Nguyahi Banyu Segara

Di serambi masjid seusai shalat Jum’at saya terlibat pembicaraan dengan Ustadz Badrudin. Intinya, saya diminta untuk mengisi pengajian yang diadakan oleh keluarga besar Madrasah Aliyah Negeri tempatnya mengajar.

Saya bertanya, “Di hadapan para murid?”

“Ini khusus guru dan karyawan,” jawab Ustadz Badrudin.

“Waduh, bukankah saya nanti malah nguyahi banyu segara, Ustadz?” saya menyahut.

“Oh, ya nggak, ini yang minta juga Pak Syamsudin kok,” jawab Ustadz Badrudin. Pak Syamsudin adalah ketua takmir di mana Idul Fitri kemarin saya menyampaikan khutbah di sana. Barangkali ia juga guru di MAN tersebut.

Mengapa saya menyampaikan ungkapan Jawa yang berbunyi “nguyahi banyu segara” kepada Ustadz Badrudin? Karena, ungkapan ini secara harfiah berarti “menggarami air laut” yang sudah asin. Hal ini bermakna melakukan sesuatu yang sia-sia atau tidak perlu.

Ungkapan ini saya sampaikan karena Ustadz Badrudin adalah kakak angkatan saya ketika kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN). Demikian pula dengan guru-guru yang lain yang tentunya banyak lulusan IAIN atau UIN. Tidak sedikit dari mereka, di samping menjadi guru madrasah Aliyah, juga berdakwah di daerahnya masing-masing. Nah, bila saya yang masih muda ini mengisi pengajian di hadapan para guru madrasah Aliyah, inilah yang saya maksud dengan ungkapan “nguyahi banyu segara”. Tapi, saya tetap diminta dan akhirnya saya menyanggupi karena ini adalah bagian dari kewajiban saya selaku muslim dalam berdakwah.

Kesadaran Diri dan Perekat Silaturahmi

Dalam kasus sebagaimana saya ceritakan di atas, ungkapan “nguyahi banyu segara” penting untuk dimiliki agar kita mempunyai kepekaan dalam kesadaran diri. Ini penting untuk mengukur kemampuan agar kita tidak “kepedean” yang menjurus kepada sifat sombong.

Dalam kasus yang lain, ungkapan “nguyahi banyu segara” sering muncul dalam percakapan ketika sekelompok karyawan, misalnya, sedang membicarakan undangan yang diberikan oleh seorang bos atau orang kaya.

“Lha kita ini karyawan kecil je, mau nyumbang berapa dalam resepsi pernikahan putrinya si bos?” celetuk salah seorang.

“Ia sudah kaya raya, sumbangan kita ini sama dengan nguyahi banyu segara,” sahut yang lain.

Nah, dalam kasus yang kedua ini, ungkapan “nguyahi banyu segara” hendaknya melahirkan sikap bahwa meskipun kecil jumlahnya yang kita berikan kepada orang lain, terutama kepada yang lebih kaya, adalah bentuk perekat silaturahmi. Bukan jumlahnya yang besar atau kecil. Maka, keliru jika seseorang berusaha untuk memberikan sumbangan harus “mengada-adakan”, misalnya dengan cara berutang, agar apa yang disumbangkan jumlahnya “pantas” diterima oleh orang yang kaya.

Mengapa saya katakan sebagai perekat silaturahmi? Coba kita bayangkan jika orang-orang yang diundang itu banyak sekali yang tidak datang gara-gara merasa sumbangannya kecil sehingga malah “nguyahi banyu segara” atau sia-sia, tentu orang yang mengundang akan malu karena sudah membuat pesta atau resepsi besar, tapi sedikit yang datang.

Ada juga contoh lain dalam masyarakat yang kadang kurang pas dalam memahami ungkapan “nguyahi banyu segara” ini. Misalnya, ketika menengok orang sakit yang kebetulan si sakit secara ekonomi biasa-biasa saja, maka bawaannya juga biasa-biasa saja. Buah jeruk dan apel cukup dibungkus plastik kresek begitu saja. Tapi, bila yang sakit itu orang yang sangat kaya, supaya tidak “nguyahi banyu segara” maka bawaannya tidak cukup jeruk dan apel, tapi ditambah pisang, pir, anggur, dan lainnya. Wadahnya tidak cukup dengan plastik kresek, tapi keranjang yang dirias.

Sungguh, bukan demikian pemahamannya. Kepada orang yang tidak punya mestinya kita memberi lebih banyak karena ia amat membutuhkan. Kepada orang yang sangat kaya, rasa agar tidak “nguyahi banyu segara” bukan berarti harus mengada-ada sesuatu yang di luar kemampuan kita. Kehadiran kita dengan ramah dan ketulusan mendoakan kesehatannya tentu lebih berharga.

Kesimpulannya, “nguyahi banyu segara” hendaknya menjadi ungkapan yang bisa menimbulkan kesadaran positif bagi orang Jawa khususnya, atau bagi kita semua yang ingin memetik pelajaran untuk kehidupan dari ungkapan tersebut.

banner
“Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati”

This entry was posted in Kontes and tagged , , . Bookmark the permalink.

30 Responses to Nguyahi Banyu Segara

  1. angki says:

    wah bener juga ya pak mungkin terkadang kita tak tahu datangnya hidayah dariman bahkan dari sesuatu yg kita anggap kita sudah menguasainya ^-^ keren pak smga sukses ^-^

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Demikianlah, Mas Angki, bila kita memandang positif atas sebuah kejadian. Semoga dengan demikian apa yang kita lakukan pun bermanfaat bagi diri dan orang lain. Terima kasih banyak ya, Mas, telah berkunjung kemari.

  2. Adi Pradana says:

    menggarami air laut yang sudah asin… 😀

  3. Setiap daerah punya ungkapan khas penuh makna.. Masing2 ungkapan kalau kita telisik lebih dalam ternyata mengandung makna positif.. Semoga kita bisa memetik hikmah dari setiap ungkapan tersebut.. Selamat ngikutin GA semoga sukses..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Mbak Rita Asmaraningsih, uangkapan masing-masing daerah merupakah khazanah yang perlu kita ketahui sekaligus akrabi dalam kehidupan sehari-hari.

  4. Susanti Dewi says:

    iya betul Pak Ustadz. Memberi pada org yg biasa2 saja, seharusnya memberinya yg luar biasa.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Nah, inilah Mbak Susanti Dewi, yang perlu menjadi perhatian kita bersama. Sehingga, orang yang kita beri pun merasa sangat berbahagia.

  5. HM Zwan says:

    g terlalu sering saya dengar ungkapan ini pak,tapi pernah..baru tahu detail maknanya disini hehe…nuwun pak sharingnya 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Begitu ya, Mbak HM Zwan. Sama-sama, Mbak, makasih juga telah singgah kemari yaaa.

  6. prih says:

    Permisi, ikutan kulakan uyah dari segara blog Pak A.M.A.
    Pemaknaan nguyahi banyu segara yang tidak berarti upaya sia-sia, mengedepankan kerendahan hati dan empati silaturahmi, luar biasa kekayaan paribasan yang dibabar ini. Matur nuwun

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Ooo, silakan, Mbak Prih, monggo dipilih uyah yang lembut atau yang grosok, hehehe…
      Iya, Mbak, semoga kita bisa memetik pelajaran dari khazanah yang ada di sekitar kita yaa.

  7. nguyahi banyu segara…..makna filosofisnya yang sangat dalam terkadang disalahartikan….., memberikan sesuatu bukanlah dilihat dari seberapa besar pemberian itu…..melainkan..seberapa besar ketulusan pemberian itu….., selamat berlomba..smoga menjadi salah satu yg terbaik…
    keep happy blogging always..salam dari Makassar 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Saya setuju, Pak Hariyanto, ketulusan dalam memberi itulah yang penting dan harus kita miliki. Makasih banyak ya, Pak. Salam dari Jogja.

  8. Pak Ustadz, berarti pas banget ya bila diterapkan dalam dialog berikut ini :
    AMA : lha mbok saya ini diajari ngaji to mba
    UK : walah pak ustadz menika lhooo…nguyahi segara mawon

    kira2 ngaten njih pak hihihii…
    *ngumpet di belakang pakdhe Cholik 😉

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Mbak Unik Kaswarganti, gimana kalau kita bisnis uyah saja ya, Mbak? Saya kirim uyah yang halus maupun grosok terbaik dari Jawa Timur, nanti Mbak Uniek bagian marketing di daerah Semarang, hahaha…

  9. ini yg kadang2 kita lupa ya bang,,kita bingung mikir mo ngasih apa ke orang kaya,,pdhl bs jd pmberian kita ya “nguyahi banyu segara” aja, tp klo mo ngasih ke org biasa2 kita asal aja,,gak pake mikir,,pdhl justru mereka yg harus kita kasih lebih,,

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Hal inilah, Mbak Tita, yang membuat saya akhirnya menulis masalah “nguyahi banyu segara” ini. Makasih banyak ya, Mbak, atas kunjungannya. Salam dari Jogja.

  10. hanifmahaldi says:

    Analisa mendalam ya pak. Setidaknya, kita perlu untuk mendalami tindakan lebih lanjut agar tidak sia2, atau justru malah menjadi sia2 jika tidak dikerjakan. Ya, semua butuh penalaran dan pemahaman.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terima kasih banyak ya, Mas Hanif Mahaldi. Memang benar, Mas, pemahaman kita terhadap sesuatu hal itu penting sekali sebelum kita melakukan atau tidak melakukan suatu hal. Makasih telah singgah ya, Mas.

  11. Idah Ceris says:

    Ambil positifnya saja ya, Pak. Ajang silaturrahin. 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Betul sekali, Mbak Idah Ceris. Silaturahmi itu tentu penting sekali, dan ini mestinya yang kita pilih.

  12. cputriarty says:

    senang juga membaca artikel yang begitu menginspirasi ini…sukses ya Pak Azzet:)

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Tentunya saya juga senang blog sederhana ini dikunjungi panjenengan. Makasih banyak ya, Mbak Putri. Salam kreatif dan sukses.

  13. Nova Novili says:

    sebenarnya gak ada yang sia-sia ..jika kita memahami sisi baiknya…, walau yang diajar ngaji orangnya juga memiliki pemahaman yang sama.. paling tidak mengingatkan kembali ..jika ada yang terlupa atau sama-sama memahami kembali…
    bukankh lancar kaji karena diulang,,,, 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Mbak Nova Novili. Dengan demikian, saya sesungguhnya juga mengulang sekaligus belajar kembali. Makasih banyak ya, Mbak 🙂

  14. eksak says:

    kalo dalam ngaji dan dakwah, anggep aja itu sharing dan musyawarah. yg penting ojo dumeh aja, Kang. ojo dumeh pinter banjur keblinger, itu yg gk bener. 🙂

  15. Yusron Fauzi says:

    Kalo orang Sunda bilang, “mapatahan ngojay ka meri”, makna luasnya seperti pejelasan di atas…

    Senang bisa bersikaturahim lagi.
    Salam ta’dzim dari Garut

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Ooo, mapatahan ngojay ka meri ya, Mas Yusron Fauzi. Alhamdulillaah, tentu saya juga senang dikunjungi panjenengan. Salam ta’dzim juga dari Jogja ya, Mas.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *