Pilot Air Asia, Kematian, dan Persiapan Kita

Kemarin Rabu malam Kamis ngaji rutin di Masjid Ar-Rahman. Sebelum ngaji dimulai, bersama ketua takmir dan ibu-ibu membincang ihwal kematian. Suasana duka menggetarkan kami. Karena pilot Air Asia itu adalah putra dari Bu Warto yang rajin ngaji bersama kami. Seminggu sebelumnya anak Bu Warto yang kedua juga kembali kepada-Nya.

Tadi pagi, saat di rumah saya menerima tamu, yakni seorang sahabat yang sekian tahun tidak ketemu, tiba-tiba ada seorang ibu datang ke rumah. Menyampaikan berita yang nyaris tangisnya pecah di depan pintu. Ternyata Pak Yudi, tetangga sekaligus jamaah Masjid Al-Muhtadin yang rajin ke masjid, terkena serangan jantung saat main tenis di lapangan perumahan, dan meninggal dunia saat dibawa ke RSI.

Innalillahi wainna ilaihi raji’un….

Bila sudah waktunya, siapa pun tak bisa mengelak. Demikian pula dengan kita. Sudahkah kita melakukan persiapan untuk kembali? Untuk kehidupan yg abadi. Mari, terus kita memperbaiki iman ini sembari memperbanyak amal shalih setiap hari.

Untuk Pak Irianto (pilot Air Asia), untuk Pak Yudi (jamaah Masjid Al-Muhtadin), dan untuk saudara-saudara kita yang telah kembali kepada-Nya, mari kita doakan. Al-Faatihah…

(Ditulis pada Kamis malam Jum’at, di awal Januari 2015, dengan hati yang bergetar)

This entry was posted in Hikmah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

25 Responses to Pilot Air Asia, Kematian, dan Persiapan Kita

  1. Nova says:

    Aamiin, ALfatihah send>>>

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Mbak Nova, semoga doa kita dikabulkan oleh Allah Swt.

  2. Adi Pradana says:

    Innalillahi wainna ilaihi roji’un…
    Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT. Amin ya rabbal alamin…

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Terima kasih banyak ya, Mas Adi Pradana.
      Allaahumma aamiin…

  3. Irowati says:

    Pertanyaan yang selalu dan harus kita tujukan kpd kita setiap detik, agar selalu ingat kepada-Nya,serta selalu berusaha mengumpulkan bekal menuju kampung abadi.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mbak Irowati. Agar kita tak lupa bahwa hidup di dunia ini hanya sementara dibanding akhirat yang abadi. Semoga dengan demikian, kita sadar dan selalu mempersiapkan diri untuk kembali.

  4. Innalillahi wainna ilaihi roji’un

    Semoga keluarga diberi ketabahan 🙂

    Al Fatihah

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Mas Muhammad Rifqi Saifudin, makasih yaaa.
      Allaahumma aamiin…

  5. Lidya says:

    Al Fatihah. Ikut mendoakan juga pak

  6. nurri says:

    Ada yang pernah bilang, “Hidup itu menunggu mati”.
    Maka dari itu kita harus mempersiapkannya.

    Semoga mereka yang telah mendahului kita diterima disisi Allah SWT. Diampuni dosanya, diterima amal ibadahnya. Amin 🙂

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Benar sekali, Mbak Nurri, sebab setiap yang berjiwa akan mati. Oleh karena itu, mari terus mempersiapkan diri.

      Allaahumma aamiin…

  7. dani says:

    Innalillaahiwainnaailaihiraajiuun. Mengaminkan doanya njenengan Pak Ustadz dan maturnuwun diingatkan. Salah satu adik kelas angkatan kuliah saya juga jadi korban. Semoga Almarhum diampuni dosadosanya dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Sama-sama, Mas Dani, mari saling mengingatkan dan mendoakan. Semoga adik kelas angkatan kuliah panjenengan juga bahagia di sisi-Nya. Aamiin…

  8. Pakde Cholik says:

    Malaikat pencabut nyawa dalam menjalankan tugasnya berpedoman pada “3 Tidak”
    -Tidak peduli siapa kamu
    -Tidak peduli berapa umurmu
    -Tidak peduli sedang apa kamu.

    Jika sudah tiba waktunya langsung cabut mak brut gitu saja
    Makanya yang muda nggak boleh bilang :”Santai saja, saya kan masih muda.”

    Terima kasih pencerahannya.
    Salam hangat dari Surabaya

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Wah, pedoman “3 tidak” ini bisa untuk bahan ngaji. Saya pake nggih, Pakde, dan tentu saja tetap saya sampaikan bahwa ini saya mendapatkan dari Pakde Cholik Surabaya 🙂

      Terima kasih juga telah singgah kemari nggih, Pakde.

  9. adib says:

    Qul innal mautalladzina asrofu….

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Qul innal mautal ladziina tafirruuna minhu, fainnahuu mulaakiikum…

  10. Hmm..saya juga ikutan bergetar membacanya mas..umur kita memang faktanya ada di detik ini, detik selanjutnya menjadi hak otonom Allah ya..

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mbak Kartika Ika Sari, demikianlah hakikatnya. Makasih banyak yaaa.

  11. Titik Asa says:

    Innalillahi wainna ilaih roji’un…
    Turut berduka cita kepada keluarga yang ditinggalkan yang rupanya jamaah pengajian Mas Azzet.
    Tentang kematian dan persiapan kita? Ah ini menjadi bahan renungan saya pagi ini Mas, apalagi mengingat usia saya yang sudah kepala 5 ini…

    Salam dari jauh Mas,

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Pak Titik Asa. Ayahnya adalah yang biasa menjadi imam shalat di masjid tersebut, sedangkan ibunya yang sering ngaji bareng saya. Makasih banyak ya, Pak Titik Asa. Semoga kita selalu bersiap dengan memperbanyak amal shalih.

      Salam dari Jogja ya, Pak.

  12. Innalillahi wainna ilaihi rooji’un…dunia semakin melenakan ya, sehingga sesuatu yang dekat dengan kita pun terasa masih sangat jauh…Jazaakalloh pak sudah mengingatkan..Marii kita berbekal

    • Akhmad Muhaimin Azzet says:

      Iya, Mas Atep Firmansyah, di samping dekat, ketentuan maut adalah hal yang pasti. Semoga pelajaran demi pelajaran menjadikan kita sadar untuk semakin bersiap menghadapinya.

  13. Anton says:

    Semoga nanti pada saatnya datang giliran, kita sudah siap dan dlm keadaan ridha dg segala kehendak-NYA. Terkadang msh lupa akan tamu yg pasti datang ini, lupa untuk memberikan sambutan agar kita dapat kembali dlm kondisi terbaik. Maturnuwun tadz..sudah di ingatkan…