Niat dan Alasan Menikah

Akhmad Muhaimin Azzet, pengajian resepsi nikah di JombangBagi seseorang yang akan menikah, niat yang dilandaskan kepada agama adalah yang paling penting dan utama. Demikian pula dengan alasan-alasan dalam memilih pasangan, sesungguhnya niat untuk menyempurnakan agama, semestinya menjadi penentu utama dalam memilih calon pasangan. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah Saw. bersabda:

“Janganlah kamu menikahi perempuan itu karena kecantikannya, mungkin kecantikan itu akan membawa kerusakan bagi mereka sendiri. Dan janganlah kamu menikahi mereka karena mengharap harta mereka, mungkin hartanya itu akan menyebabkan mereka sombong, tetapi nikahilah mereka dengan dasar agama. Dan sesungguhnya hamba sahaya yang hitam itu lebih baik, asal ia beragama.” (HR. Baihaqi)

Hal ini bukan berarti kita tidak boleh memilih calon pendamping dalam berumah tangga itu yang cantik (atau yang tampan bagi seorang perempuan yang sedang memilih), atau yang kaya, yang keturunan orang baik-baik atau terhormat, dan sebagainya. Sama sekali tidak. Tetapi, hendaknya semua itu bukan menjadi alasan yang utama. Bukan menjadi faktor yang paling nomor satu dalam mempertimbangkan calon pendamping.

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah Saw. juga bersabda:

“Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, hartanya, dan kecantikannya; maka pilihlah yang beragama.” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Menikah karena “agamanya”, bukan berarti kita memilih calon pasangan kita itu yang pengetahuan agamanya lebih banyak, sarjana dari sebuah universitas Islam, atau mungkin lulusan pesantren. Bila ini yang Anda dapatkan, patut kiranya Anda bersyukur kepada Allah Swt. Tetapi, lebih dari itu, adalah akhlaknya yang baik, yang sesuai dengan nilai-nilai luhur Islam. Ada kemauan yang kuat dalam hatinya untuk memeluk dan mendalami Islam lebih baik lagi. Ya, ada kemauan atau keinginan yang kuat dalam dirinya untuk menjadi seorang muslim yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Meskipun, ini yang sering saya bilang kepada teman-teman, calon pendamping kita itu adalah termasuk orang yang masih “kurang” dalam pengetahuan agamanya. Sekali lagi, yang penting, ada kemauan yang sungguh-sungguh.

Kenapa hal ini saya kemukakan, karena tidak sedikit orang yang berpengetahuan agama lebih banyak, namun kesungguhan shalatnya, keluhuran akhlaknya, maaf, kadang kala masih kurang terjaga. Banyak ilmu agamanya, tetapi shalat Shubuh masih sering kesiangan. Banyak ilmu agamanya, tetapi sikapnya kepada orang-orang yang miskin tidak baik. Mengapa hal ini bisa terjadi, karena ternyata persoalan agama bukan semata urusan “kepala”, tetapi juga memerlukan keseimbangan dengan kedalaman “dada”. Banyaknya pengetahuan agama seseorang, belum tentu penghayatan agamanya lebih baik. Dan, yang seperti ini sebenarnya tidak boleh terjadi. Semestinya ada keseimbangan. Inilah sesungguhnya bentuk dari sebuah tanggung jawab keilmuan.

Menikah karena agama, berarti menikah hanya karena Allah, Dzat Yang Maha Gagah dan Perkasa. Jika sudah begini, ketakutan apa lagi yang masih bersemayam di balik sanubari. Toh, urusan kita hanyalah berusaha dan berusaha yang sekaligus senantiasa dibarengi dengan berdoa. Semoga niat kita menikah dapat tulus karena-Nya. Bila sudah begini, keyakinan kita bahwa Allah memang Dzat Yang Maha Pengabul doa; bahwa Allah akan senantiasa menolong kita, akan semakin kuat bersemayam dalam keimanan kita. Sehingga, akan ada semangat untuk melangkah; ada kekukuhan berjihad yang memancar dari kelembutan hati. Semestinya, segalanya memang berawal dengan bismillah….

Demikian tulisan sederhana ini dibuat dan semoga bermanfaat bagi kita bersama.

Salam keluarga bahagia,
Akhmad Muhaimin Azzet

This entry was posted in Menikah and tagged , , . Bookmark the permalink.

38 Responses to Niat dan Alasan Menikah

  1. Keseimbangan… Itu yang harus diupayakan. Dan rasanya… hal ini masih harus saya benahi.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Semoga kita senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah Swt. sehingga mempunyai semangat untuk terus mendalami ilmu agama ini sekaligus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari nggih, Bund.

  2. Lidya says:

    ada kemauan dan tekad kuat untuk menjalankan Islam dengan benar ya pak

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mbak Lidya, betapa niat dan kemauan yang kuat untuk menjalankan Islam itu penting sekali.

  3. Titik Asa says:

    Tulisan ringkas namun padat ini baiklah dijadikan pedoman bagi kaum muda yang masih sendiri dan segera akan melaksanakan pernikahan.

    Tulisan yg mencerahkan. Salut…

    Salam,

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terima kasih banyak ya, Pak, semoga hal ini bermanfaat bagi kita bersama.

      Salam hangat persaudaraan dari Jogja.

  4. Mugniar says:

    Renungan yang menyentuh mas Azzet … menikah memang seharusnya karena Allah karena seiring waktu, apapun bisa luntur kecuali jika yang dipegang itu janji karena Allah …

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Saya setuju (pake banget lagi), Mbak Mugniar, bila karena Allah akan juuuaauh lebih indah terasa 🙂

  5. Anton says:

    Pas banget nih buatku tadz…usia pernikahan kami sudah memasuki tahun ke 7, tulisan ini membuatku utk flashback lg…memperbaiki keadaan2 yg msh terasa kurang disana sini..maklum pemahaman agamaku msh jauh dari cukup…maturnuwun tadz…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Alhamdulillaah…, semoga pernikahannya barakah ya, Mas Anton, senantiasa mendapatkan kekuatan dan petunjuk sehingga dapat membangun keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Aamiin…

  6. Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha, bila ada salah kata dan khilaf atas prilaku selama ini, serta bila ada salah baca atau salah dalam berkomentar, atau belum sempat membalas komentar, dari lubuk hati yang paling dalam saya mohon dimaafkan lahir dan batin…salam dari Makassar 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Pak Hariyanto, selamat Idul Adha juga ya…
      Tentunya saya juga mohon maaf apabila ada salah kata saya selama ini, lahir dan batin. Semoga ke depan semakin sukses dan bahagia. Aamiin…

      • hadir kembali untuk nikah…ets..maksudnya untuk membaca artikel nikah, nikah itu bagi saya harus niatnya lurus dan suci hanya karena ALLAH semata…tanpa itu, maka nikahnya akan bermasaalah kelak dikemudian hari….,
        btw-aku juga lagi buat GA, dicari 32 orang blogger yg suka nulis dan corat coret untuk jadi pemenang buat dapatkan gift unik dari Makassar, Tana Toraja dan Martapura Kalimantan Selatan…..salam 🙂

        • Akhmad Muhaimin Azzet says:

          Alhamdulillaah…
          Terima kasih banyak ya, Pak Hariyanto, telah hadir kembali di blog sederhana ini. Yup, saya setuju, Pak, betapa penting niat dalam menikah ini. Niat karena Allah adalah jalan lurus untuk menuju keluarga yang bahagia. Ohya, makasih banyak atas informasi GA-nya ya, Pak, semoga bisa ikut meramaikan. Salam 🙂

  7. teringat niatku dulu; untuk keredhaan Allah, dan menguatkan amal agama. dengan kerisauan itulah Allah atur dan segalanya jadi mudah.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Subhanallah walhamdulillah…
      Itu niat yang luar biasa, Mbak. Semoga senantiasa dalam keridhaan-Nya ya, Mbak. Aamiin ya Kariim….

  8. bs jd referensi yg bagus ni tuk materix ceramah walimahan. 🙂
    makasih pak ustadz..!

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Sob, silakan, saya kadang ketika ngisi ngaji di acara nikah juga menggunakan referensi ini. Makasih juga telah singgah kemari yaa.

  9. Refrensi yang bugus Pak, semoga apa yang menjadi suatu niatan yang utama di awal pernikahan tetap dijaga dengan suatu norma dan nilai komitmen sepanjang usia ya Pak. karena pembuktiannya dalam proses komitmen banyak orang yang keluar jalur dari niatan awal. Mudah di ucapkan, namun mudah pula yang mengatakan ikhlaf. He,,, he,, he,,,,

    Salam,

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Pak Indra Kusuma Sejati, semoga kita termasuk orang yang bisa menjaga komitmen pernikahan yang suci. Semoga pula senantiasa bahagia. Makasih banyak ya, Pak, telah singgah ke lapak saya yang sederhana ini.

  10. saya jadi keinget temen yg minta dicarikan istri syaratnya cantik dan ada lesung pipinya….. heheheh

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Begitu ya, Mbak Rina, semoga dapet deh istri yang diinginkannya itu, yang juga shalihah tentunya.

  11. whiz says:

    Wah saya belum menikah, dan lama menjomblo. Pengin segera menikah tapi belum ada pasangan pak..
    Semoga tahun 2014 saya berdoa dan niat mau menikah Pak 🙂
    Salam…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Dengan niat yang kuat dan doa terus-menerus semoga dikabulkan ya, Mas, mempunyai istri yang shalihah dan senantiasa membahagiakan.
      Salam…

  12. Susanti Dewi says:

    Sesuatu yang bermanfaat utk para lajang. Bermanfaat juga untuk yang sudah menikah karena sebagai bahan renungan diri. Makasiah pak ustadz.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Alhamdulillaah…, semoga demikian ya, Mbak Susanti Dewi. Allaahumma aamiin…. Ohya, sama-sama, Mbak, makasih telah singgah kemari.

  13. jiah says:

    aku masih memperbaiki agamaku 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sama, Mbak Jiah, saya juga berusaha untuk senantiasa bisa memperbaiki diri ini dalam agama.

  14. Assalamu’alaykum
    sangat mencerahkan ustadz.
    Saya jadi malu nih. Pernah menuliskan syarat tinggi/berat badan di kriteria pasangan.
    Mohon doanya agar saya segera menggenapkan separuh agama. karena Alloh.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Alhamdulillaah…, makasih banyak ya, Mas Imron Rosyadi. Hehe, ga papa kok Mas bila ingin tinggi dan berat badannya sekian, yang penting syarat utamanya tetap yang agamanya baik. Semoga Allah segera mengabulkan ya, Mas. Aamiin…

  15. Irpansah says:

    Doain saya ya pak ustad agar segera dipertemukan dengan jodohnya.. Aaamin 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Semoga Allah Swt. segera mempertemukan jodoh Mas Irpansah, bisirril Faatihah…

  16. desinamora says:

    sangat memberi pencerahan, semoga tetap bisa meluruskan niat

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Alhamdulillaah…, makasih banyak ya, Mbak, juga atas kunjungannya. Semoga bermanfaat bagi kita bersama.

  17. claudia says:

    Ustad, saya pernah baca, niat kita menikah sudah lurus atau belum bisa dilihat dr keihlasan kita dengan orang yg sedang dekat atau bertaaruf dengan kita, apakah kita ikhlas kalo memang orang tersebut ternyata bukan jodoh kita.. Kalo kita kita berberat hati, itu tandanya kita belum lurus niatnya. Lalu bagaimana kalau kita tidak memiliki someone special ustad? Bagaimana menguji apakah niat kita sudah lurus atau belum?

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Mbak Claudia yang baik, niat menikah karena agamanya, atau karena Allah Swt. memang berbanding lurus dengan keikhlasan. Bagaimana cara menguji atau mengetahui niat kita sudah lurus atau belum? Tentu hal ini tidak harus sudah memiliki someone atau belum. Kejujuran kita tentu akan mengetahui bahwa sesungguhnya kita akan menikah itu karena agamanya atau karena dunia semata. Maka, kita perlu menguatkan niat kita untuk menggapai ridha Allah Swt.

  18. teangan says:

    Menarik sekali pak, saya setuju dengan quote”menikah hanya karena Allah” ketika segala sesuatu berlandaskan karena Allah semuanya jadi indah dan barokah . Subhanallah

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terima kasih banyak ya, Sob, semoga niat yang bagus di awal dapat pula dijaga dalam hidup keseharian bersama keluarga tercinta.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *