Menjaga Diri Sebelum Menikah

menjaga cintaSeseorang yang secara usia sudah waktunya untuk menikah, namun merasa “belum siap” atau “belum mampu” untuk menikah, yang biasanya berkonotasi pada persoalan ekonomi, adalah alasan yang dapat dibenarkan menurut ajaran Islam. Dan, untuk menjaga atau meredam hawa nafsunya agar tidak terjerumus kepada cinta yang berlepotan dosa, maka ia mesti berpuasa sebagaimana yang diajarkan Nabi Saw.

Tetapi, bagaimanakah bila sebaliknya yang terjadi. Seorang muslim merasa belum mampu untuk menikah, tetapi ia justru tidak mau mengendalikan dirinya; yang salah satunya dengan jalan berpuasa. Beralasan belum mampu untuk menikah, tetapi hubungan yang dibangun dengan calon pasangannya sudah menjurus ke hubungan sebagaimana suami istri. Misalnya, berpelukan, berciuman, maupun ngamar berdua untuk melakukan hubungan badan. Bila kenyataan ini yang justru terjadi, sudah barang tentu sama sekali tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Orang yang demikian, belum tahu betapa indahnya cinta setelah menikah itu. Belum tahu betapa nikmatnya hubungan cinta di sebuah taman suci yang gerbangnya bernama pernikahan.

Selain itu, ada sebuah kenyataan yang memprihatinkan di tengah-tengah masyarakat kita, yakni anggapan bahwa bila seorang perempuan telah dipinang (yang biasanya dilakukan dengan tukar cincin) maka hubungannya dengan calon suaminya “seakan-akan” telah sah, atau ada yang mengatakan setengah sah. Sehingga, masyarakat membiarkan atau menganggap biasa bila bentuk hubungan antara perempuan yang sudah dipinang dengan calon suaminya mengarah kepada hubungan yang sesungguhnya belum dibolehkan di dalam Islam. Misalnya, bergandengan tangan, kemana-mana selalu berduaan. Bahkan, lebih memprihatinkan lagi, ada orang tua yang membiarkan anak gadisnya berduaan dengan calon suaminya di kamar dengan pintu tertutup. Dengan ringan orang tua itu berujar, “Dia itu kan calon suaminya, bukankah sudah dilamar?!”

Pembaca yang tercinta, meskipun telah dipinang atau dilamar, bagaimanapun juga hubungan antara perempuan dengan calon suaminya adalah hubungan yang belum disahkan dalam akad nikah yang suci. Bahkan, satu-satunya hal yang diperbolehkan di dalam Islam saat meminang adalah calon suami boleh melihat calon istrinya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Saw. berikut:

“Apabila salah seorang di antara kamu meminang seorang perempuan, maka tidak berhalangan atasnya untuk melihat perempuan itu, asal saja melihatnya semata-mata untuk mencari perjodohan, baik diketahui perempuan itu ataupun tidak.” (HR. Ahmad).

Melihat calon istri ini tidak hanya boleh di dalam Islam, tetapi ada sebagian ulama yang menganggapnya sebagai sunnah. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Saw. berikut:

“Apabila salah seorang di antara kamu meminang seorang perempuan, sekiranya dia dapat melihat perempuan itu, hendaklah dilihatnya sehingga bertambah keinginannya pada pernikahan, maka lakukanlah.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Berdasarkan dua hadits tersebut, satu-satunya perbuatan yang diperbolehkan di dalam Islam adalah “melihat” calon istri, itu pun dilakukan pada saat meminang. Dan, setelah meminang, pada saat menunggu hari H pernikahan, semestinya antara perempuan yang sudah dipinang dan lelaki yang meminang sama-sama bisa menjaga diri. Sungguh, hal ini sangat perlu dilakukan karena membangun sebuah keluarga yang diawali dengan pernikahan adalah sesuatu yang agung dan suci. Maka, kedua belah pihak harus saling menjaga agar pernikahan yang nanti dilakukan dapat mereguk kebahagiaan yang hakiki.

Demikianlah. Semoga postingan sederhana ini bermanfaat agar cinta yang suci dari dua anak manusia tetap terjaga keindahannya hingga mekar mewangi di taman pernikahan yang bahagia.

This entry was posted in Menikah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

63 Responses to Menjaga Diri Sebelum Menikah

  1. M. Syafi'i says:

    Saya yakin Pak Ustadz..
    kalau oarang mengikuti tuntunan akan berkah….

    masalah penikahn saya merasa di sentil lembut 🙂

    Suwun Pak Ustadz….

    Semoga kita termasuk orang-orang yang dijaga…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mas Syafi’i, saya juga yakin demikian.
      Hehe…, begitu ya… Sama-sama, Mas, saya juga makasih telah singgah kemari 🙂

      Semoga Allah mengabulkan doa kita ya, Mas.
      Allaahumma aamiin….

  2. Lidya says:

    kebanyakan menunda pernikahan karena faktor keuangan ya pak, padahal Insya Allah setelah menikah rezeki akan bertambah. Kalau menunggu sampai punya semua sampai kapan harta dikejar 🙂
    sebagai orang tua tanggung jawabnya besar juga ya pak untuk menjaga anak-anaknya

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, MBak Lidya, padahal kalo calon sudah ada, usia sudah cukup, bismillah saja akan ada saja jalannya. Saya menikah juga dari nol secara ekonomi kok, Mbak, hehe…

      Benar sekali, orangtua tentu besar tanggung jawabnya dalam menjaga anak-anaknya.

  3. iwan tidung says:

    Ternyata menikah itu menentramkan. awalnya aku pikir membebani.
    * bukan curhat *

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Yup, menikah itu menenteramkan, Mas Iwan Tidung.
      * semakin menegaskan *

  4. Abu Hafs says:

    Menjaga diri dalam hal yg satu ini memang begitu sulit, apalagi di masa kini.
    Tapi insyaallah kalau kita betul2 mau dan ikhals, pasti Allah akan membantu.
    Dari Abu Sa’id Al-Khudriy: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    « مَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ »
    “Barangsiapa yang berusaha menjaga darinya dari yg haram maka Allah akan menjaganya dari yg haram”. [Sahih Bukhari dan Muslim]
    Wallahu a’lam!

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Akhi, dalam hal ini sangat dibutuhkan kemauan dan keinginan agar hidup kita lebih baik lagi. Makasih banyak nggih atas tambahan haditsnya.

  5. Bila suatu perjalanan menuju rumahtangga sudah diawali dengan kesalahan dalam ilmu agama, maka dalam perjalanan rumah tangganyapun akan bermasalah ya Pak ? Karena dasar akar permasalahannya saja sudah salah. Itu yg tidak pernah digubris dan disepelekan orang banyak sekarang ini.

    Semoga hal ini akan menjadi contoh dan nasehat kebaikan bersama. Amiiiin…….

    Sukses selalu
    Salam Wisata

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Ejawantah Wisata, hal yang seperti ini semestinya menjadi perhatian bagi kita bersama yang mengharapkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Makasih banyak ya…. Semoga sukses selalu juga. Aamiin…

  6. Yang sudah mampu lahir batin sebaiknya segera menikah, selak kiamat lho.
    Terima kasih artikelnya yang bermakna
    Salam hangat dari Surabaya

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Pakde, sudah mampu lahir dan batin, calon sudah ada, nunggu apa lagi, hehe…

      Makasih ya, Pakde.
      Salam hangat dari Jogja.

  7. Anton says:

    klo utk pihak laki2 memang faktor ekonomi terkadang jadi pertimbangan yg penting, aku termsk yg agak “telat” nikah krn faktor td pak ustadz, dl penginnya nikah umur 24 hehehe

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Ga papa, Mas Anton, alhamdulillah… sudah terlaksana. Semoga penuh keberkahan ya… aamiin….

  8. Guru Muda says:

    Postingan yang sangat bermanfaat bagi yang mau dan sedang dalam proser pernikahan…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terima kasih banyak ya, Mas, semoga bermanfaat bagi kita bersama. Allaahumma aamiin….

  9. Pingback: Langkah Baruku Oleh-Oleh Dari Australia dan Turki

  10. keke naima says:

    faktor keuangan dan takut gak cocok trus pisah di tengah jalan yg suka bikin org takut menikah.. Pdhl menikah spt halnya menjalani hidup kayaknya wajar kalo ada turun naiknya.. tinggal gimana mengelolanya kayaknya ya 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Saya sepakay, Mbak, tinggal bagaimana mengelolanya. Sebab, persoalan selalu ada. Semoga bila sudah ada calon dan usia telah siap dengan tidak menunda pernikahan menjadikan seseorang lebih mudah meraih kesuksesan.

  11. rina says:

    padahal pacaran setelah menikah itu jauuuuh lebih indah ya pak…. *sudah ngerasain sendiri 🙂

  12. cahya says:

    yang belum nikah kesindir, mak jleb #kaboooor… *becanda

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Hehe…, mak jleb ya, Mbak, hayuuu… yang kabur dikejaaarrr, hehehe….

  13. arif says:

    iya mas, bagaimanapun kesenangan itu ada batasnya apalagi jika kesenangan yang dinikmati sebelum waktunya, kesenangan itu pasti akan cepat berlalu, belum lagi dosa-dosa yang harus ditanggungnya.
    nice share

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Dengan demikian, kita memahami batas-batas itu ya, Mas Arif. Aamiin….

  14. Gen-Q says:

    Artikel yang sangat bermanfaat pak… Semoga banyak lagi hamba yang dikaruniakan kekuatan untuk menjaga iffah sebelum waktunya tiba dengan mujahadah yang besar

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Menjaga iffah sebelum waktunya tiba dengan mujahadah yang besar, sungguh ini penting sekali. Semoga kita, keluarga, dan saudara bisa ya, Mbak. Aamiin…

  15. yang terjadi pada zaman ini adalah saat mereka tidak mau menikah, tapi mau merasakan nikmatnya hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh orang yang sudah menikah, dan itu jelas hanyalah semata hawa nafsu belaka, seandainya saja mereka tahu betapa indahnya setelah menikah…dan semua kan menjadi halal 🙂

  16. Benagustian says:

    Kebanyakan sih alasanya ekonomi bang 🙂
    sama seperti abang saya yang sudah 25 tahun belom menikah karena alasan ekonomi juga.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, ini alasan umum yang terjadi. Di saat seperti ini, semoga kita bisa menjaga diri yaa….

  17. Mugniar says:

    Mirisnya, banyak adegan sinetron yang seperti mas Azzet sebutkan di atas: anak muda laki2 bertamu langsung ke kamar anak gadis atau sebaliknya. Saya berpikir: apa memang seperti itu ya pola sebagian masyarakat kita? Menyedihkan ya

    Btw, nice posting mas Azzet

  18. abi_gilang says:

    Wejangan berharga bagi yang belum menikah, untuk yang sudah menikah dan tidak seperti gambaran diatas maka kita hanya bisa beristigfar memohon diampunkan segala dosa. Tetapi jadikan anak-anak kita menjalankan syariat yang benar saat nanti mereka menikah. Syukron Ustadz….!

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Intinya, kehidupan kita ke depan bersama keluarga semoga semakin lebih baik ya, Kang. Allaahumma aamiin…

      Makasih juga telah singgah kemari ya, Kang!

  19. Pakies says:

    Dulu, di kampung saya tradisi ‘longgar’ ketika sudah dilamar sepertinya hal yang biasa. Calon pasangan boleh menginap. Mungkin hal ini karena dasar pemahaman tentang konsep berduaan sebelum menikah masih lebih kuat pengaruh ttradisi ketimbang dasar agama. Maka yang terjadi adalah semacam pembenaran berdua bahkan menginap dirumah calon mertua.
    Dan Alhamdulillah semakin berkembangnya pemahaman tentang agama, tradisi seperti itu sudah terkikis. Hanya saja, konsepnya jadi berubah pada perilaku anak dan calon suami istri. Tradisi menginap tidak ada, tetapi keleluasaan berduaan melebihi dari yang pernah terjadi di masa lalu.
    Maka peran orang tua, kerabat dan masyarakat sangat penting dalam permasalahan ini.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Pak, betapa pemahaman tentang agama yang kita peluk ini penting sekali. Semoga hal ini menjadi perhatian bagi orangtua, kerabat, dan masyarakat. Makasih banyak ya, Pak, atas tambahannya yang berharga.

  20. Heri Purnomo says:

    indahnya cinta setelah menikah. Luar biasa tentunya ya ustadz.
    smg banyak pasangan hidup mengikuti ajaran indah ini.
    terima kasih ustadz.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Pak Heri Purnomo, betapa indahnya (berpahala lagi). Semoga hal ini jadi perhatian bagi kita bersama. Makasih juga ya, Pak, telah singgah kemari.

  21. monda says:

    punya remaja …sudah harus wanti2 nih mas..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Bu Monda, agar wanti-wanti bener….

  22. keadaan umat Islam sekarang sungguh sangat memperihatikan..

    semoga Allah beri kemampuan untuk menjaga anak-anak saya dari pergaulan dan lingkungan yang menjerumuskan..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Oleh karena itu, semoga kita bersama keluarga, saudara, dan para sahabat bisa menjaga diri dengan baik ya, Mbak…

  23. Amanda says:

    menikah itu : INDAH 🙂
    trimakasih utk postingannya yg sgt bermanfaat pak..
    tulisan bapak, bagus semua..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Saya sangat setuju dengan Mbak Amanda.
      Makasih juga telah singgah kemari ya, Mbak.

  24. marsudiyanto says:

    Dan yang namanya menjaga diri itu memang seumur hidup, nggak hanya sebelum tapi juga sesudah menikah, bahkan sampai akhir hayat kita

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Secara umum memang begitu, Pak Mars, sepakaaat. Makasih banyak ya, Pak.

  25. Mechta says:

    Setuju dengan pendapat Pak Mars… menjaga diri itu seumur hidup.. mudah2an kita diberi kemudahan untuk menjalankannya ya… Trims artikel menariknya, Mas.. 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sama, Mbak Mechta, saya juga setuju. Makasih juga ya, Mbak, telah singgah ke blog sederhana ini.

  26. zaairulhaqzaairul haq says:

    ass…kunjungan mlm hari.sekedar memberi tahu,anda dapat award dari majelis jagad kawula…silakan dibungkus dan dibawa p[ulang…salam hangat dan doa saya sukses selalu buat anda aamiin ^_^

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wa’alaikumusalam wr.wb.
      Wah…, dapat award neh, makasih banyak ya, Mas. Semoga tambah semangat ngeBlog ^-^

  27. umielaine says:

    cinta setelah nikah itu luar biasa lohhh
    terus bertumbuh, tumbuh dan tumbuh. ^^
    *ngiming2i

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Naaaah…., bener banget itu, Mbak.
      Sangat setuju saya. Makasih banyak yaaa….

  28. Lidya says:

    menjaga diri sebelum menikah dan sesudah menikah ya pak.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Dalam arti umum memang demikian, Mbak Lidya. Makasih banyak yaa…

  29. Tiara says:

    semoga tetap istiqomah hingga yang halal datang 😀

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mbak Tiara, semoga tetap istiqamah. Allaahumma aamiin….