atau tidak, wong anak bau kencur aja udah kenal pacaran sekarang,

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Memang tidak sedikit kenyataan yang demikian ya, Sob. Semoga hal ini menjadi perhatian bagi kita bersama.

  2. penuliscemen says:

    Untung nggak punya pacar.. Alhamdulillah

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Begitu ya, Sob, hehe… alhamdulillaah… Semoga terhindar dari dosa sehingga dimudahkan untuk bahagia ya… aamiin…

  3. Idah Ceris says:

    Sedikit ingat, aku belum review buku “menikah sekarang, siapa takut!”. 🙂

    Gak ada pacaran yang islami menurutku, Pak. 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Santai aja, Mbak Idah, hehehe 🙂
      Saya setuju deh kalo soal itu. Semoga segera terkabul doanya ya, Mbak. Allaahumma aamiin…

  4. rina says:

    pacaran setelah menikah yang paling asyik pak… hehehe…izin share yaa…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Tentu, Mbak Rina, tentu. Setiap sentuhannya justru berpahala. Silakan share, Mbak, makasih banyak yaa…

  5. Anton says:

    Aku termsk yg gagal berpacaran sesudah menikah, karena nyatanya memang pacaran dulu baru menikah…#suerrr jangan dicontoh, dan gak ada yang namanya pacaran Islami, pacaran ya pasti gak Islami…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Semoga kesadaran semacam ini menguatkan tekad untuk semakin menyayangi istri dan mengajaknya bahagia dalam ridha-Nya ya, Mas Anton.

  6. abi_gilang says:

    Memang benar Pak Ustadz kalo pacaran yg islami itu yaa pacaran setelah menikah. Namun entahlah opini yg terbentuk dibenak remaja kita sudah jungkir balik dan menganggap pacaran setelah menikah itu hanya olok-olok saja.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Pemahaman secara umum memang begitu, Kang, semoga kita bersama keluarga, juga para sahabat, menjaga kesadaran akan pentingnya hidup yang senantiasa berorientasi untuk meraih ridha Allah Swt.

  7. Lidya says:

    pacar saya satu pak ya suami sekarang ini alias gak pernah punya pacar dulunya 🙂
    ketidaksiapan dalam menikah banyak yang diukur dengan dana Pak, kalau menurut teman-teman saya yang belum menikah. Padahal sih kalau niatnya besar berapapun dananya bisa kok asal tidak ikut-ikutan orang lain.
    Kalau saya prioritasnya itu pasca menikah buah apa berfoya-foya dalam resepsi kalau nantinya banyak masalah lebih baik ditabung untuk setelahnya. Eh itu sih menurut saya loh pak

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Begitu ya, Mbak Lidya, semoga senantiasa bahagia bersama keluarga tercinta ya… Aamiin….
      Soal resepsi, saya sepakat, Mbak, sungguh ini jangan menjadi beban, yang penting akad nikahnya, begitu kata beberapa sahabat dalam pengajian.

  8. Gen-Q says:

    Saya juga bingung pak… Dapat dari mana itu kalimat Pacaran Islami. Konteks ayat gak bakalan ketemu, contoh Rasulullah dan sahabat juga gak ada. Terusnya lagi yang dimaksud pacaran apakah semacam ‘hubungan’ atau ‘aktivitas’? Dilihat dari dua sisi itu tetap aja gak ada pembenarannya

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Jika demikian maka menjaga diri tentu lebih baik ya, Mbak. Agar saatnya telah halal, ada kebahagiaan yang sangat luar biasa.

  9. Mechta says:

    Menjaga diri dengan segera menikah, memang bagus ya…hanya saja jika jodoh itu belum juga datang ya tetep kudu pandai2 menjaga diri sambil terus berdoa & ikhtiar… hehe…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Saya sepakat itu, Mbak, bila jodoh belum datang maka menjaga diri itu penting, apalagi dengan terus memperbaiki diri. Insya Allah jodoh terbaik kan segera datang.

  10. aspadani says:

    menikah kita akan lebih kaya, lebih halal, dan cintanya berbuah pahala.
    berbeda dengan pacaran semua yang menimbulkan nafsu akan mendapat dosa…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sesungguhnya hal ini betapa jelas ya, Mas Aspadani. Makasih banyak yaaa…

  11. pacaran…istilah ini tidak pernah ada dalam Islam, apalagi yang namanya pacaran yang Islami…., istilah ini sebenarnya dimunculkan oleh kaum yang mengajarkan seolah-olah pacaran itu adalah ajaran Islam, padahal Islam tidak mengajarkan demikian,
    Yang kita kenal dalam Islam adalah istilah Ta’aruf,
    kalau memang sudah waktunya, maka segeralah menikah, agar bisa terjaga dari dosa…dan bisa merasakan indahnya kenikmatan yang halal…..salam hangat selalu dari Makassar , keep happy blogging 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Saya setuju dengan Pak Hariyanto. Bila sudah ada calonnya, usia pun sudah waktunya, maka bersegera menikah tentu adalah langkah yang terbaik. Halal dan berpahala, hmm betapa indahnya.

  12. Alhamdulillah saya ndak berpacaran hehe…
    Semoga Alloh mengijabah doa saya untuk mendapat istri yang sholihah Pak…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Alhamdulillaah…
      Semoga dikabulkan oleh Allah Ta’ala ya, Mas.
      Allaahumma aamiin…

  13. hehe.. ta’aruf kali yaa..

    sampe ke nadhor juga 😀

  14. Bali says:

    ‘menjaga diri dengan bersegera menikah’ saya sangat setuju dengan kutipan kalimat tersebut

  15. r10 says:

    gara-gara budaya barat, jadilah orang islam kenal pacaran

    lah abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang lalu pacaran juga belum ada

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Jika demikian, semoga keluarga dan saudara kita dapat menjaga diri dengan lebih baik lagi ya, Sob.

  16. Saya merasa tersindir, sejauh ini memang ada seseorang yang dekat, tapi insyaAllah bisa menjaga, karena kita jauhan. Dan saya kadang juga tidak mau ambil pusing dengan selalu hubungi dia, berhari – hari tidak sms juga kuat 😀

    Ini tidak pacaran ya, cuma dekat 😛

  17. yusuf says:

    wah, ini mengingatkan kita semua, khususnya saya ustadz. hehe
    salam

  18. Pacaran yg Islamiy adalah setelah menikah 😀