Indahnya Hidup Setelah Menikah

bunga wijaya kusuma, foto akhmad muhaimin azzetMembangun kehidupan dalam berumah tangga adalah sesuatu yang sangat membahagiakan. Betapa tidak, sebelum menikah segala persoalan hidup mesti ditanggung sendiri, sedangkan ketika sudah berumah tangga segala persoalan itu dapat diselesaikan secara bersama. Sungguh, seberat apa pun persoalan, bila ditanggung bersama, akan terasa lebih ringan dan mudah untuk diselesaikan.

Betapa indahnya kehidupan setelah menikah itu. Pada saat shalat lail misalnya, biasanya harus sendirian menahan dinginnya malam, selanjutnya dapat dilaksanakan bersama istri tercinta dengan kemesraan yang hangat. Dan, seusai shalat lail bersama, suami istri dapat berdzikir bersama, lalu sama-sama berdoa memohon anugerah terindah kepada Allah Yang Maha Kuasa. Selanjutnya, sambil menunggu waktu shalat Shubuh, suami istri dapat mengaji bersama, atau bahkan boleh berpelukan mesra, yang sungguh semuanya berpahala.

Memang, siapakah yang dapat mengelak dari konflik ketika sudah membangun rumah tangga. Dua jiwa yang mempunyai karakter berbeda, berasal dari keluarga yang mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang tidak sama, sudah barang tentu pergesekan itu pasti ada. Tetapi, jika sejak awal dalam berumah tangga sudah dipancangkan niat yang sangat kuat, bahwa dalam membangun pernikahan adalah dalam rangka beribadah kepada Allah Swt., insya Allah konflik yang terpaksa besar bisa diubah menjadi kecil. Konflik yang kecil sesungguhnya adalah ringan sekali. Dan, konflik yang ringan sebenarnya adalah perbedaan wajar yang mesti terjadi sebagai pemicu untuk lebih mengikatkan rasa cinta dalam berumah tangga.

Maka, berangkat dari keyakinan yang seperti itu, saya pun tidak takut ketika harus mengambil keputusan untuk segera menikah. Siapa takut untuk menikah bila keinginan agar hidup semakin barakah. Urusan bekerja dan mencari nafkah, dalam keyakinan saya, pastilah oleh Allah Swt. segalanya akan dipermudah. Sungguh, saya belajar sepenuhnya meyakini firman Allah Ta’ala berikut ini:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. an-Nuur [24]: 32).

Sungguh, firman Allah tersebut memberikan harapan yang sangat besar bagi orang-orang yang beriman. Mari kita cermati sekali lagi kalimat yang memberikan harapan itu, “Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.” Masya Allah…, ini adalah firman Allah! Siapakah yang tidak percaya dan masih meragukan kebenaran firman Allah? Sudah barang tentu, kita tidak ingin masuk ke dalam golongan orang yang meragukan kebenaran firman Allah. Ayat inilah sesungguhnya yang ingin saya katakan kepada pembaca tercinta sebagai pegangan: dalam rangka memberanikan diri untuk menikah.

Bila keinginan atau keberanian untuk menikah sudah ada pada diri seseorang, maka hal pertama dan utama yang mesti dikuatkan sebelum menikah adalah niat. Hal ini sangat berkaitan dengan pertanyaan mendasar, mengapa kita mesti menikah? Dan, menurut saya, alasan utama menikah adalah hendaknya karena agama. Dengan menikah kita menjadi lebih mampu dalam hal menundukkan pandangan. Dengan menikah kita memperoleh ketenteraman jiwa, kasih dan sayang, sehingga mampu atau dapat beribadah dengan baik. Dan, dengan menikah sesungguhnya adalah menyempurnakan keagamaan kita.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Nikah adalah sunnahku, barang siapa yang benci terhadap sunnahku, bukanlah ia termasuk umatku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bukankah nikah adalah sunnah dari Rasulullah Saw. Dan, apabila nikah adalah sunnah Rasulullah, sudah barang tentu melaksanakannya akan bernilai ibadah. Berangkat dari hal-hal demikianlah sesungguhnya niat menjadi sangat penting dan perlu untuk dipancangkan semenjak awal dengan baik.

Demikianlah semoga artikel sederhana ini bermanfaat bagi kita bersama.

Salam bahagia selalu,
Akhmad Muhaimin Azzet

This entry was posted in Menikah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to Indahnya Hidup Setelah Menikah

  1. Anton says:

    Maturnuwun sharingnya pak…Alhamdulillah tgl 24 nanti, adikku mau menikah. mhn doa restunya nggih pak..semoga lancar tanpa halangan dan bisa mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warohmah penuh berkah….

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Alhamdulillah…, ikut senang dengan kabar bahagia ini, Mas. Semoga adik Mas Anton pada tanggal 24 nanti dapat melaksanakan pernikahan dengan lancar dan mendapatkan keberkahan dari Allah Ta’ala. Semoga bisa mewujudkan keluarga yang sakinah; senantiasa bahagia dalam mawaddah warahmah. Allaahumma aamiin….

  2. Lidya says:

    rezeki bertambah pak setelah menikah, sudah saya rasakan sendiri 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mbak Lidya, sungguh saya juga merasakannya. Betapa rezeki lebih lancar setelah menikah 🙂

  3. rina says:

    indahnya pacaran setelah menikah ya pak… jadi ingat dulu waktu setelah menikah setiap hari taaruf terus….

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Mbak Rina, hmmm….. alhamdulillah….
      Semoga senantiasa bahagia dalam rahmat Allah Ta’ala ya, Mbak.

  4. sangat luar biasa pak sharingnya…keinginan untuk menikah itu ada ttpi masih harus menunggu masnya buat melamar…hehehe…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sembari menunggu, maka mari terus memperbaiki diri ya, Mbak, agar yang datang nanti adalah yang terbaik 🙂

  5. Niar Ningrum says:

    Subhanallah, kayak kemarin ada yang ngomongin pernikahan, sama pak rejeki akan allah kasih lebih kalau nikah dengan niat baik 😀

    mempersiapkan untuk siap dilamar ini, jikalau sewaktu2 ada yang ngelamar siap 😀 #eehh nunggu calonnnya duulu pak 😀

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Mbak Niar, insya Allah rezeki akan dikasih lebih oleh Allah Ta’ala 🙂

      Yup! Bersiap untuk dilamar dengan terus memperbaiki diri agar yang datang nanti adalah yang terbaik ya, Mbak. Allaahumma aamiin….

  6. Vera says:

    Menikah itu Ibadan, makanya disegerakan 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sepakat, Mbak Vera, bila sudah waktunya, bila calonnya pun sudah ada, maka sebaiknya disegerakan 🙂

  7. Rugilah org-org yang menunda-nunda pernikahannya 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mas Umar Mansur Ar-Rahimy, makasih banyak ya… 🙂

      • Jgn lupa, istrinya harus solehah. Klo tdk justu bikin sengsara 😀

        Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
        «أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ، وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ: الْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضِّيقُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ»
        “Empat perkara yang membawa kebahagian yaitu: Isteri Shalehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik dan kenderaan yang menyenangkan. Dan empat perkara yang membawa kesengsaraan yaitu: Tetangga yang buruk sifatnya, isteri yang buruk akhlaknya, tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang buruk”. [Sahih Ibnu Hibban]

        • Akhmad Muhaimin Azzet says:

          Iya, Mas, benar sekali. Makasih banyak ya, Mas, atas tambahannya yang penting ini.

  8. Mugniar says:

    Masya Allah maka berbahagialah orang2 yang konsisten setelah menikah karena pasti hidupnya berkah 🙂
    Yang tak konsisten pasti susah 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Semoga demikian ya, Mbak Mugniar. Allaahumma aamiin….
      Sungguh, saya juga percaya akan hal itu 🙂

  9. Fani says:

    Amiin.. semoga saya bisa mengalami apa yang dituliskan di atas…

  10. Pakies says:

    Tepat sekali Pak, bahwa ada banyak kebaikan dalam setiap aspek kehidupan kita setelah menikah, meski awalnya membutuhkan sebuah proses pembiasaan dalam banyak hal. Dan setiap detiknya ternyata bisa mengantarkan kita pada surga dunia dan surga akhirat.
    Maka para pemuda, tunggu apalagi penuhi panggilan indah ini.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Senang sekali dengan kata penutup Pak Ies: Maka para pemuda, tunggu apalagi penuhi panggilan indah ini.

      Hehe, makasih banyak ya, Pak. Sungguh. Salam hangat persaudaraan dari Jogja.

  11. Heri Purnomo says:

    Saya kadang kasihan dengan teman yang masih sendiri di usia yang hampir mencapai 40 tahun atau bahkan ada yang lebih. Namun, mereka seperti takut menikah padahal secara materi tidak ada masalah. Yang memprihatinkan ada semacam pemahaman bahwan tidak menikah adalah sebuah pilihan hidup yang sudah diambilnya dengan segala konsekwensinya. Kalau sudah begitu ya sudah, sulit membantu mereka untuk mencarikan jodoh.. 🙂
    Dengan alasan seperti itu apa mereka termasuk umat yang membenci sunah rasul ya utadz.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Menikah memang merupakan sunnah Nabi. Tapi, sunnah di sini bukan bermakna barang siapa yang melakukan dapat pahala dan yang meninggalkan tidak apa-apa. Karena, menikah bermakna menyempurnakan keberagamaan sekaligus melangsungkan keturunan. Oleh karena itulah Nabi Saw. memerintahkan untuk menikah. Tidak menikah karena pilihan tentu tidak sejalan dengan apa yang diajarkan Nabi Saw. (kecuali belum menikah memang karena belum mendapatkan jodoh)