Sakit Dibohongi Lebih Perih daripada Dipoligami

Tasuba, tahu susu bakso, tahu bakso istimewa, oleh2 jogja, oleh2 khas jogja

Gambar ini tidak ada hubungannya dengan materi tulisan. Jadi, ini murni iklan. Namanya TASUBA (Tahu Susu Bakso), oleh-oleh istimewa dari JOGJA.

 

Setelah membaca berita di sebuah media, dua wanita itu bercakap-cakap di sebuah teras rumah.

A : Sakit dibohongi itu lebih perih daripada dipoligami.

B : Jadi, lebih baik bila suami terus terang ya?

A : Kejujuran itu dasar bagi hubungan yang ingin sehat. Lebih baik terus terang di depan daripada diam-diam main di belakang.

B : Beneran nih bila ini terjadi padamu?

A : Mengapa tidak. Aku akan bilang silakan. Setelah itu, minta udahan.

B : Maksudmu?

A : Ya, udahan lah, siapa yang mau diduakan.

B : Lho, katanya tadi asal terus terang di depan. Berarti sama saja dong endingnya.

A : Ya bedalah. Bila terus terang di depan kan tidak perlu hati ini sakit karena dibohongi.

B : Ooo…

#hanyaFiksi

Tulisan pendek ini tidak sedang mengangkat setuju atau tidak soal poligami. Pesan singkatnya adalah betapa penting membangun komunikasi yang baik antara suami dan istri. Itu saja. Maka, tak perlu #baper, hehehe…

Akhirnya, semoga bahagia selalu. Salam dari Jogja.

This entry was posted in Keluarga and tagged , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Sakit Dibohongi Lebih Perih daripada Dipoligami

  1. nova says:

    ya ustd..kalo jujurkan lebih gampang proses menuntutnya…#Eh hahaah

  2. Ruli retno says:

    Hehehehe.. Saya serius banget mbaca nya.. Setuju pak ustadz.. Sebenarnya keduanya ga ada yg enak. Tp komunikasi itu ptg bgt

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Hehehe, ini memang masalah serius, Mbak Ruli Retno. Betul, dengan komunikasi yang baik maka masalah-masalah dapat diatasi dengan baik.

  3. Rizma Nurani says:

    Dari fb njenengan saya langsung melipir kesini ust.. Yaa pentingnya menjalin komunikasi antar pasutri itu ga hanya terbatas membicarakan mslh anak ato kebutuhan rumah tangga saja, tp ada kebutuhan hati yg hrs terpenuhi.. Harus ada keterbukaan satu sm lain… Kalo jujur apa adanya tentu rasa sakit hati krn dipoligami akan bisa diminimalisir.

    Berkaca dr kasus e Ust Alhabsyi , yg kuherankan kok hebatnya menutupi pernikahan selama 7 thn. What a great lying that never guess before. Bagaimana cara dia menutupi pernikahan padahal bila setiap hr setiap saat bersama istri dan anak2nya? Bagaimana dia pula membohongi perasaannya sendiri, mengatakan cinta pada istri (pertama) nya, padahal ada istri lain yg juga dia cintai diluar sana bahkan sampai punya 2 anak hasil pernikahan mereka. Saya rasa, seperti ini bukanlah poligami yg di contoh kan Rasulullah SAW. Ini tdk lebih dari perselingkuhan berkedok poligami, padahal sejatinya poligami yg dilakukan Rasulullah tdk demikian.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Hehe, makasih banyak ya, Mbak Rizma Nurani, telah melipir kemari. Yup, betul sekali, Mbak, betapa penting komunikasi yang baik antara suami istri. Bahkan, seandainya suami ingin melakukan poligami, bila ada komunikasi yang baik maka masalah-masalah dapat dibicarakan sejak awal. Dengan demikian, semoga dapat membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

  4. kania says:

    hehe, endingnya tetap sama tapi jujur dikedepankan 🙂

  5. Duh, kehabisan kata saking bapernya aku … #padahal sdh dilarang baper

  6. Santi Dewi says:

    Hehehe… komunikasi yg baik dgn pasangan salah satunya memang harus jujur 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Betul sekali, hal yang tak lepas dari komunikasi yang baik di antaranya adalah kejujuran.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *