Jalan Terbaik Itu Bernama: Menikah

mengisi pengajian pengantin di jombangDisebabkan oleh cinta yang siapa saja tak dapat menghindar. Dikarenakan oleh kerinduan yang semakin dipupus-pupus, tetapi justru semakin menggelegak untuk ingin segera bertemu. Padahal, pertemuan dua jiwa yang telah sama-sama dilanda cinta, sangatlah rawan untuk bersentuhan dengan hal-hal yang bernama dosa. Maka, bila usia telah matang dan mampu untuk menikah, bila calon pasangan telah ada, tidak ada jalan lain yang paling baik kecuali: menikah!

Namun, sebelum membahas persoalan ini lebih lanjut, saya ingin mengutip salah satu dasar pernikahan yang hingga kini masih berlaku di Indonesia, yakni Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pasal 7 ayat 1:

Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita mencapai umur 16 (enam belas) tahun.

Kenapa pasal tersebut saya kutip? Karena, dalam pembahasan selanjutnya saya akan banyak menggunakan istilah “bila usia telah matang”, “bila umur telah waktunya menikah”, dan sejenisnya. Hal ini untuk menghindari kesalahan persepsi pembaca yang merasa belum cukup umur untuk menikah, padahal sudah berumur lebih dari 19 tahun bagi pria dan lebih dari 16 tahun bagi wanita, namun ia sudah sangat berani berpacaran. Ini artinya, ia hanya belum mampu atau belum berani untuk menikah, bukan belum cukup umur untuk menikah. Bila ini yang terjadi, semestinya ia bisa menjaga diri agar tidak terjebak dosa sebelum menikah.

Meskipun, saya juga mengakui bila remaja putri berusia 16 tahun maka ia baru mengenyam masa-masa bangku SLTA, atau remaja putra berusia 19 tahun maka ia barangkali masih kuliah pada semester awal. Pada usia ini, dalam masyarakat kita pada umumnya masih dikatakan belum “pantas” untuk menikah. Menurut saya, tidak ada masalah dengan pandangan yang seperti ini. Namun, yang jadi masalah adalah ketika pada usia ini sang remaja tersebut sudah sangat berani berpacaran. Nah, lho?! Sudah barang tentu menikah adalah pilihan yang terbaik. Bila tidak, semestinya ia mampu menjaga diri agar tidak terjerumus kepada kemaksiatan.

Selanjutnya, marilah kita mencermati sabda Rasulullah Saw. berikut ini:

“Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian sudah siap (mampu) menjalani hidup berumah tangga (suami-istri) maka nikahlah! Sesungguhnya di balik itu, pandangan mata dan kemaluan akan lebih terjaga dan terpelihara dari perbuatan maksiat. Dan barang siapa belum mampu, hendaknya ia berpuasa, karena dengan puasa itulah dirinya akan terlindungi dari kemaksiatan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits Rasulullah Saw. tersebut menawarkan dua pilihan kepada kita, yakni bila sudah siap (mampu) untuk menikah maka tidak ada alasan lain untuk menunda-nunda pernikahan. Mengapa demikian? Karena, dengan menikah pandangan mata dan kemaluan akan lebih terjaga dan terpelihara dari perbuatan maksiat. Tetapi, bila tidak, pilihan yang terbaik adalah melakukan puasa. Sungguh, dengan puasa seseorang akan terlindungi dari kemaksiatan.

Demikian postingan singkat ini semoga bisa jadi pembuka untuk membahas lebih lanjut ihwal menikah ini di pertemuan mendatang.

Salam indahnya cinta,
Akhmad Muhaimin Azzet

This entry was posted in Menikah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to Jalan Terbaik Itu Bernama: Menikah

  1. Sudah barang tentu menikah adalah pilihan yang terbaik. Bila tidak, semestinya ia mampu menjaga diri agar tidak terjerumus kepada kemaksiatan, mantab, setujuuuuuu…

    ———
    Terima kasih banyak ya, Mbak Yunda Hamasah, atas mantap dan setunya 🙂 Semoga keluarga kita terjaga dari hal-hal yang tidak diridhai-Nya.

  2. Guru Muda says:

    namun ada kalanya menikah ditunda dengan alasan belum mampu mengemban urusan rumah tangga.

    ———
    Bila demikian adanya, maka berpuasa adalah ibadah yang sangat utama agar jiwa terhindar dari noda, sambil banyak berdoa agar segera mampu mengembannya. Begitu ya, Mas Guru 🙂

    • Arnaldinho says:

      Kalo pake sistem kedua kok kesynnaa menzholimi penulis, ya Kalo misalnya nanti bukunya jadi best seller dan keuntungannya jauh melebihi nominal yang diberikan pada penulis sewaktu serah terima naskah, rugi di penulisnya dong (>,<")Dan di lomba-lomba kadang ada yang sistemnya gitu. Pemenang dapat hadiah sekian tapi tidak dapat royalti. Padahal siapa tahu nantinya bukunya jadi best seller dan royalti yang seharusnya didapatkan lebih besar dari hadiahnya. Itulah, kalo menurut saya memang sebaiknya cara yang pertama, yakni royalti. Lebih adil rasanya di kedua pihak. Meski, ada juga penulis yang memang sengaja milih yang beli putus dengan alasan tertentu, misalnya sedang butuh uang, karena kalo royalti mesti nunggu sekian bulan, atau mungkin alasan lainnya.

  3. Pakde Cholik says:

    Saya sudah menikah, sering menjadi saksi pernikahan juga sering mewakili keluarga mempelai untuk memberikan sambutan.
    Bahkan pernah dipaksa membaca doa, padahal pihak laki-laki sudah 5 kyai yang mbaca doa.
    Lha jadi aku kehabisan bahan doa donk wong semua permintaan sudah diambil oleh mereka.

    Mautur nuwun pencerahannya

    Salam hangat dari Surabaya

    ———
    Menjadi saksi, memberikan sambutan mewakili keluarga, juga doa tentu sangat membantu bagi keluarga yang menikah ya, Pakde. Hehehe…, bila doa-doa telah dipanjatkan, yang terakhir kan tinggal begini, Pakde, “Ya Allah, mohon kabulkan doa-doa yang telah terpanjatkan tadi, aamiin… Alfaatihah….”

    Matur nuwun sanget nggih, Pakde.
    Salam hangat juga dari Jogja.

  4. Allah tidak pernah ingkar dengan janji2Nya.
    Kalau dikatakan menikah adalah menyempurnakan ibadah… maka demikianlah adanya…

    ———
    Benar sekali, Bu Niken, betapa banyak yang membuktikan, menikah bukan berangkat dari titik nol secara ekonomi, bahkan minus. Namun, ada saja jalannya sehingga keluarganya bahagia. Apalagi, menikah adalah bagian dari ibadah.

  5. Memang kalo sudah mantap mah, sebaiknya dipercepat saja yah…
    Tapi usia pernikahan jaman sekarang semakin pada mundur yah mas…

    Aku menikah di usia 25 sih, usia standard menurut orang tua ku dan dianggap udah pantas menikah..

    ———
    Sudah mantap kok ditunda ya, Teh, nunggu apa lagi, hehe…
    Alhamdulillah…, semoga pernikahannya selalu bahagia ya, Teh Erry.

  6. jiah says:

    kalau saya sih mulai mempersiapkan diri untuk menjadi lebih baik, siapa tahu bulan depan dia datang 😀 #NggaTauSiapa ^^
    trimakasih buatartikel nikahnya ini 🙂

    ———
    Yup, selalu memperbaiki diri adalah bagian dari sebuah perisapan yang sangat penting. Semoga segera datang yang terbaik ya, Mbak. Alaahumma aamiin…

  7. Sudah siap lahir bathin, cuma calonnya mana ya? :'(

    ———
    Berarti ini tinggal calonnya saja ya, Mas. Semoga segera dah… 🙂

  8. Lidya says:

    Dengan menikah, nikmatnya lebih bertambah ya pak.

    ———
    Iya, Mbak Lidya, sungguh saya juga meyakini itu 🙂

  9. wah…. ternyata banyak masyarakat yang masih takut ya

    ———
    Takut biasanya lebih karena merasa belum siap secara ekonomi.

  10. nurusyainie says:

    Waduh… dilema ini hahaha 🙂

    Saya tunggu lanjutannya pak Ustd.

    ———
    Dilema ya, hehehe… 🙂
    Iya, semoga di lain waktu bisa dilanjut.

  11. Itulah indahnya Islam, memberikan jalan kemudahan dalam banyak urusan. Islam telah memberikan pilihan A, pilihan B dan seterusnya, yang setiap pilihan memiliki keindahan dengan tujuan kebaikan. Nikah ketika sudah siap maka disegerakan lebih baik, ketika belum siap maka berpuasa sebagai jalan keluar. Sebuah konsep yang jarang disadari oleh kita.

    ———
    Benar sekali, Pak Ies, betapa Islam memamg luar biasa. Padahal, bila belum mampu lalu berpuasa, akan ada saja jalannya sehingga ia segera mampu untuk menikah.

  12. Muji Suwarno says:

    kalau belum mapan jangan menikah dulu.

    Kata Ibuku gitu. 🙂

    ———
    Sebuah nasihat yang bagus, Mas Muji Suwarno.
    Makasih banyak ya….

  13. alhamdulillah saya telah menempuh jalan itu 🙂

    ———
    Alhmadulillah…, semoga barakah ya, Pak.

  14. wahhhhh..enaknya pacaran setelah nikah, menjadi keluarga sakinah, selamat dunia akhirat..mungkin itu kebahagiaan hakiki, heheee

    ———
    Duh…., bahagaianya ya, Mas….
    Allaahumma aamiin….

  15. Menunggu masa untuk itu..

    ———
    Menunggu sambil terus memperbaiki diri ya, Mas 🙂

  16. Benar Pak
    Menikah yes
    Belum bisa menikah ya berpuasa 😀

    ———
    Sehingga pas menikah ibarat berbuka, hmmm…. betapa 😀
    Alhamdulillah…..

  17. papap arfa says:

    bener banget pak.. sekarang ini memprihatinkan sekali anak SD pun udah pacaran.. beda sekali dengan jaman dulu yang mungkin walau sudah mengenal pacaran tapi tak sevulgar sekarang.. dilanjut terus pak postingan tentang menikah supaya kita semua mengetahui apa urgensi dan esensi dari menikah 🙂

    ———
    Salah satu sebab barangkali anak SD sudah pada nonton sinetron dewasa. Insya Allah, Mas, mohon doanya agar dapat melanjutkan pembahasan ihwal serupa. Makasih banyak ya… 🙂

  18. Betull pak….menikah adalah pilihan terbaik….Alhamdulillah saya sudah menikah hehehe

    ———
    Alhamdulillah…., bila demikian. Semoga pernikahannya barakah ya… aamiin….

  19. opickaza says:

    Ya Allah kapan yah ane bisa menempuh jalan terbaik itu jika belum ditemukan jodoh yah

    ———
    Mari terus memperbaiki diri dan semoga segera ya, Mas Opick. Aamiin…

  20. ayu says:

    Alhamdulillah, saya sudah menikah..mohon doanya pak ustadz, agar barakah

    ———
    Alhamdulillah…., semoga pernikahannya barakah ya, Mbak Ayu, senantiasa bahagia dalam keluarga yang sakinah. Allaahumma aamiin….

  21. hilal says:

    Kalau dilihat dari fotonya, Pak Muhaimin jadi penceramah nikah ya? 😀

    ———
    Iya, Mas, itu pas di Jombang.

  22. Pengen juga bisa cepet nikah, tapi belum yakin dari maisyah, disamping merasa perlu persiapan mental dan jodohnya. Kurangnya banyak banget ya, hehehe 🙂

    ———
    Soal maisyah, banyak yang menikah berawal dari nol secara ekonomi dan sukses jadinya, tapi memang betul persiapan yang penting itu adalah bersiap secara mental. Berarti tinggal terus memperbaiki diri dan berdoa, semoga ga lama lagi ya, Mas. Aamiin….

  23. kalau saya masih mencari wanita yang mampu menarik perharianku Bang, sejujurnya banyak wanita seksi di kampung aku tapi aku mencoba mengikutinya tapi hanya bertahan hingga 1-2 minggu saja. selanjutnya, semakin hari perasaanku semakin luntur.

    saya pernah dipesan oleh orang tua bahwa carilah wanita yang beriman, berahlak mulia dan berpengetahuan luas lalu pesan itu hingga sekarang belum saja temukan. saya juga dalam pencarian berpedoman pada hadist nabi namun jika takdir tdk demikian, aku ikhlas

    ———
    Salah satu ikhtiar agar kita mendapat jodoh yang baik, hendaknya kita memperbaiki diri terlebih dahulu. Sungguh, semoga hal ini dapat dimaksimalkan ya, Mas. Insya Allah akan menemukan jodoh yang terbaik untuk kita. Aamiin….