Seorang Kiai Menangis Gara-Gara Tukang Cendol

bunga wijaya kusuma, akhmad muhaimin azzetDi sebuah malam seorang kiai di daerah Magelang ditelpon sahabatnya bahwa esok pagi ada rombongan ulama dari Jawa Tengah yang akan singgah ke pesantrennya.

Karena sudah malam persiapan untuk menjamu tamu pun sepertinya mepet dilakukan. Sang kiai lalu merencanakan bersama istrinya untuk mencegat si mbok bakul cendol usai shalat Shubuh yang biasanya lewat depan pesantren menuju pasar.

Benar, usai shalat Shubuh, tak lama setelah ditunggu si mbok bakul cendol pun lewat dan dihentikan kiai dan bu nyai.

“Mbok, ini saya mau kedatangan rombongan tamu, cendolnya saya beli semua nggih?” kata sang kiai.

“Mohon maaf, Pak Kiai, bila beli sebagian monggo. Tapi, jangan semua. Bila dibeli semua, nanti kasihan bakul-bakul yang biasanya beli untuk dijual lagi, kasihan mereka tidak dapat uang untuk sangu anak-anaknya sekolah,” jawab si mbok bakul cendol.

Mak nyess. Jawaban si mbok bakul cendol begitu masuk ke hati sang kiai. Ia tidak kuat, mempersilakan istrinya untuk meneruskan beli cendol, dan ia bergegas masuk rumah dan ke kamar.

Di dalam kamar sang kiai menangis di hadapan Allah Swt. Betapa ia mendapat pelajaran berharga dari si mbok bakul cendol yang bekerja tidak hanya mencari keuntungan pribadi, tapi juga memikirkan nasib orang lain.

Jika mau, si mbok bakul cendol tentu lebih untung karena pagi-pagi dagangannya sudah habis, tapi ia lebih memilih untuk menjual sebagian dan melanjutkan jualan seperti biasanya di pasar menunggu para pembeli lainnya.

Sungguh, ini adalah kebaikan yang mungkin tampak sederhana, tapi sejatinya ini luar biasa.

Sobat, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah nyata ini.

(Kisah ini saya tulis setelah mendapatkan cerita secara lisan dari Ustadz Khiyaruddin Abbas pada hari Jum’at di Masjid Al-Muhtadin, Perum Purwomartani).

Salam hangat dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

This entry was posted in Hikmah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Seorang Kiai Menangis Gara-Gara Tukang Cendol

  1. angkisland says:

    masha Allah pak ini sangat mengingatkan sekali…. teriam kasih pak…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Alhamdulillaah…, sama-sama ya, Mas Angki, makasih juga telah singgah kemari.

  2. Lidya says:

    biasanay malah pembeli senang diborong semua ya, tapi si mbok ini memikirkan orang lain salut sekali

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Itulah, Mbak Lidya, si mbok penjual cendol itu memang luar biasa. Saya juga salut kepada beliau.

  3. Jarang ada orang yang memikirkan orang lain terlebih dulu di Jaman sekarang:) Rsepect 😀

  4. Titik Asa says:

    Mas, apa kabar?
    Pelajaran ttg kehidupan sering didapat dari orang2 sederhana. Seperti dari si mbok tukang cendol itu. Ia masih memikirkan orang lain, padahal ada kesempatan untuk segera menghabiskan dagangannya dan pulang ke rumah.
    Apa yg mbok itu lakukan, bertentangan dgn hukum ekonomi ataupun perdagangan. Apa yg mbok lakukan berada jauh diatas nalar manusia biasa.
    Luar biasa. Ternyata masih ada tokoh seperti mbok ini.
    Mbok ini guru kehidupan. Seperti yg beberapa saya temukan juga di sukabumi, yg pernah saya tuliskan di blog.

    Salam persahabatan dari saya di Sukabumi,

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Pak Titik Asa, orang semacam si mbok bakul cendol itu adalah guru kehidupan. Sungguh, kita perlu berguru kepada beliau atau kepada pelaku yang mempunyai keikhlasan semacam itu. Terima kasih banyak ya, Pak, telah singgah kemari. Rasanya lama tak bersua ya, Pak. Alhamdulillaah… kabar saya baik. Semoga demikian dengan Pak Titik Asa dan keluarga. Aamiin…

  5. Android says:

    Subhanaallah sebuah cerita yang sangat inspiratif sekali gan, membuat kita sadar bahwa bekerja bukan semata-mata mencari uang saja tapi kita juga bisa berbuat baik seperti cerita di atas yang di lakukan oleh pedagang cendol,,

  6. pesannya debgitu dalam dan seringkali kita memang lupa ya kang. Terima kasih sudah diingatkan..

  7. Asli..merinding ane bacanya..semoga kita bisa meniru hal yang dilakukan oleh mbok cendol..:)